Infeksi Helicobacter Pylori: Kapan Perlu Diperiksa dan Diobati?

Penulis: Prof. dr. Marcellus Simadibrata Kolopaking, PhD, SpPD, K-GEH, FINASIM, FACG, FASGE
Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

 

Salah satu penyebab paling umum gangguan pada lambung adalah karena infeksi Helicobacter pylori. Bakteri ini merupakan bakteri yang hidup di lapisan mukosa lambung dan mampu bertahan dalam lingkungan asam yang sangat kuat. Banyak orang tidak menyadari bahwa di dalam saluran pencernaannya sudah terinfeksi bakteri H. Pylori karena umumnya  tidak ada  gejala apa pun yang dirasakan pada tubuh. Namun dalam beberapa kasus, bakteri ini dapat menyebabkan peradangan saluran cerna yang berkelanjutan, terutama di lambung, dan berbagai gangguan pencernaan lainnya.

Gejala yang dapat muncul pada kasus infeksi H. pylori umumnya mirip dengan gangguan lambung pada umumnya. Beberapa keluhan yang biasanya dialami antara lain nyeri ulu hati, mual, begah, kembung, cepat merasa kenyang, rasa panas atau terbakar di ulu hati, atau sering bersendawa. Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami muntah berulang, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, hingga perubahan warna tinja menjadi hitam akibat adanya perdarahan saluran cerna.

Infeksi yang terjadi akibat H. pylori sering dikaitkan dengan penyakit seperti, tukak lambung, dan tukak duodenum, dan radang kronis pada lambung (gastritis). Proses perjalanan infeksi yang berlangsung lama tersebut dapat meningkatkan risiko kanker lambung dan kanker saluran cerna lain pada sebagian individu. Karena itu, mengenali kapan seseorang perlu menjalani pemeriksaan dan pengobatan menjadi hal yang penting agar komplikasi yang berat dapat dicegah sejak dini.

Kapan perlu dilakukan pemeriksaan infeksi H. pylori?

Tidak semua orang dengan keluhan lambung perlu langsung dilakukan pemeriksaan untuk deteksi infeksi H. pylori. Pemeriksaan biasanya dianjurkan pada:

  • Pasien dengan keluhan pencernaan yang berlangsung lama atau berulang.
  • Pasien yang tidak membaik setelah diberikan pengobatan rutin.
  • Pasien dengan riwayat tukak lambung, riwayat tukak duodenum,
  • Pasien dengan riwayat keluarga kanker lambung

Pemeriksaan dalam kondisi tersebut bertujuan untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi H. pylori sebagai penyebab utama keluhan.

Bagaimana pemeriksan yang dilakukan?

Pemeriksaan H. pylori dapat dilakukan dengan beberapa metode diagnostik, antara lain:

  • Urea breath test: metode yang umum digunakan untuk mendeteksi aktivitas bakteri di lambung
  • Tes antigen tinja: untuk mendeteksi keberadaan bakteri melalui sampel feses
  • Tes darah: untuk mendeteksi antibodi terhadap H. pylori
  • Endoskopi: metode invasif yang dapat dilakukan pengambilan sampel jaringan lambung untuk dianalisis lebih lanjut untuk deteksi ada tidaknya pertumbuhan bakteri H. pylori.

Kapan infeksi H. pylori perlu diobati?

Tidak semua infeksi H. pylori harus langsung diobati, terutama jika tidak menimbulkan gejala sama sekali. Namun terapi eradikasi dianjurkan pada pasien dengan:

Tujuan pengobatan ini adalah untuk menghilangkan bakteri H. pylori dari lambung sehingga peradangan dapat membaik dan risiko kekambuhan berkurang.

Bagaimana pengobatannya?

Dalam pengobatan eradikasi H. pylori yaitu:

  • Antibiotik
  • Penghambat asam (ppi atau pcab)

Pengobatan umumnya diberikan selama 10 hingga 14 hari untuk memastikan bakteri H. pylori benar-benar dapat dieliminasi dengan tuntas.

Keberhasilan terapi juga perlu dievaluasi setelah pengobatan selesai dilakukan. Evaluasi ulang biasanya dilakukan dengan pemeriksaan urea breath test atau tes antigen tinja beberapa minggu setelah terapi selesai diberikan. Evaluasi penting dilakukan karena resistensi antibiotik dapat menyebabkan kegagalan terapi pada sebagian pasien.

Pencegahan Infeksi

Selain pengobatan, pencegahan juga memegang peranan penting dalam mengurangi risiko infeksi maupun kekambuhan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan makanan dan minuman
  • Mencuci tangan sebelum makan
  • Memastikan makanan dimasak hingga matang

Penularan H. pylori diketahui dapat terjadi melalui makanan, air, atau kontak oral yang terkontaminasi.Infeksi  H. pylori merupakan masalah kesehatan yang cukup umum tetapi sering tidak terdiagnosis. Mengenali gejala yang mencurigakan dan mengetahui kapan perlu menjalani pemeriksaan dapat membantu mencegah komplikasi serius pada lambung dan saluran cerna. Dengan diagnosis yang tepat dan terapi yang sesuai, sebagian besar kasus infeksi ini dapat diatasi secara efektif dengan hasil yang baik.


Referensi:

  1. Graham DY. Helicobacter pylori. Curr Top Microbiol Immunol. 2024;445:127-154. doi: 10.1007/82_2021_235. PMID: 34224014.
  2. Engelsberger V, Gerhard M, Mejías-Luque R. Effects of Helicobacter pylori infection on intestinal microbiota, immunity and colorectal cancer risk. Front Cell Infect Microbiol. 2024 Jan 26;14:1339750. doi: 10.3389/fcimb.2024.1339750. PMID: 38343887; PMCID: PMC10853882.
  3. Zazadze R, Bakuridze L, Gongadze N, Tutberidze P, Kiladze M. MEDICATIONS FOR ERADICATION OF HELICOBACTER PYLORI (REVIEW). Georgian Med News. 2022 Jan;(322):162-166. PMID: 35134780

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*