Apakah Baik Mengonsumsi Daging Merah untuk Saluran Cerna Anda?

Sumber gambar: freepik.com

Daging merah merupakan bahan makanan yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat dan seringkali disajikan dalam berbagai masakan karena rasanya lezat dan mengandung nilai gizi yang tinggi. Tidak heran bila sebagian orang seringkali mengonsumsi daging merah dalam keseharian. Daging merah merupakan salah satu sumber protein hewani yang tinggi, protein ini disebut sebagai asam amino yang berguna untuk pertumbuhan, pemeliharaan, dan perbaikan serta pembentukan berbagai jaringan tubuh. Daging merah juga tinggi akan zat besi sehingga pada orang yang anemia akibat kekurangan zat besi dianjurkan untuk rutin mengonsumsi daging merah. Selain itu, daging merah kaya akan vitamin, mineral, dan mengandung omega-3 yang baik untuk kesehatan. Contoh dari daging merah adalah daging hewan ternak, seperti daging sapi, kerbau, domba, kambing, dan kuda. Meskipun daging merah bergizi dan mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, bila dikonsumsi berlebihan dapat berisiko menimbulkan berbagai penyakit.

..

Penyakit saluran cerna apa saja yang dapat disebabkan karena mengonsumsi daging merah berlebihan?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak mengonsumsi daging merah yang belum terolah (seperti steak), sudah terolah seperti diasinkan atau diasap (bacon atau ham) dan yang mengandung tinggi lemak dapat menyebabkan gangguan pada saluran cerna dan menimbulkan penyakit. Berikut beberapa penyakit saluran cerna yang bisa disebabkan karena mengonsumsi daging merah belebihan.

.

GERD
GERD (Gatroesophageal Reflux Disease) adalah penyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan yang menimbulkan gejala dada seperti terbakar dan rasa pahit di daerah mulut. GERD yang berulang dan berlangsung lama berpotensial terjadinya komplikasi, yaitu kanker esofagus atau kanker kerongkongan. Suatu penelitian menunjukkan mengonsumsi daging merah yang mengandung banyak lemak dan daging merah olahan secara berlebihan memiliki risiko tinggi untuk terjadinya GERD. Pada orang yang sudah memiliki keluhan GERD, konsumsi daging merah dalam jumlah berlebihan dapat memperburuk gejalanya.

Beberapa daging merah memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi dibandingkan makanan lain sehingga akan lebih lambat dicerna oleh lambung dan tetap berada di perut lebih lama. Lama-kelamaan lambung akan penuh dan memberikan tekanan pada LES (Lower esophageal sphincter) yaitu katup yang berada diantara bagian bawah kerongkongan dan lambung yang berfungsi sebagi pintu otomatis agar ketika makanan masuk ke lambung, makanan tersebut tidak kembali ke kerongkongan. Semakin lama katup tertekan, semakin besar kemungkinan sebagian isi lambung akan menyelinap ke kerongkongan, sehingga meningkat pula kerongkongan terpapar oleh asam lambung.

.

Divertikulitis
Divertikulitis adalah peradangan usus yang terjadi pada divertikula, yaitu kantong-kantong yang terbentuk di saluran cerna terutama di usus besar. Gejala penyakit ini antara lain nyeri pada perut, sembelit atau diare, perut kembung, dan terkadang buang air besar disertai lendir. Suatu penelitian menunjukkan, pada kelompok yang terlalu banyak mengonsumsi daging merah, yaitu lebih dari 6 kali perminggu memiliki risiko terjadinya divertikulitis sebesar 58%. Hal ini disebabkan karena konsumsi daging merah dalam jumlah banyak dapat mengganggu keseimbangan bakteri dalam usus. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menurunkan pertahanan kekebalan di saluran cerna sehingga rentan terjadi peradangan. Dibandingkan dengan daging merah olahan, daging merah yang belum terolah seperti steak dan suhu memasak yang lebih tinggi memiliki hubungan yang lebih kuat untuk terjadinya radang usus.

.

