Penulis: Prof. dr. Marcellus Simadibrata Kolopaking, PhD, SpPD, K-GEH, FINASIM, FACG, FASGE
Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah kelompok penyakit peradangan kronis pada saluran cerna yang terutama mencakup penyakit Crohn (Crohn’s disease) dan kolitis ulseratif (Ulcerative Colitis). IBD dapat terjadi akibat terjadinya respons sistem imun tubuh yang abnormal sehingga menyebabkan peradangan pada saluran cerna dalam jangka waktu yang panjang. Ada beberapa faktor yang diyakini dapat menjadi penyebab terjadinya dan berkembangnya IBD pada seorang individu, antara lain faktor lingkungan, genetik, mikrobiota usus, dan sistem imun tubuh.
IBD dapat terjadi pada segala kelompok usia, tetapi paling sering ditemukan pada usia remaja dan dewasa muda. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kejadian IBD semakin meningkat secara global. Peningkatan kasus IBD ini diduga berkaitan dengan perubahan pola makan yang semakin tidak sehat, factor pencetus stres dari dalam dan luar tubuh, penggunaan antibiotik yang masif, serta perubahan gaya hidup sedentary yang memengaruhi keseimbangan mikroorganisme di dalam usus.
Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD)
Gejala IBD sangat bervariasi tergantung jenis dan tingkat keparahan penyakit. Keluhan yang paling umum dialami antara lain seperti diare kronis yang berulang, nyeri perut, penurunan berat badan yang signifikan, dan adanya bercak darah pada tinja. Pada penyakit Crohn, peradangan dapat terjadi di seluruh saluran cerna, mulai dari mulut hingga anus, sedangkan pada kolitis ulseratif peradangan lebih banyak menyerang bagian usus besar.
Selain gejala pada saluran cerna, IBD juga dapat menimbulkan gejala lain di luar saluran cerna. Beberapa pasien dapat mengalami kelelahan berulang, nyeri pada tulang atau persendian, permasalahan kulit, gangguan penglihatan, hingga masalah pada liver dan saluran empedu. Oleh karena itu, IBD dapat menimbulkan manifestasi di luar saluran cerna sehingga memengaruhi berbagai organ tubuh.
Inflammatory Bowel Disease (IBD) bisa menimbulkan komplikasi usus (perdarahan, striktur perforasi, fistula, polyp tumor kanker) atau luar usus (kekentalan darah, hati, ginjal , kulit, sendi, mata,dll). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa IBD dapat mengganggu kualitas hidup penderita. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat sangat penting untuk membantu mengendalikan penyakit serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
Bagaimana Diagnosis IBD Ditegakkan?
Penegakan diagnosis IBD memerlukan penggalian riwayat medis secara mendalam, pemeriksaan fisik yang komprehensif, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan pencitraan saluran cerna, hingga pemeriksaan endoskopi bila diperlukan. Riwayat gejala yang berlangsung lama menjadi petunjuk penting dalam proses diagnosis. Pemeriksaan darah dapat menunjukkan tanda peradangan atau anemia (kadar hemoglobin yang rendah), sementara pemeriksaan feses dapat membantu mendeteksi adanya peradangan usus dan menyingkirkan kemungkinan infeksi.
Pemeriksaan endoskopi, khususnya kolonoskopi, merupakan salah satu metode utama untuk menegakkan diagnosis IBD. Melalui prosedur ini, dokter dapat melihat langsung kondisi lapisan usus dan mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk pemeriksaan mikroskopis secara histopatologi. Hasil biopsi ini akan membantu membedakan IBD dari penyakit lain yang memiliki gejala serupa, seperti infeksi usus atau sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS).
Selain endoskopi, teknologi pencitraan seperti CT scan enterografi dan MRI enterografi semakin berkembang dan juga banyak digunakan, terutama pada pasien penyakit Crohn atau pada pasien yang tidak dapat menjalani pemeriksaan endoskopi karena beberapa factor. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai bagian usus yang sulit dijangkau dengan tindakan endoskopi serta mendeteksi komplikasi seperti penyempitan usus, adanya abses atau nanah, atau adanya sambungan yang abnormal pada saluran cerna (fistula).
Penanganan IBD
Penanganan IBD bertujuan mengendalikan proses peradangan, mengurangi gejala, mencegah kekambuhan, dan mempertahankan kualitas hidup pasien. Terapi yang digunakan dapat berupa obat-obatan antiinflamasi, kortikosteroid, maupun terapi imunomodulator, yang bekerja secara spesifik untuk mencegah terjadinya peradangan jangka panjang. Pemilihan terapi disesuaikan dengan jenis penyakit, tingkat keparahan, lokasi peradangan, dan respons pasien terhadap pengobatan sebelumnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan pengobatan IBD mengalami perkembangan pesat. Terapi biologik dan small molecules drugs (SMDs) telah memberikan harapan baru bagi pasien dengan penyakit sedang hingga berat. Selain itu, konsep treat-to-target semakin diterapkan, yaitu strategi pengobatan yang tidak hanya berfokus pada perbaikan gejala, tetapi juga pada penyembuhan mukosa usus yang bertujuan untuk mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.
IBD Dapat Dikendalikan
Meskipun IBD merupakan penyakit kronis yang pengobatannya dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, sebagian besar pasien dapat menjalani kehidupan yang aktif dan produktif dengan penanganan yang tepat. Diagnosis dini, pemantauan secara berkala, kepatuhan terhadap pengobatan yang diberikan, serta pola hidup sehat memainkan peran penting dalam mengendalikan perjalanan penyakit.
Referensi:
- Bruner LP, White AM, Proksell S. Inflammatory Bowel Disease. Prim Care. 2023 Sep;50(3):411-427. doi: 10.1016/j.pop.2023.03.009. Epub 2023 May 10. PMID: 37516511.
- Hemmer A, Forest K, Rath J, Bowman J. Inflammatory Bowel Disease: A Concise Review. S D Med. 2023 Sep;76(9):416-423. PMID: 37738497.
- Cosín-Roger J. Inflammatory Bowel Disease: Immune Function, Tissue Fibrosis and Current Therapies. Int J Mol Sci. 2024 Jun 11;25(12):6416. doi: 10.3390/ijms25126416. PMID: 38928122; PMCID: PMC11203598.

Leave a Reply