Apa saja penyebab seseorang sendawa terus-menerus?
Sendawa setelah makan merupakan hal normal. Namun, jika sendawa terus-menerus bisa jadi tubuh Anda sedang bermasalah. Berikut beberapa penyakit yang dapat membuat orang sendawa terus menerus.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
GERD adalah kondisi ketika otot bagian bawah kerongkongan melemah sehingga asam lambung dapat dengan mudah naik ke kerongkongan seseorang. GERD dapat menyebabkan seseorang lebih sering bersendawa. Beberapa ilmuwan percaya bahwa penderita GERD sering memaksa udara keluar dari perutnya dengan sendawa baik secara sadar atau tidak sadar untuk meredakan gejalanya.
Dispepsia
Keluhan sendawa dilaporkan pada 80% populasi yang memiliki dispepsia. Dispepsia merupakan suatu kumpulan gejala yang digambarkan sebagai rasa tidak enak pada perut yang menetap atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, kembung, dan dada terasa panas tanpa adanya luka dan tidak disertai penyebab yang jelas. Studi menunjukkan bahwa penderita dispepsia lebih banyak dan sering menelan udara dibandingkan orang sehat. Sering menelan udara mungkin merupakan respon penderita dispepsia terhadap sensasi perut yang tidak enak.
Helicobacter pylori
Helicobacter pylori adalah bakteri yang menjadi penyebab utama penyakit tukak lambung. Bakteri ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan terutama lambung. Gejala yang terjadi apabila terinfeksi oleh bakteri ini adalah perut terasa sakit atau perih, kehilangan selera makan, mual, penurunan berat badan, kembung, peningkatan gas, dan sering bersendawa. Pada infeksi yang lama dan kasus yang parah, bakteri ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pada lambung.
Baca juga: Helicobacter pylori: Bakteri yang dapat menyebabkan Luka pada Saluran Cerna
Hiatal hernia
Bagian dada dan perut kita dipisah oleh otot diafragma. Hiatal hernia adalah kondisi ketika bagian atas lambung masuk ke area dada melalui lubang diafragma (hiatus). Hiatal hernia terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada otot diafragma seperti saat batuk kencang, muntah, mengejan, dan mengangkat beban berat. Siapapun dapat berisiko mengalami hiatal hernia, namun penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita, orang dengan obesitas, dan lansia. Akibat kondisi ini, asam lambung jadi lebih mudah naik, sehingga muncul gejala rasa panas diperut, nyeri dada, dan sering sendawa. Beberapa orang juga merasa lebih sulit untuk menelan.
Intoleransi laktosa
Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang disebabkan ketidakmampuan untuk mencerna laktosa, suatu karbohidrat utama pada produk susu. Penderita intoleransi laktosa tidak dapat menghasilkan cukup enzim laktase, yaitu enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa. Karena tidak bisa tercerna dengan baik, laktosa akhirnya diubah menjadi gas sehingga menimbulkan berbagai gejala pada saluran cerna seperti kembung, nyeri perut, sering sendawa, dan kentut.
.
Kapan harus ke dokter?
Bersendawa hampir selalu bukan masalah yang serius, tetapi apabila sendawa terus-menerus terjadi, menurunkan kualitas hidup Anda, atau disertai gejala pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, nyeri atau terasa panas pada dada dan perut, kembung dan perut membesar untuk waktu yang lama, serta sulit saat menelan maka periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab dan penatalaksanaan lebih lanjut. Dokter akan menanyakan seberapa sering masalah tersebut terjadi, bagaimana pola sendawanya muncul apakah setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, dan apa saja gejala lain yang menyertainya. Dalam beberapa kasus, mungkin diperlukan tes pemeriksaan kesehatan lebih lanjut tergantung pada hasil pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi saluran pencernaan lebih detail.
.
Sendawa berlebihan memang mengganggu, baik untuk Anda sendiri maupun orang di sekitar Anda. Apabila tidak ada gejala lain yang menyertai, maka Anda dapat membuat catatan harian tentang makanan dan minuman apa saja yang baru Anda konsumsi untuk melacak makanan dan minuman apa yang memicu timbulnya sendawa dan dapat dipertimbangkan untuk dihindari.
.
Referensi
Bredenoord AJ. 2013. Management of Belching, Hiccups, and Aerophagia. Clinical Gastroenterology and Hepatology, 11: 6-12.
Disney B, Trudgill N. 2014. Managing a patient with excessive belching. Frontline Gastroenterol, 5(2):79-83. doi:10.1136/flgastro-2013-100355
Kessing BF, Bredenoord AJ, Smout AJPM. 2014. The Pathophysiology, Diagnosis and Treatment of Excessive Belching Symptoms. The American Journal of Gastroenterology, 109(8), 1196–1203.
Koukias N, Woodland P, Yazaki E, Sifrim D. 2015. Supragastric Belching: Prevalence and Association With Gastroesophageal Reflux Disease and Esophageal Hypomotility. J Neurogastroenterol Motil, 21(3):398-403.

Leave a Reply