Bubuk Cabai: Ketahui Berbagai Dampak dan Manfaatnya bagi Saluran Cerna

Sumber gambar: pixabay.com

Bubuk cabai merupakan fenomena yang sedang populer di kalangan masyarakat. Kini semakin banyak makanan yang menawarkan selera pedas dengan derajat kepedasan yang berbeda-beda. Tidak jarang bubuk cabai digunakan untuk mengatur derajat kepedasaan tersebut. Mari kita bahas bagaimana dampak dari makanan pedas terutama yang menggunakan bubuk cabai terhadap kesehatan saluran cerna.

.

Bagaimana pengaruh makanan pedas dan bubuk cabai terhadap saluran cerna?

Makanan pedas, cabai, atau yang sedang populer sekarang yakni bubuk cabai merupakan makanan yang populer dikonsumsi oleh orang Asia berkisar 2,5 hingga 8 gram per orang. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang Eropa dan orang Amerika.

Makanan pedas mengandung cabai atau yang biasa dikenal dengan capsaicin sering kali disalahkan pada gangguan saluran cerna. Makanan pedas, yang berasal dari bubuk cabai ataupun bukan, memiliki reseptor nyeri pada dinding permukaan saluran cerna. Reseptor adalah ujung saraf yang peka terhadap rangsangan. Rangsangan pada reseptor permukaan ini juga ditemukan pada gangguan saluran cerna yang fungsional, yaitu suatu keadaan yang tidak ditemukan adanya kelainan organ yang menimbulkan suatu keluhan ataupun tanda. Hal ini akan semakin diperberat pada orang yang memliki reseptor lebih banyak pada permukaan saluran cerna atau hipersensitif. Reseptor ini jugalah yang menyebabkan ada perbedaan orang yang kuat mengonsumsi makanan pedas dan ada juga yang tidak kuat. Namun konsumsi bubuk cabai atau makanan pedas yang berulang akan dapat mengurangi atau menghilangkan hipersensitivitas saluran cerna terhadap bubuk cabai atau makanan pedas.

Capsaicin yang merupakan kandungan didalam cabai ataupun bubuk cabai mampu menimbulkan rasa nyeri dan terbakar akibat rangsangan pada reseptor yang terdapat pada permukaan saluran cerna. Pada seseorang yang memiliki penyakit refluks gastroesofageal/ Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), konsumsi capsaicin dapat menyebabkan gejala heartburn (rasa terbakar di dada) akibat efek langsungnya pada saraf sensorik di esofagus. Hal ini juga ditemukan pada pasien dengan irritable bowel syndrome (IBS) dimana ditemukan peningkatan kejadian diare karena bubuk cabai memiliki kemampuan untuk merangsang persarafan pada usus sehingga akan meningkatkan gerak usus. Hal ini berdampak pada peningkatan waktu pengosongan lambung dan yang terkadang menyebabkan seseorang menjadi merasa ingin buang air besar setelah banyak mengonsumsi bubuk cabai atau makanan pedas.

Bubuk cabai atau makanan pedas juga meningkatkan sensasi pada rektum yang terkadang dapat disertai dengan adanya rasa tidak nyaman atau panas. Sehingga terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman ketika buang air besar. Namun hal ini tidak berhubungan dengan kejadian wasir.

Namun dibalik keluhan yang dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi bubuk cabai atau makanan pedas, capsaicin dapat memberikan manfaat pada pasien dengan tukak saluran cerna. Biasanya orang akan menghindari makanan pedas untuk menghindari atau mengurangi keluhan pada saluran cerna. Perlu diketahui bahwa bubuk cabai bersifat melindungi permukaan lambung. Hal ini dikarenakan bubuk cabai bersifat senyawa alkali yang mampu menekan produksi asam lambung dan mampu meningkatkan produksi lendir yang melindungi permukaan lambung. Selain itu, bubuk cabai dapat meningkatkan aliran darah pada permukaan lambung sehingga dapat meningkatkan penyembuhan tukak pada permukaan lambung. Bubuk cabai juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri Helicobacter pylori yang merupakan penyebab utama dari tukak saluran cerna yang dapat berdampak pada perdarahan saluran cerna bagian atas. Penghambatan dapat dengan menciptakan suasana alkali yang tidak nyaman bagi bakteri tersebut atau menghambat pertumbuhan dari bakteri secara langsung.

Oleh karena itu, terdapat beragam manfaat dan juga dampak yang diberikan akibat mengonsumsi bubuk cabai. Yang terpenting adalah mengenali kondisi saluran cerna Anda, apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk mengonsumsi cabai atau tidak. Riwayat IBS, diare, dan hipersensitif tentu menjadi pertimbangan untuk tidak mengonsumsi bubuk cabai. Namun jangan lupa bahwa bubuk cabai juga memiliki manfaat dalam mencegah atau mengobati tukak saluran cerna.

.

Referensi
Aniwan S, Gonlachanvit S. Effects of chili treatment on gastrointestinal and rectal sensation in diarrhea-predominant irritable bowel syndrome: a randomized, double-blinded, crossover study. Journal of neurogastroenterology and motility. 2014 Jul;20(3):400.

Gonlachanvit S, Mahayosnond A, Kullavanijaya P. Effects of chili on postprandial gastrointestinal symptoms in diarrhoea predominant irritable bowel syndrome: evidence for capsaicin‐sensitive visceral nociception hypersensitivity. Neurogastroenterology & Motility. 2009 Jan;21(1):23-32.

Gonlachanvit S. Are rice and spicy diet good for functional gastrointestinal disorders?. Journal of neurogastroenterology and motility. 2010 Apr;16(2):131.

Satyanarayana MN. Capsaicin and gastric ulcers. Critical reviews in food science and nutrition. 2006 Jul 1;46(4):275-328.

Evangelista S. Novel therapeutics in the field of capsaicin and pain

Debreceni A, Abdel-Salam OM, Figler M, Juricskay I, Szolcsányi J, Mózsik G. Capsaicin increases gastric emptying rate in healthy human subjects measured by 13C-labeled octanoic acid breath test. Journal of Physiology-Paris. 1999 Nov 1;93(5):455-60.

Jones NL, Shabib S, Sherman PM. Capsaicin as an inhibitor of the growth of the gastric pathogen Helicobacter pylori. FEMS Microbiology Letters. 1997 Jan 1;146(2):223-7.

Stanley S. Rodriguez, Collings K. L., Robinson M, Owen W. The effects of capsaicin on reflux, gastric emptying and dyspepsia. 2000 Blackwell Science Ltd, Aliment Pharmacol Ther 14, 129-134.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*