Apakah Pengaruh Kafein pada Saluran Cerna Anda?

Sumber gambar: freepik.com

Kafein adalah kandungan yang biasa ditemui pada kopi, teh, dan minuman berenergi. Teh atau kopi sudah menjadi minuman favorit bagi kebanyakan orang di Indonesia, bahkan dunia. Beberapa tahun terakhir, bisnis coffee shop sedang naik daun dan peminatnya pun tentu sangat banyak. Teh mengandung lebih sedikit kafein dibandingkan dengan kopi. Namun, jumlah kafein yang dikandung bergantung pada jenis teh yang Anda minum. Kafein dapat menyebabkan para pengonsumsinya menjadi lebih waspada, terjaga, merasa lebih berenergi, dan meningkatkan metabolisme tubuh. Efek kafein yang bisa meningkatkan energi itulah yang sering dicari oleh orang-orang saat ini. Kafein mencapai tingkat puncaknya dalam tubuh sekitar satu jam setelah konsumsi dan dapat bertahan hingga enam jam. Pada orang yang sensitif, dalam beberapa menit saja efek kafein sudah bisa dirasakan oleh mereka. Menurut Food Drug Administration (FDA), jumlah kafein yang aman dikonsumsi pada orang sehat adalah sampai 400 mg atau 4 cangkir kopi per hari. Dengan meningkatnya konsumsi minuman berkafein di masyarakat, penting untuk mengetahui apa saja efek kafein terhadap tubuh Anda terutama pada saluran cerna.

.

Bagaimana Efek Kafein terhadap Penyakit Saluran Cerna?

Kafein memiliki efek stimulasi pengeluaran asam lambung sehingga sering dikatakan kafein dapat menyebabkan penyakit maag, tukak (luka) pada lambung, dan tukak usus. Selain itu, kafein juga memiliki efek dapat mengendurkan katup yang memisahkan antara kerongkongan dan lambung sehingga asam lambung dapat mengiritiasi kerongkongan atau biasa disebut GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Namun, hasil penelitian mengenai hubungan antara kafein dan penyakit tersebut masih kontroversial. Beberapa penelitian mengatakan kafein dapat memperberat gejala penyakit maag dan GERD, namun ada pula yang mengatakan tidak ada hubungan diataranya.

Kafein juga memiliki efek pencahar dan meningkatkan gerakan peristaltik. Peristaltik adalah kontraksi otot yang mendorong makanan di saluran pencernaan. Kafein dapat memicu pengeluaran hormon gastrin yang memiliki efek meningkatkan pergerakan usus besar. Efek pencahar ini tidak selalu terjadi pada semua orang yang mengonsumsi kafein, hanya pada beberapa orang yang sensitif. Namun, apabila dikonsumsi secara berlebihan, orang yang sensitif dapat mengalami gejala mulas dan diare. Pada orang yang sedang mengalami diare, sebaiknya mengurangi konsumsi kafein sehingga tidak memperberat gejalanya.

Selanjutnya, kafein dapat mengganggu metabolisme GABA (Gamma-aminobutyric acid). GABA adalah pembawa sinyal syaraf yang diproduksi secara alami di otak dan saluran pencernaan. GABA memainkan peran penting dalam mengatur suasana hati dan stress, serta memberikan efek menenangkan pada saluran cerna. Dalam kasus iritasi usus besar (IBS), efek kafein ini dapat memperburuk gejalanya. Selain efek langsung pada saluran cerna, peran GABA dalam manajemen stress juga terganggu dengan adanya kafein dimana stress diketahui sebagai faktor yang memicu terjadinya iritasi usus besar.

Konsumsi minuman berkafein sebaiknya dihindari apabila Anda mengalami peradangan pada kandung empedu, salah satunya radang yang terjadi akibat batu empedu yang menghalangi saluran empedu. Minuman berkafein dapat memperburuk gejala peradangannya. Kafein menyebabkan kandung empedu yang meradang berkontraksi sehingga menyebabkan rasa sakit hebat di bagian kanan atas perut. Rasa sakit ini dapat menyebar dari perut ke bahu kanan.

.

Apa Manfaat Kafein bagi Saluran Cerna?

