BAB Hitam atau BAB Berdarah: Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan

Penulis: Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, SpPD, K-GEH, FACG, FASGE
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Mengapa Perubahan Warna Tinja Perlu Diwaspadai?

Buang air besar (BAB) merupakan salah satu indikator penting kesehatan saluran pencernaan seseorang yang dapat diobservasi secara kasat mata. Adanya perubahan warna tinja dapat menjadi salah satu petunjuk adanya gangguan pada sistem pencernaan yang tidak boleh diabaikan. Salah satu tanda perubahan yang perlu diwaspadai adalah tinja yang berwarna hitam atau bercampur darah segar. Kondisi ini dapat menjadi tanda adanya perdarahan di saluran cerna yang membutuhkan evaluasi dan tata laksana medis lebih lanjut.

  1. BAB Berwarna Hitam (Melena)

    BAB berwarna hitam, atau yang dikenal secara medis dengan istilah melena, biasanya menunjukkan adanya perdarahan dari saluran cerna bagian atas, seperti lambung, duodenum, atau usus dua belas jari. Warna hitam pekat dengan konsistensi yang lengket dan bau amis yang khas terjadi akibat darah yang berada di saluran cerna telah bercampur dengan asam lambung  dan enzim pencernaan sehingga warnanya berubah menjadi hitam.
    Salah satu penyebab paling umum terjadinya BAB hitam atau melena ini adalah ulkus peptikum atau ulkus gaster yang dapat dipicu oleh infeksi bakteri H. pylori atau penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid dalam jangka panjang, sehingga membuat adanya luka pada lambung atau usus. Selain itu, kondisi kronis seperti gastritis atau peradangan lambung berulang yang berlangsung dalam jangka waktu lama juga dapat menyebabkan perdarahan saluran cerna yang berujung pada tinja hitam.
    Pada kasus yang lebih serius, perdarahan dapat disebabkan karena adanya kanker lambung, terutama jika disertai gejala lain seperti penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat, nyeri perut yang menetap, serta perut yang terasa begah dan cepat merasa kenyang. Oleh karena itu, setiap perubahan warna tinja menjadi hitam harus ditanggapi dengan serius.

  2. BAB Berwarna Merah (Hematochezia)

    Sementara itu BAB dengan warna merah segar, atau yang dikenal secara medis dengan istilah hematochezia, biasanya menunjukkan adanya perdarahan dari saluran cerna bagian bawah, seperti usus besar, rektum, atau anus. Warna darah tidak menjadi hitam karena pada saluran cerna bagian bawah darah tidak lagi bercampur dengan asam lambung atau enzim pencernaan.

    Salah satu penyebab yang paling sering BAB merah segar adalah hemoroid, atau yang lebih umum dikenal dengan istilah wasir atau ambeyen. Hemoroid dapat terjadi karena adanya pembengkakan pembuluh darah di area anus yang dapat pecah saat mengejan. Selain hemoroid, kondisi seperti fisura ani, di mana terdapat luka pada anus, dapat juga menyebabkan munculnya darah segar yang tampak pada permukaan tinja.

    Walaupun penyebabnya bukan penyakit kronis ataupun penyakit berat seperti pada kasus BAB hitam, namun tidak semua kasus BAB berdarah dapat dianggap ringan. Penyakit yang lebih serius seperti kanker usus besar juga dapat menyebabkan perdarahan, terutama pada pasien usia di atas 50 tahun atau mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat kanker. Perdarahan yang terjadi biasanya disertai perubahan pola BAB, penurunan berat badan, dan penurunan kadar hemoglobin darah (anemia) yang tidak jelas penyebabnya.

    Selain kanker, kondisi inflamasi seperti kolitis ulseratif atau infeksi usus juga dapat menyebabkan BAB berdarah. Pada kasus ini, pasien biasanya mengalami diare kronis, nyeri perut, dan lendir dalam tinja. Evaluasi lebih lanjut dengan pemeriksaan laboratorium dan endoskopi sering kali diperlukan untuk menegakkan diagnosis yang tepat.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Tidak semua tinja berwarna hitam disebabkan karena perdarahan saluran cerna bagian atas. Konsumsi makanan tertentu seperti liver, buah blueberry, atau suplemen zat besi juga dapat menyebabkan perubahan warna tinja menjadi gelap. Namun, perbedaan utama adalah tidak adanya bau khas melena dan ada tidaknya gejala pencernaan lain. Demikian pula, warna merah pada tinja tidak selalu berasal dari darah. Beberapa makanan seperti buah bit, buah naga, atau pewarna makanan dapat menyebabkan warna kemerahan dalam tinja. Oleh karena itu, riwayat konsumsi makanan dan obat-obatan perlu ditelusuri secara teliti sebelum mengambil kesimpulan sendiri.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Jika seseorang mengalami BAB hitam atau berdarah, terutama jika gejala berulang atau disertai gejala lain seperti nyeri perut hebat, muntah darah, atau penurunan kesadaran, maka pemeriksaan seperti tes darah, endoskopi, atau kolonoskopi mungkin diperlukan untuk menentukan sumber perdarahan.

Kesimpulan

BAB hitam atau berdarah adalah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Meskipun beberapa penyebabnya bersifat ringan, kondisi ini juga dapat menjadi indikator penyakit serius yang mengancam jiwa. Pemeriksaan diagnosis dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup pasien.


Referensi:

  1. Antunes C, Tian C, Copelin II EL. Upper Gastrointestinal Bleeding. 2024 Aug 17. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan–. PMID: 29262121.
  2. Imran H, Alexander JT, Jackson CD. Lower Gastrointestinal Hemorrhage. JAMA. 2024 May 21;331(19):1666-1667. doi: 10.1001/jama.2023.25841. PMID: 38656758.
  3. Meier B, Caca K. Gastrointestinale Blutungen [Gastrointestinal bleeding]. Dtsch Med Wochenschr. 2023 Feb;148(3):116-127. German. doi: 10.1055/a-1813-3801. Epub 2023 Jan 23. PMID: 36690008.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*