Benarkah Banyak Mengonsumsi Makanan Berpengawet dapat Menyebabkan Kanker Kolorektal?

Sumber gambar: freepik.com

Salah satu permasalahan yang muncul dengan adanya kemajuan teknologi dari aspek produksi makanan adalah beredar dengan luasnya makanan yang mengandung pengawet. Pengawet makanan terkadang tidak hanya sendiri melainkan disertai dengan adanya penguat rasa, warna, dan aroma. Tanpa kita sadari pengawet dari makanan merupakan komponen makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Salah satu risiko yang dapat ditimbulkan oleh pengawet makanan adalah keganasan pada usus, atau yang pada artikel ini akan kita sebut sebagai kanker kolorektal. Kanker kolorektal merupakan salah satu kanker yang dipengaruhi oleh pola makan kita sehari-hari.

.

Apa itu pengawet makanan?

Bahan pengawet makanan merupakan bahan tambahan pada makanan yang dapat meningkatkan durasi makanan sehingga dapat dikonsumsi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Selain manfaat tersebut pengawet makanan juga dapat memberikan nilai tambah pada makanan dengan memberikan rasa, warna, ataupun daya tarik lainnya. Unsur yang digunakan untuk mengawetkan dapat bersifat alami ataupun buatan/sintetis. Pengawet makanan tidak sepenuhnya memberikan manfaat bagi kita karena banyak dampak yang dapat diberikan oleh pengawet makanan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Salah satu pengawet makanan yang sering kita konsumsi adalah Sodium Nitrat dan Sodium Nitrit, yang sering kali digunakan untuk mengawetkan daging dan menambahkan warna dan rasa pada produk daging olahan. Kedua bahan pengawet tersebut berperan sebagai faktor risiko timbulnya kanker kolorektal. Oleh karena itu penggunaan pengawet makanan diatur oleh badan pengawas makanan.

Tujuan diberikan pengawet makanan adalah untuk menghambat proses pembusukan yang disebabkan oleh bakteri. Antioksidan juga akan meningkatkan kualitas makanan karena dapat menghambat proses oksidasi terhadap makanan. Selain itu terdapat juga beragam proses lainya seperti pengasaman yang digunakan untuk mengawetkan makanan.

.

Apa itu kanker kolorektal?

Kanker kolorektal merupakan salah satu keganasan yang menyerang jaringan usus besar. Keganasan ini merupakan permasalahan kesehatan yang cukup besar di seluruh dunia dengan mencapai 1,4 juta kasus di tahun 2012. Pola makan dinilai berperan terhadap risiko kejadian kanker kolorektal.

Kanker kolorektal memiliki tanda dan gejala yang kurang sensitif sehingga sulit bagi kita untuk mengetahui tanda dan gejala pada tahapan awal. Keluhan yang dirasakan biasanya berhubungan dengan nyeri pada perut bagian bawah, namun keluhan ini biasanya hilang timbul sehingga pencarian pertolongan ke dokter sering terlambat. Proses diagnostik dini biasanya dilakukan melalui pemeriksaan kolonoskopi. Diagnostik lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan CT-scan. Pemeriksaan ini terutama dilakukan pada pasien usia lanjut yang memiliki tanda yang sulit diidentifikasi seperti penurunan berat badan dan rasa tidak nyaman pada perut yang sering kali sudah berlangsung sejak lama.

.

Bagaimana hubungan pengawet makanan dengan kanker kolorektal?

Perkembangan zaman menyumbang dampak bagi kesehatan saluran cerna. Proses pengolahan dengan melibatkan proses biologi, kimia, dan fisik meningkatkan nilai dan kualitas dari makanan olahan, serta menjaga makanan agar tidak terkontaminasi bakteri. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah makanan olahan termasuk dengan bahan pengawet di dalamnya dinilai dapat memicu kanker (karsinogen). Beberapa bahan olahan yang dinilai bersifat karsinogenik, yaitu sodium nitrat, akrilamida, amina heterosiklik, dan polisiklik aromatik.

Makanan olahan yang menggunakan bahan pengawet dapat meningkatkan risiko kanker secara keseluruhan mencapai 12%. Makanan olahan yang mengandung pengawet biasanya kaya akan energi, lemak, sodium, dan gula, namun kurang serat dan mikronutrien (vitamin dan mineral). Makanan olahan ini akan meningkatkan kadar gula darah lebih tinggi dan juga menurunkan rasa kenyang sehingga berdampak pada terjadinya peningkatan berat badan yang berlebih (obesitas). Obesitas akan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Konsumsi makanan yang diberi pengawet secara berulang dalam durasi waktu yang lama dapat berdampak pada terjadinya kanker kolorektal. Sebenarnya sudah ada peraturan yang mengatur batasan penggunaan bahan pengawet yang boleh dikonsumsi, namun terkadang konsumsi yang terlalu banyak dalam jangka waktu yang panjang dapat memberikan dampak bagi kesehatan. Sebagai contoh, titanium oksida yang digunakan sebagai pengawet dapat memberikan rasa dan tekstur yang baik serta menghambat tumbuhnya bakteri pada makanan, namun dapat mendukung pembelahan sel yang tidak terkontrol yang dapat  berdampak pada terjadinya kanker. Salah satu komponen pengawet daging sodium nitrat yaitu N nitroso merupakan komponen yang dapat memicu keganasan yang nantinya dapat menjadi kanker kolorektal.

Selain itu, pengawet makanan diyakini dapat menimbulkan perubahan pada bakteri baik di saluran cerna sehingga merubah ekosistem bakteri baik di dalamnya. Hal ini dirasakan dengan perubahan mikrobiota di dalam usus seiring dengan perkembangan zaman terutama di abad 20, sehingga semakin diyakini bahwa perubahan pola makan memiliki peran. Gangguan ekosistem bakteri baik di dalam usus ini dapat memicu terjadinya peradangan dalam jangka waktu yang panjang. Kedua hal tersebut dinilai berperan terhadap terjadinya kanker kolorektal.

Penggunaan pengawet makanan pada daging olahan masih diizinkan, karena menurut pengelola pangan di Australia dan New Zealand dampak dari daging yang tidak diberi pengawet adalah tumbuh bakteri yang dapat menimbulkan gangguan pada saluran cerna. Oleh karena itu penggunaan pengawet makanan dalam jumlah sedikit masih diperbolehkan untuk menghindari faktor risiko tersebut.

.

Referensi
Fiolet T, Srour B, Sellem L, Kesse-Guyot E, Allès B, Méjean C, Deschasaux M, Fassier P, Latino-Martel P, Beslay M, Hercberg S. Consumption of ultra-processed foods and cancer risk: results from NutriNet-Santé prospective cohort. bmj. 2018 Feb 14;360:k322.

Silva MM, Lidon F. Food preservatives–An overview on applications and side effects. Emirates Journal of Food and Agriculture. 2016 Jan 7:366-73.

Tabung FK, Brown LS, Fung TT. Dietary patterns and colorectal cancer risk: a review of 17 years of evidence (2000–2016). Current colorectal cancer reports. 2017 Dec 1;13(6):440-54

Vega P, Valentín F, Cubiella J. Colorectal cancer diagnosis: pitfalls and opportunities. World journal of gastrointestinal oncology. 2015 Dec 15;7(12):422.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*