Selain efek negatif yang telah disebutkan, ternyata kafein juga memiliki efek positif bagi saluran cerna kita. Kafein disebut-sebut dapat mengurangi risiko terjadinya kanker pada usus besar. Kafein dapat bertindak sebagai antioksidan yang melindungi sel dari stres oksidatif dan membantu memperbaiki DNA. Stres oksidatif adalah kerusakan pembuluh darah dan organ akibat gerakan radikal bebas yang tak terkendali. Selain mengurangi risiko terjadinya kanker usus besar, efek antioksidan yang ada di kafein diyakini mampu melindungi organ hati dari kerusakan. Kafein dapat mengurangi risiko terjadinya sirosis hati dan memperlambat laju pengembangan penyakit pada infeksi hepatitis C. Suatu penelitian menunjukkan bahwa kafein mungkin memiliki manfaat perlindungan bagi orang dengan kanker hati.

Penelitian lain juga menunjukkan sisi positif dari kafein bagi organ kecil pada saluran pencernaan, yaitu organ empedu. Kafein dikatakan dapat membantu menurunkan risiko terjadinnya batu empedu dikarenakan kafein dapat merangsang kontraksi kandung empedu dan aliran empedu sehingga mencegah empedu mengkristal dan menjadi batu. Kafein dapat merangsang pelepasan hormon kolesistokinin yang dapat meningkatkan kontraksi kandung empedu, meningkatkan fungsi lapisan kandung empedu, dan mengurangi pengkristalan kolesterol dalam empedu. Efek ini telah dihipotesiskan bergantung pada jumlah kandungan kafeinnya. Namun perlu diingat, apabila Anda sudah memiliki riwayat batu empedu dan sudah terjadi peradangan yang salah satunya ditandai muncul gejala nyeri pada perut bagian kanan atas, maka kafein perlu dihindari.

.

Sebagai minuman yang populer saat ini, minuman berkafein ternyata memiliki efek negatif maupun positif bagi saluran cerna. Jadi, jika Anda ingin menyeduh teh, kopi, atau mengonsumsi minuman lainnya yang mengandung kafein, ingat untuk senantiasa menjaga dosis kafein harian pada kisaran yang tidak berlebihan. Apabila Anda sensitif terhadap efek dari kafein atau sedang memiliki keluhan pencernaan seperti diare, perut terasa panas atau nyeri, dan tidak nyaman, lebih baik Anda menghindari sementara minuman berkafein.

.

Referensi
Grosso, G., Godos, J., Galvano, F., Giovannucci, EL. 2017. Coffee, Caffeine, and Health Outcomes: An Umbrella Review. Annual Review of Nutrition, 37:131-57.

Schmit, SL., Rennert, HS.,Rennert, G., Gruber1,SB. 2016. Coffee Consumption and the Risk of Colorectal Cancer. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. 25(4): 634–639.

Bai, K., Cai, Q., Jiang, Yi., Lizhi. 2016. Coffee consumption and risk of hepatocellular carcinoma: a meta-analysis of eleven epidemiological studies.Onco Targets Ther, 9: 4369–4375.

Boekema, PJ., Samsom, M., Henegouwen, GP., Smout, AJ. 1999. Coffee and gastrointestinal function: facts and fiction. A review. Scand J Gastroenterol Suppl,230: 35-39.

Lohsiriwat, S., Puengna, N., Leelakusolvong, S. 2006. Effect of caffeine on lower esophageal sphincter pressure in Thai healthy volunteers. Dis Esophagus. Dis Esophagus, 19(3): 183-188.

Nwokediuko, S. 2009. Gastroesophageal Reflux Disease: A Population Based Study. Gastroenterology Res, 2(3):152-156.

Shimamoto, T., Yamamichi, N., Kodashima, S., Takahashi, Y., Fujishiro, M., Oka, M. et al. 2013. No association of coffee consumption with gastric ulcer, duodenal ulcer, reflux esophagitis, and non-erosive reflux disease: a cross-sectional study of 8,013 healthy subjects in Japan. PLoS One, 8(6).

Liszta, KI., Leyc, JP., Liedera,B., Behrensd, M., Stögerb, V., Reinere, A., et al. 2017. Caffeine induces gastric acid secretion via bitter taste signaling in gastric parietal cells.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*