Harus Baca Ini Jika Sering Mengonsumsi Minuman dan Makanan Kaleng!

Sumber gambar: freepik.com

Makanan kaleng merupakan jenis makanan yang sering kita temui di pasar swalayan atau tradisional. Makanan ini merupakan makanan yang praktis untuk dikonsumsi dan biasanya dapat disimpan lebih lama serta lebih awet. Makanan kaleng memiliki jenis yang beragam diantaranya yang berisi daging, kornet, sarden, sup buah, dan sebagainya.

Makanan kaleng pertama kali dikembangkan pada abad ke-18 di Prancis ketika Kaisar Napoleon Bonaparte yang prihatin dengan kondisi makanan untuk pasukan perangnya. Ia menawarkan hadiah uang tunai kepada siapa pun yang dapat mengembangkan metode pengawetan makanan yang handal. Nicholas Appert kemudian menyusun ide untuk mengawetkan makanan dalam botol. Setelah 15 tahun bereksperimen, ia menyadari bahwa makanan akan tidak rusak jika dipanaskan dan disegel dalam wadah kedap udara.

.

Apa saja bahaya konsumsi makanan kaleng bagi tubuh dan saluran cerna?

Makanan kaleng memang sangat praktis dan memudahkan kita, namun makanan kaleng sering dianggap kurang bergizi dan sehat dibandingkan makanan segar. Beberapa orang mengklaim bahwa makanan kaleng mengandung pengawet dan bahan berbahaya lainnya yang dapat mengganggu kesehatan kita. Suatu penelitian menunujukkan bahwa mengonsumsi makanan kaleng yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya peradangan usus. Selain itu, apa lagi bahaya yang dapat ditimbulkan ketika kita mengonsumsi makanan kaleng?

.

Adanya kemungkinan paparan Bisphenol A

Senyawa Bisphenol-A atau disingkat dengan BPA adalah zat kimia yang terkandung dalam kemasan kaleng makanan. BPA diduga lebih banyak ditemukan pada makanan kaleng seperti sarden, kornet, buah, dan lainnya daripada botol plastik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BPA yang ada di dalam wadah dapat meresap ke dalam makanan dan minuman. Paparan BPA menjadi perhatian khusus sebab zat kimia ini dapat berbahaya bagi sistem reproduksi, sistem saraf, daya tahan tubuh, bahkan dapat menyebabkan keganasan. Penelitian juga menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara BPA dan peningkatan tekanan darah, kencing manis, dan penyakit jantung.

Pada sistem pencernaan, BPA dapat berdampak negatif pada metabolisme mikrob usus dan mengganggu keseimbangan komposisi mikrob usus sehingga dikaitkan dengan terjadinya peradangan usus. Seperti yang telah diketahui bahwa penyebab peradangan usus atau Inflammatory Bowel Disease masih belum dapat ditentukan dengan pasti, namun diet, rokok, infeksi, gangguan pada mikrob usus, dan racun atau polutan merupakan faktor risiko untuk terjadinya pengembangan dan kekambuhan penyakit.

BPA dikatakan dapat meniru struktur dari hormon estrogen. Karena itulah BPA  dikaitkan dengan reseptor estrogen sehingga dapat memengaruhi berbagai proses di dalam tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan dan perkembangan sel, dan reproduksi. Karena estrogen memiliki peran pada perjalanan penyakit radang usus, maka BPA juga dihubungkan dengan peningkatan risiko terjadinya radang usus.

Untuk membatasi terpapar BPA dari makanan kaleng, maka hindari untuk memanaskan, merebus, atau memasukkan kaleng makanan ke dalam microwave sebab suhu yang tinggi dapat menyebabkan pengeluaran BPA dan bisa bercampur dengan makanan atau minuman di dalam kaleng.

.

Kontaminasi logam pada kemasan kaleng

Kontaminasi adalah masuknya zat asing ke dalam makanan yang tidak diinginkan. Sumber kontaminasi makanan dapat berasal dari lingkungan, pengolahan makanan, dan pengemasan. Makanan kaleng dapat melarutkan logam yang terkandung pada wadahnya (disebut dengan korosi) sehingga makanan tersebut dapat terkontaminasi dengan logam yang berbahaya bagi tubuh. Korosi pada kaleng biasanya dipicu oleh sifat bahan makanan, terutama pH makanan dengan derajat keasaman yang rendah, faktor yang berasal dari bahan kemasan, dan waktu penyimpanan. Kontaminasi timah, aluminium, dan seng pada minuman kaleng dengan konsentrasi melebihi batas maksimum yang dianjurkan dapat menimbulkan efek buruk seperti gangguan pada ginjal, hati, pencernaan, sistem saraf, bahkan dapat menyebabkan kanker, dan kematian.

Timah dalam makanan kaleng apabila dalam kadar yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran cerna. Paparan timah tingkat tinggi juga telah dilaporkan menyebabkan iritasi kulit, mata, dan penyakit pada saraf. Ketika kaleng dibuka dan lapisan dalam kaleng bersentuhan dengan oksigen di udara, korosi terjadi dengan cepat. Hal ini menyebabkan timah dilepaskan ke dalam makanan kaleng. Untuk membatasi paparan timah dari makanan yang dikemas dalam kaleng, pastikan Anda memakan makanan sebelum tanggal kedaluwarsa. Selanjutnya, setelah Anda membuka kaleng, keluarkanlah makanan dan simpan di wadah yang berbeda.