Konstipasi
Konstipasi atau biasa disebut sembelit merupakan kondisi sulit buang air besar, dimana frekuensi buang air besar lebih sedikit dari biasanya. Sembelit menyebabkan gejala rasa tidak puas saat buang air besar dan tinja yang keras. Mengapa konsumsi daging merah berlebihan dapat menyebabkan gejala konstipasi? Umumnya, daging merah memiliki kadar lemak tinggi dan serat yang rendah. Dua hal tersebut menyebabkan daging merah membutuhkan lebih banyak waktu untuk dicerna. Daging merah juga mengandung tinggi zat besi yang bisa membuat tinja semakin keras.

Mengingat daging merah mengandung sedikit serat, alangkah baiknya jika diimbangi dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan serat seperti buah dan sayur untuk memperlancar buang air besar. Serat yang terkandung dalam sayur dan buah juga dapat mengurangi lemak pada perut.

.

Kanker pada Saluran Cerna
Sering kita dengar bahwa konsumsi daging merah yang berlebihan dikaitkan sebagai salah satu penyebab terjadinya kanker. Namun, benarkah daging merah bisa sebabkan kanker? Ternyata, sampai saat ini banyak penelitian yang telah meneliti hubungan antara konsumsi daging merah dengan berbagai macam kanker, termasuk kanker pada saluran cerna.

Orang yang mengonsumsi daging merah berlebihan ternyata lebih berisiko tinggi terkena kanker esofagus, kanker lambung, kanker pankreas, dan kanker usus besar. Studi penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi daging merah dalam jumlah besar (>100 gram sehari), terutama daging merah olahan (>50 gram sehari), berisiko lebih tinggi terkena kanker usus besar.

Mengapa daging merah bisa menyebabkan kanker?
Daging merah mengandung heme iron yang menyebabkan warna merah pada daging. Kandungan heme iron yang tinggi pada daging merah diduga memegang peranan penting dalam pembentukan sel kanker. Heme iron diduga bisa merusak lapisan usus besar, mengganggu keseimbangan bakteri dalam usus, dan memicu pembentukan zat yang menyebabkan kanker seperti N-nitroso compound (NOC). Daging merah olahan biasanya diawetkan dengan penambahan nitrat dan nitrit yang dapat meningkatkan pembentukan NOC. Semakin banyak zat tersebut terbentuk, semakin tinggi risiko munculnya sel kanker.

Daging merah yang terolah dengan suhu tinggi juga dapat mengeluarkan zat yang dapat mencetuskan timbulnya sel kanker. Oleh karena itu, hindari memanggang dan menggoreng daging merah dengan suhu panas yang terlalu tinggi. Gunakan suhu menengah, namun masak sedikit lebih lama.

.

Terlalu banyak mengonsumsi daging merah memang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, namun bukan berarti Anda tidak boleh mengonsumsi daging merah sama sekali. Daging merah tetap boleh dikonsumsi, hanya saja perlu diperhatikan porsi dan cara mengolahnya.

.

Referensi
Sasso, A., Latella, G. 2019. Role of Heme Iron in the Association Between Red Meat Consumption and Colorectal Cancer. Nutr Cancer. 70 (8), 1173-1183.

Williams, P. 2007. Nutritional composition of red meat. Nutrition & Dietetics. 64(4), 113–119.

Cao, Y., Strate, LL., Keeley, BR., Tam, I., Wu, K., Giovannucci, EL., et al. 2018. Meat intake and risk of diverticulitis among men. Gut. 67(3), 466–472.

O’ Doherty, MG., Cantwell, MM, Murray, LJ., Anderson, LA., Abnet, CC. 2011. Dietary fat and meat intakes and risk of reflux esophagitis, Barrett’s esophagus and esophageal adenocarcinoma. Int. J. Cancer. 129, 1493–1502.

Wyness, L., Weichselbaum, E., O’Connor, A., Williams, EB., Benelam, B.,Riley, H. et al. 2011. Red meat in the diet: an update. Nutrition Foundation Nutrition Bulletin, 36, 34–77.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*