Pola Buang Air Besar: Apakah Ada Arti Klinis?

Sumber gambar: ubisafe.org

Penulis: dr. Azzaki Abubakar, SpPD, K-GEH, FINASIM
Divisi Gastroenterohepatologi,
Bagian/Staf Medis Fungsional (SMF) Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala – RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh

   

Setiap manusia memiliki berbagai sistem fungsi tubuh, salah satunya adalah sistem pencernaan. Sistem pencernaan manusia terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar sampai ke anus, termasuk juga sistem hati, pankreas dan empedu. Sistem pencernaan bekerja secara normal (fisiologis) namun adakalanya tidak normal (patologis). Salah satu hal penting terkait sistem pencernaan adalah pola buang air besar, yang terkadang sering dianggap sepele, namun sebenarnya juga mengindikasikan kondisi kesehatan.

Buang Air Besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran (tinja) yang padat atau setengah padat yang berasal dari sistem pencernaan.

   

Fakta terkait pola BAB

  • Pada dasarnya BAB pada setiap orang bervariasi. Meski begitu, ada masanya ketika orang yang biasanya BAB tiga hari sekali tidak mampu mengeluarkan tinjanya setelah empat hari bahkan seminggu. Frekuensi BAB dapat terjadi 1 kali dalam beberapa hari atau beberapa kali dalam 1 hari, bahkan dapat mengalami gangguan. Gangguan ini biasanya diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, genetik atau faktor lain, dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah besar.
  • BAB dapat terjadi secara sadar maupun tak sadar. Seseorang yang BAB secara tak sadar ini terjadi seperti saat persalinan atau pada orang tua yang mengalami gangguan persarafan panggul. Kehilangan kontrol tersebut dapat terjadi karena cedera fisik, seperti cedera pada otot sfingter anus, karena radang, serta penyerapan air yang kurang.

   

Apakah BAB saya normal?

BAB dapat dinilai apakah normal atau tidak dari berbagai perspektif, seperti frekuensi, durasi (lama berlangsung), warna, kemampuan evakuasi tinja, dan ukuran kepadatan tinja yang semuanya dapat menunjukkan ada atau tidaknya kelainan atau penyakit.

  • Berdasarkan frekuensi, BAB dikatakan normal apabila terjadi antara 3 kali per minggu sampai 3 kali per hari. Ketika BAB terjadi lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi encer dengan/tanpa disertai lendir, hal tersebut diistilahkan sebagai diare.
  • Berdasarkan waktu terjadinya, diare dapat dibagi dua, yaitu diare akut (terjadi kurang dari 15 hari) dan diare kronik (diare lebih dari 15 hari).
    Penyebab diare akut adalah infeksi (bakteri, virus, amoeba), intoleransi makanan, maupun efek samping konsumsi obat-obatan. Sedangkan diare kronik bisa disebabkan oleh kelainan lokal di saluran cerna seperti infeksi atau peradangan usus, gangguan penyerapan zat-zat makanan, keganasan (kanker kolorektal), pasca operasi usus bahkan kelainan secara sistemik seperti gangguan metabolik (pada penderita diabetes mellitus, penyakit tiroid, dan kelainan hormonal), infeksi HIV, dan penyakit lainnya. Infeksi pada usus bisa berupa tuberkulosis usus, penyakit peradangan usus (inflammatory bowel disease), demam tifoid, dan jamur Candida albicans. Diare juga bisa diakibatkan oleh gangguan pada sistem hati dan empedu, gangguan susunan saraf pusat, bahkan kongenital (bawaan dari lahir).
  • Warna tinja juga memiliki arti tersendiri. Tinja berwarna hitam dan merah terang menunjukkan terjadinya perdarahan di dalam saluran pencernaan bagian atas atau bagian bawah. Tinja hitam terjadi karena perdarahan yang mengalami proses kimiawi dengan asam lambung, sementara tinja merah dengan darah segar bisa berasal dari usus halus, usus besar bahkan anus/dubur karena pecahnya pembuluh darah, proses keganasan maupun proses infeksi atau peradangan usus (bisa disertai lendir). Tinja hitam juga bisa disebabkan oleh beberapa jenis obat dan suplemen seperti zat besi. Sedangkan, tinja berwarna putih, pucat atau abu-abu seperti dempul merupakan pertanda gangguan sistem hati dan empedu. Sementara, tinja berwarna kuning terang mungkin sebagai tanda terjadi infeksi parasit.
  • Permasalahan BAB juga terkait dengan gangguan pergerakan (peristaltik) saluran cerna bagian bawah, yang dimulai dari ligamen Treitz dan usus halus (jejunum) bagian bawah, ileum, usus besar sampai ke anus. Bila gangguan pergerakan ini terjadi maka akan timbul keluhan seperti diare, konstipasi (sulit atau tidak bisa BAB, baik dalam jangka waktu singkat sampai jangka panjang), sakit perut bagian bawah atau kembung. Gangguan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti infeksi, usia lanjut (geriatri atau umur lebih dari 60 tahun, standar Indonesia), tinja yang keras, sistem persarafan (contoh penyakit stroke, miastenia gravis, diabetes mellitus, trauma tulang belakang atau gangguan saraf lokal di daerah panggul) dan salah satu faktor yang penting yaitu akibat gangguan psikologis (irritable bowel syndrome).
  • Pola BAB juga dapat ditinjau dari ukuran kepadatan tinja, dari yang terpadat hingga tercair. Berdasarkan Skala Tinja Bristol (Bristol Stool Scale) ada 7 tipe kepadatan tinja, seperti gambar dibawah ini:
  • Tinja tipe 1 sampai tipe 4 merupakan bentuk tinja penderita konstipasi (berurutan yaitu dari konstipasi kronis, mendekati konstipasi kronis, konstipasi ringan, dan gejala awal konstipasi). Tinja tipe 5 menunjukkan usus yang sehat, tipe 6 adalah tinja penderita diare, dan tipe 7 adalah tinja penderita diare kronis. Tinja tipe 1 dan tipe 7 adalah tinja seseorang yang menderita gangguan pada usus dengan tingkat yang berbahaya dan dapat berakibat fatal. Ketika kita menemukan 7 tipe tinja ini, terdapat banyak diagnosis yang harus dipikirkan, seperti pola diet, keganasan, infeksi, dan gangguan pergerakan usus, serta perlunya tindak lanjut.

   

Pengetahuan tentang pola BAB sangatlah dibutuhkan untuk mengetahui apakah normal, terjadi gangguan atau penyakit di tubuh seseorang. Dibutuhkan juga data yang lebih detail dan akurat serta pemeriksaan lanjutan untuk penegakan diagnosis. Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan seperti uji laboratorium, radiologi dan tindakan invasif kolonoskopi. Kolonoskopi adalah suatu prosedur dengan memasukkan alat atau benda asing ke dalam tubuh sehingga memungkinkan seorang gastroenterologis untuk mengevaluasi bagian dalam kolon (usus besar).

Jadi mulai sekarang, perhatikanlah pola buang air besar kita agar dapat mendeteksi lebih dini kemungkinan terjadinya kelainan atau penyakit sistem pencernaan sehingga bisa ditangani dengan lebih cepat, baik, dan menyeluruh.

   

Sumber:
id.m.wikipedia, Bristol Stool Chart

Simadibrata M. Pendekatan Diagnostik Diare Kronik. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI 2014. 1909-1923

Djojoningrat D. Inflammatory Bowel Disease. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI 2014. 1814-1822

Please follow and like us:

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*