Diet BRAT: Diet Saat Mengalami Gangguan Saluran Pencernaan

Apa yang Perlu Kita Perhatikan Saat Menjalani Diet BRAT?

Para ahli mengatakan terdapat beberapa risiko yang dapat terjadi apabila Anda hanya mengonsumsi makanan yang termasuk dalam diet BRAT dan tidak mengonsumsi makanan lainnya saat memiliki keluhan pencernaan. Risiko tersebut terjadi karena kurangnya kalori, serat, protein, lemak, vitamin, dan kalsium pada diet tersebut sehingga membuat keluhan diare menjadi lebih buruk dan tubuh akan kekurangan nutrisi. Oleh karena itu, diet BRAT tidak dianjurkan sebagai diet yang diaplikasikan dalam jangka panjang.

Diet BRAT mungkin dapat membantu untuk jangka waktu pendek. Saat menjalani diet BRAT pun Anda tidak terbatas hanya boleh makan pisang, nasi, apel dan roti saja, namun dapat menggunakan bahan makanan lainnya yang mudah dicerna untuk memenuhi jumlah nutrisi dan menambah variasi makanan.

.

Baca juga: Ingin Usus Tetap Sehat? Lakukan Ini!

.

Berikut tips agar dapat menjalani diet BRAT dan tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh:

Mengonsumsi jenis makanan lainnya
Mengonsumsi makanan lainnya yang lebih bergizi seimbang dapat meningkatkan pemulihan dan mengurangi gejala lebih lanjut. Sumber karbohidrat bisa didapatkan dari nasi, kentang, ubi, singkong, mie, atau pasta. Tahu dan telur dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein selama Anda mengalami gangguan pencernaan. Batasi sementara makanan tinggi protein tinggi lemak seperti daging merah sehingga saluran cerna Anda tidak bekerja keras untuk mencernanya. Jangan lupa untuk mengonsumsi buah dan sayuran yang sudah di cuci dengan bersih. Beberapa sayuran tertentu seperti brokoli dan kembang kol cenderung menyebabkan gas usus meningkat dan perut terasa semakin tidak nyaman. Kacang juga dapat memiliki efek ini pada beberapa orang. Saat gangguan pencernaan masih ada, lebih baik untuk menghindari makanan tersebut sampai pulih. Selain itu, konsumsi oatmeal juga bisa dipertimbangkan untuk dikonsumsi karena mengandung serat larut air yang dapat menyerap kelebihan cairan dalam usus.

Minum air yang cukup
Karena diare dapat menyebabkan dehidrasi, penting bagi Anda untuk menggantikan cairan dan ion tubuh yang hilang dengan minum cukup air putih dan cairan yang mengandung elektrolit seperti oralit.

Mengonsumsi probiotik
Bakteri menguntungkan yang dikenal sebagai probiotik diketahui dapat mempersingkat waktu terjadinya diare. Bakteri tersebut antara lain Lactobacillus reuteri, Lactobacillus GG, dan Saccharomyces boulardii. Probiotik juga bisa didapatkan dari produk fermentasi, seperti yoghurt.

.

Selama menjalani diet BRAT, sebaiknya dikombinasikan dengan makanan bernutrisi lainnya, hindari konsumsi makanan tinggi gula, tinggi lemak, berminyak, pedas, olahan susu, minuman berkafein, dan beralkohol karena dapat memperburuk gangguan pencernaan. Pola makan BRAT juga dapat diterapkan pada orang dewasa maupun anak-anak yang mengalami gejala sakit perut ataupun diare. setelah gejala diare membaik, disarankan untuk kembali mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Perlu diingat lagi, bahwa Diet BRAT tidak disarankan untuk jangka panjang.

Apabila setelah menjalani diet tersebut, keluhan Anda tidak kunjung membaik atau bahkan lebih parah, disertai demam, terdapat nyeri perut yang sangat, dan tanda dehidrasi seperti berkurangnya jumlah air kencing dan lemas yang memberat maka temuilah dokter Anda untuk mendapat penanganan yang tepat.

.


Referensi
Falcomer AL, Riquette RFR, de Lima BR, Ginani VC, Zandonadi RP. 2019. Health Benefits of Green Banana Consumption: A Systematic Review. Nutrients. 11(6):1222.

Feizizadeh S, Salehi-Abargouei A, Akbari V. 2014. Efficacy and safety of Saccharomyces boulardii for acute diarrhea. Pediatrics. 134(1):e176-e191.

Kianmehr M, Saber A, Moshari J, Ahmadi R, Basiri-Moghadam M. 2016. The Effect of G-ORS Along With Rice Soup in the Treatment of Acute Diarrhea in Children: A Single-Blind Randomized Controlled Trial. Nurs Midwifery Stud. 5(2):e25852

Parrish CR. 2007. The BRAT Diet for Acute Diarrhea in Children: Should It Be Used? Practical Gastroenterology. Availaible from: https://med.virginia.edu/ginutrition/wp-content/uploads/sites/199/2015/11/DuroArticle-June-07.pdf

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*