Apakah Konsumsi Makanan dan Minuman Manis Dapat Memengaruhi Saluran Cerna?

Sumber gambar: freepik.com

Makanan dan minuman manis yang mengandung tinggi gula memang menjadi favorit banyak orang, bahkan beberapa orang sulit untuk melepaskan kebiasaan untuk mengonsumsinya. Makanan dan minuman manis memang memiliki manfaat untuk memasok sumber energi bagi tubuh sehingga badan akan terasa lebih bersemangat untuk menjalani hari. Selain memberikan manfaat bagi tubuh kita, nyatanya mengonsumsi makanan dan minuman manis berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti obesitas, kencing manis, bahkan penyakit jantung. Tidak hanya itu, ternyata makanan dan minuman manis juga dapat mengganggu sistem pencernaan kita, loh!

.

Berapa banyaknya gula yang sebaiknya kita konsumsi per hari?

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan penggunaan gula per hari sebanyak 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan. Selain dari Kementrian Kesehatan, asosiasi kesehatan dunia (WHO) juga mengeluarkan rekomendasi terkait konsumsi gula sebagai berikut:

  • Pengurangan konsumsi gula sebisa mungkin selama kehidupan
  • Pada dewasa dan anak, konsumsi gula dibatasi maksimal 10% dari total energi
  • Pengurangan konsumsi gula hingga 5% dari total energi apabila mampu

Gula yang dimaksud adalah gula bebas. Berdasarkan WHO, gula bebas berarti semua monosakarida dan disakarida yang ditambahkan ke makanan dan minuman oleh pabrik/ pemasak/ konsumen, maupun gula yang secara natural terdapat di dalam madu, sirup, dan jus buah.

.

Mengapa makanan dan minuman tinggi gula dapat mengganggu sistem pencernaan?

Tidak banyak yang tahu bahwa asupan gula yang kita konsumsi dapat memengaruhi jumlah bakteri dalam usus kita. Makanan dan minuman manis yang mengandung tinggi gula dapat menurunkan jumlah bakteri baik dan meningkatkan jumlah bakteri jahat sehingga terjadi kondisi yang tidak seimbang. Ketidakseimbangan bakteri dalam saluran pencernaan memicu terjadinya penurunan kekebalan pada saluran cerna dan tubuh, peningkatan peradangan, serta mengganggu integritas lapisan usus. Dampak yang terjadi apabila kita tidak membatasi makanan minuman yang manis adalah sistem pencernaan kita akan lebih rentan sakit yang ditandai dengan timbulnya keluhan seperti kram atau nyeri perut, diare, sembelit, perut terasa penuh, dan keluhan lainnya. Mengonsumsi makanan dan minuman manis berlebihan dianggap sebagai salah satu faktor risiko timbulnya penyakit iritasi dan radang pada usus. Diet tinggi gula juga dapat memperberat keluhan bagi orang yang sudah memiliki penyakit tersebut sebelumnya.

Selain itu, gula memiliki efek osmotik di dalam usus yang menarik air sehingga apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan keluhan diare dan jika tidak diimbangi dengan minum air putih yang cukup maka dapat menimbulkan suatu kondisi kekurangan cairan atau dehidrasi. Makanan dan minuman manis yang berlebihan sulit dicerna dan berakhir didalam perut untuk jangka waktu yang lebih lama sehingga dapat menimbulkan keluhan gas berlebihan, kembung, mulas, dan gangguan pencernaan lainnya. Asupan yang berlebihan juga dapat menyebabkan gangguan pergerakan lambung yang menyebabkan makanan sulit untuk dilanjutkan ke saluran berikutnya. Penyakit ini disebut dengan gastroparesis. Penyakit ini diduga diakibatkan karena rusaknya saraf disekitar saluran pencernaan akibat kondisi kadar gula darah yang tinggi pada tubuh. Penyakit ini merupakan komplikasi dari penyakit kencing manis. Sehingga, untuk mencegah dan tidak memperberat gangguan pergerakan lambung, para penderita kencing manis harus memberikan perhatian ekstra pada dietnya dan membatasi makanan dan minuman yang manis.

.

Bagaimana cara mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula?

Penggunaan gula atau pemanis dalam makanan dan minuman kita harus ada batasannya demi kesehatan tubuh kita termasuk saluran cerna. Bila Anda merasa mengurangi gula dalam konsumsi keseharian adalah hal yang rumit, berikut beberapa tips oleh Kementrian Kesehatan yang dapat Anda terapkan untuk membatasi asupan gula Anda:

  • Batasi konsumsi makanan atau minuman yang memiliki gula tambahan dalam sajiannya, seperti yang bisa kita temukan pada minuman bersoda, permen, cemilan manis, hingga jus buah yang diberikan pemanis tambahan. Pilihlah makanan manis dalam bentuk yang asli contohnya pada buah-buahan segar
  • Baca nilai informasi gizi dari setiap makanan atau bahan makanan yang Anda beli, sehingga Anda bisa menakarnya sesuai dengan anjuran
  • Bagi Anda yang memiliki penyakit kencing manis, sebaiknya rutin mengontrol asupan gula per hari melakukan pengecekan gula darah. Hal ini juga dapat membantu untuk mengetahui reaksi tubuh saat mengonsumsi makanan dan minuman manis
  • Mulai hidup sehat. Anda bisa melakukan dasar dari gaya hidup sehat seperti beraktivitas fisik secara rutin, mengontrol porsi makan, beristirahat yang cukup, dan mengelola stress

.

Gula memang zat yang kita butuhkan sehari-hari sebagai salah satu sumber energi kita. Konsumsi makanan dan minuman yang manis adalah hal yang wajar dan dibolehkan, namun konsumsilah secara bertanggung jawab dengan menyesuaikan sesuai kebutuhan energi dan kondisi tubuh kita. Manisnya hidup akan mengalahkan manisnya gula bila kita mampu menjaga kesehatan.

.

Referensi
Di Rienzi, S., Britton, R. 2019. Adaptation of the Gut Microbiota to Modern Dietary Sugars and Sweeteners. Advances in Nutrition, 11(3), pp.616-629.

Kementrian Kesehatan RI. 2019. [online] Available at: <https://promkes.kemkes.go.id/cara-mengurangi-asupan-gula-setiap-hari#>

Kementrian Kesehatan RI. 2020. [online] Available at: <https://promkes.kemkes.go.id/cara-mengurangi-asupan-gula-setiap-hari#>

Satokari, R.2020. High Intake of Sugar and the Balance between Pro- and Anti-Inflammatory Gut Bacteria. Nutrients, 12(5), p.1348.

Schwarz, S. 2020. Obesity In Children Treatment & Management: Approach Considerations, Behavioral Treatment, Lifestyle Modifications, Exercise, And Physical Activity. [online] Emedicine.medscape.com. Available at: <https://emedicine.medscape.com/article/985333-treatment>

WHO, 2015. Guideline: Sugars Intake For Adults And Children. Manila: WHO Regional Office for the Western Pacific.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*