Pasien dengan penyakit pencernaan kronis seperti IBD tidak boleh berpuasa
Inflammatory Bowel Disesase (IBD) atau radang usus adalah salah satu penyakit autoimun pada saluran cerna. Radang usus memang tidak bisa benar-benar sembuh. Akan tetapi, gejala radang usus pada pasien dapat berkurang dan hilang (remisi) dengan terapi obat dan mengurangi risiko timbulnya kekambuhan dengan menghindari faktor-faktor pencetus seperti merokok, konsumsi makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan rendah serat. Jika Anda memiliki riwayat penyakit radang usus dalam keadaan remisi dan tidak kambuh, maka Anda boleh berpuasa. Namun, ketika gejala radang usus sedang timbul, seperti nyeri perut, diare, dan keluhan perut lainnya maka jangan paksakan diri Anda untuk berpuasa serta temui dokter untuk terapi selanjutnya.
.
Baca juga: 5 Hal Penting Bagi Pasien Peradangan Usus (IBD) yang Ingin Berpuasa
.
Langsung tidur setelah sahur tidak bermasalah bagi saluran cerna
Setelah makan sahur, lambung kita akan mengembang karena terisi oleh makanan. Selain berisi makanan, lambung juga akan memproduksi asam lambung untuk membantu mencerna makanan. Ketika Anda langsung tidur setelah makan dengan posisi berbaring, maka tekanan di dalam lambung akan meningkat dan menyebabkan isi lambung naik ke kerongkongan. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa panas terbakar di dada akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan. Jika hal tersebut terjadi terus-menerus maka lapisan dinding kerongkongan dapat terluka dan menyebabkan esofagitis atau radang pada kerongkongan.
.
Langsung makan berat saat berbuka puasa aman bagi saluran cerna
Saat berbuka puasa, kerja sistem pencernaan yang melambat selama berpuasa akan kembali aktif untuk mencerna makanan yang masuk. Saluran cerna membutuhkan waktu untuk kembali mencerna makanan oleh karenanya tidak dianjurkan langsung mengonsumsi makanan berat. Mengonsumsi makanan dalam jumlah besar saat berbuka menyebabkan sistem pencernaan dipaksa untuk bekerja keras. Hal itulah yang dapat menimbulkan masalah pencernaan seperti rasa mual, begah, dan nyeri perut saat berbuka. Mulailah berbuka puasa dengan kurma atau makanan ringan lainnya, dan tunggu sekitar 1 – 2 jam untuk memulai makan makanan berat.
.
Puasa Ramadan adalah momentum yang tepat untuk mengatur pola makan Anda. Setelah membaca artikel ini, diharapkan Anda yang memiliki masalah pencernaan menjadi tidak takut lagi untuk menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan ini.
.
Referensi
Mardhiyah, R., Makmun, D., Syam, AF., Setiati, S. 2016. The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease. Acta Med Indones-Indones J Intern Med, 48 (3): 169-174.
Rahimi, H., Mohammad, EH., Alireza, F., Najmeh, T., Baradaran, M., Elnaz, SM., Mirmosayyeb, O. 2017. Effects of Ramadan Fasting on Dyspepsia Symptoms. Govaresh Journal of Iranian Association of Gastroenterology and Hepatology, 22(4):188-194.
Singh RK, Chang HW, Yan D, et al. 2017. Influence of diet on the gut microbiome and implications for human health. J Transl Med, 15(1):73.
Tavakkoli H, Haghdani S, Emami MH, Adilipour H, Tavakkoli M, Tavakkoli M. 2008. Ramadan fasting and inflammatory bowel disease. Indian J Gastroenterol. 27(6):239-41.

Leave a Reply