.

Risiko botulisme

Botulisme adalah penyakit langka namun serius yang dapat menyebabkan kelumpuhan, mematikan sistem saraf, bahkan menyebabkan kematian. Botulisme disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum yang dapat hidup pada makanan kaleng yang diawetkan secara tidak tepat. Bakteri ini menghasilkan spora, struktur reproduksi yang mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan suhu yang tinggi. Spora ini menghasilkan racun yang bila dimakan dapat menyebabkan keracunan bahkan jika dikonsumsi dalam jumlah kecil. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa gangguan penglihatan, otot wajah melemah, sulit menelan, sulit bernapas, mual, muntah, dan juga keram perut. Agar terhindar dari risiko Butulisme maka jangan memilih dan buang semua kaleng yang penyok, menggembung, bocor, berkarat, atau berbau busuk.

.

Risiko karena tingginya kadar gula dan garam yang terkandung

Makanan kaleng biasanya memiliki kadar garam dan gula yang tinggi serta pengawet. Garam dalam bentuk natrium yang terdapat pada makanan kaleng selain untuk menambah cita rasa, juga berguna uuntuk menjaga kualitas makanan. Jika Anda memiliki darah tinggi, maka makanan kaleng ini dapat memperburuk kondisi Anda. Gula yang tinggi pada makanan kaleng juga dapat berbahaya bagi peningkatan risiko penyakit kencing manis, obesitas, dan juga penyakit jantung. Ketika Anda ingin membeli makanan kaleng, perhatikan kadar natrium, kalori, dan lemak dari makanan kaleng tersebut.

.

Bagaimana kandungan gizi makanan kaleng?

Apakah gizi yang terkandung pada makanan kaleng lebih sedikit dibandingkan dengan makanan segar? Proses pengalengan memang memengaruhi kadar gizi dalam makanan. Pemanasan adalah bagian dari proses pengalengan yang dapat merusak sejumlah gizi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti vitamin B dan C yang peka terhadap panas. Namun, bukan berarti makanan kaleng tidak mengandung gizi yang penting bagi tubuh. Makanan kaleng tentu juga memiliki gizi yang diperlukan seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Namun, makanan segar lebih utama untuk dipilih dibandingkan makanan kaleng sebab selain kaya akan gizi, kita juga tahu betul proses pemasakannya.

.

Apa saja tips jika ingin mengonsumsi makanan kaleng?

Bagi Anda yang ingin membeli makanan kaleng, terdapat tips yang dapat Anda ikuti untuk memilih makanan kaleng yang lebih aman:

  • Pertama, pastikan untuk mengecek kondisi fisik dari makanan kaleng tersebut, apakah ada kebocoran, penyok, atau berkarat. Pilihlah kemasan yang masih bagus.
  • Kemudian, lihatlah kandungan gizi dan kadar garam yang terkandung di dalamnya, serta tidak lupa untuk mengecek tanggal kedaluarsanya.
  • Saat makanan kaleng akan dikonsumsi, perhatikan aroma, warna, dan tekstur makanannya saat dibuka.
    Apabila ada bau yang tidak enak, adanya perubahan warna dan tekstur, serta rasa yang basi maka jangan dikonsumsi.
  • Setelah penutup kaleng tersebut Anda buka, sebaiknya langsung dihabiskan.
    Apabila sisanya akan Anda simpan, maka pindahkan makanan tersebut ke wadah yang lain.

.

Makanan kaleng boleh saja dikonsumsi tetapi dalam jumlah yang wajar. Sebab, makanan kaleng merupakan makanan olahan yang biasanya mengandung tinggi gula, garam, dan bahan pengawet yang kurang baik bagi kesehatan tubuh. Tetap hati-hati terhadap kemungkinan efek samping yang disebabkan karena mengonsumsi makanan kaleng terlalu banyak atau sering. Jangan jadikan makanan kaleng sebagai pilihan utama makanan harian, akan lebih baik jika Anda memilih makanan yang berasal dari bahan segar yang lebih sehat untuk tubuh.

.

Referensi
DeLuca JA, Allred KF, Menon R, et al. Bisphenol-A alters microbiota metabolites derived from aromatic amino acids and worsens disease activity during colitis. Exp Biol Med (Maywood). 2018;243(10):864-875.

Ha SK. Dietary salt intake and hypertension. Electrolyte Blood Press. 2014;12(1):7-18. d

Rezg R, El-Fazaa S, Gharbi N, Mornagui B. Bisphenol A and human chronic diseases: Current evidences, possible mechanisms, and future perspectives. Environment International. 2014;64:83-90.

World Health Organization. 2018. Botulism. Available online at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/botulism

Rahman A. Tin-Plate Corrosion in Canned Foods. Journal of Global Biosciences. 2015;4(7):2966-2971.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*