Gastroparesis: Mual, Muntah, dan Kembung akibat Melambatnya Pergerakan Otot Perut

Sumber gambar: freepik.com

Penulis: dr. Aritantri Darmayani, MSc, SpPD
Sub Bagian Gastroentero dan Hepatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) – RSUD dr. Moewardi, Surakarta

Gastroparesis adalah suatu kondisi yang memengaruhi pergerakan spontan otot-otot (motilitas) di perut. Normalnya setelah menelan makanan, otot-otot dalam dinding perut akan menggiling makanan menjadi bentuk yang lebih kecil dan mendorong masuk ke dalam usus halus. Pada gastroparesis, motilitas perut akan melambat atau tidak berfungsi sama sekali, mencegah pengosongan perut yang benar, sehingga menyebabkan pengosongan lambung memakan waktu yang lama.

Tanda dan Gejala Gastroparesis

Tanda dan gejala gastroparesis meliputi:

  • Muntah
  • Mual
  • Perasaan kenyang setelah makan hanya beberapa gigitan
  • Memuntahkan makanan yang tidak tercerna yang dimakan beberapa jam sebelumnya
  • Refluks asam lambung
  • Perut kembung
  • Sakit perut
  • Perubahan kadar gula darah
  • Kurang nafsu makan
  • Penurunan berat badan dan gizi buruk
  • Banyak orang dengan gastroparesis tidak memiliki tanda dan gejala yang nyata.
Ilustrasi Gastroparesis
(Sumber gambar: emedprimarycare.com)

Penyebab Gastroparesis

Tidak selalu jelas apa yang menyebabkan gastroparesis. Namun dalam banyak kasus, gastroparesis diyakini disebabkan oleh kerusakan saraf yang mengendalikan otot perut (saraf vagus). Saraf vagus membantu mengelola proses kompleks dalam saluran pencernaan, termasuk memberi sinyal pada otot-otot di perut untuk berkontraksi dan mendorong makanan ke dalam usus halus. Saraf vagus yang rusak tidak dapat mengirim sinyal secara normal ke otot perut. Hal ini dapat menyebabkan makanan lebih lama berada di perut dan tidak bergerak secara normal ke usus halus untuk dicerna.

Saraf vagus dapat rusak oleh penyakit, seperti diabetes, operasi perut (esofagus/ kerongkongan, lambung, dan usus halus), atau terapi radiasi di area dada dan perut. Obat-obatan tertentu, seperti penghilang rasa sakit opioid, beberapa antidepresan, obat tekanan darah tinggi dan alergi dapat menyebabkan perlambatan pengosongan lambung dan menyebabkan gejala yang serupa. Bagi orang yang sudah menderita gastroparesis, obat-obatan ini dapat memperburuk kondisinya.

Faktor-faktor yang dapat Meningkatkan Risiko Gastroparesis

  • Diabetes
  • Operasi perut atau esofagus
  • Infeksi, biasanya virus
  • Obat-obatan tertentu yang memperlambat laju pengosongan lambung, seperti obat-obatan nyeri, narkotika
  • Scleroderma (penyakit jaringan ikat)
  • Penyakit sistem saraf, seperti penyakit Parkinson atau multiple sclerosis
  • Hipotiroidisme (Kadar hormon tiroid rendah)
  • Wanita lebih mungkin mengalami gastroparesis daripada pria.

Komplikasi Gastroparesis

Komplikasi yang bisa disebabkan gastroparesis adalah:

  • Dehidrasi berat. Muntah yang berkelanjutan dapat menyebabkan dehidrasi
  • Malnutrisi. Nafsu makan yang buruk bisa menyebabkan tidak mengonsumsi cukup kalori, atau mungkin tidak dapat menyerap nutrisi yang cukup karena muntah
  • Perubahan kadar gula darah yang tidak terduga. Meskipun gastroparesis tidak menyebabkan diabetes, perubahan yang sering terjadi pada laju dan jumlah makanan yang masuk ke usus kecil dapat menyebabkan perubahan kadar gula darah yang tidak menentu. Variasi dalam gula darah ini memperburuk diabetes. Kontrol kadar gula darah yang buruk membuat gastroparesis semakin buruk
  • Kualitas hidup menurun. Kambuhnya gejala akut dapat menyebabkan sulit untuk bekerja dan melakukan aktivitas.

Diagnosis Gastroparesis

Dokter menggunakan beberapa tes untuk membantu mendiagnosis gastroparesis dan mengesampingkan kondisi yang dapat menyebabkan gejala yang sama. Tes dapat meliputi:

  • Studi pengosongan lambung. Ini adalah tes paling penting yang digunakan dalam membuat diagnosis gastroparesis. Tes ini melibatkan makan-makanan ringan, seperti telur dan roti panggang, yang mengandung sejumlah kecil bahan radioaktif. Pemindai yang mendeteksi pergerakan bahan radioaktif ditempatkan di atas perut untuk memantau kecepatan makanan meninggalkan perut
  • Endoskopi saluran cerna bagian atas. Prosedur ini digunakan untuk memeriksa secara visual sistem pencernaan bagian atas, yang terdiri dari kerongkongan, lambung dan bagian awal usus kecil (duodenum), dengan kamera kecil di ujung tabung yang panjang dan fleksibel
  • Ultrasonografi. Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar struktur dalam tubuh. Ultrasonografi dapat membantu mendiagnosis apakah ada masalah dengan kandung empedu atau gejala ginjal
  • Pemeriksaan rontgent saluran cerna bagian atas. Ini adalah serangkaian sinar-X dimana pasien minum cairan putih yaitu kapur (barium) yang melapisi sistem pencernaan untuk membantu melihat kelainan muncul.

Pengobatan Gastroparesis

Mengobati gastroparesis dimulai dengan mengidentifikasi dan mengobati kondisi yang mendasarinya. Jika diabetes yang menyebabkan gastroparesis, dokter dapat membantu mengendalikannya.

Perubahan pola makan
Mempertahankan nutrisi yang cukup adalah tujuan paling penting dalam pengobatan gastroparesis. Perubahan pola makan adalah langkah pertama dalam mengelola kondisi gastroparesis.

  • Makanlah dengan porsi kecil lebih sering
  • Kunyah makanan sampai tuntas
  • Makanlah buah dan sayuran yang dimasak dengan baik daripada buah dan sayuran mentah
  • Pilih sebagian besar makanan rendah lemak, tetapi jika bisa mentolerirnya, tambahkan sedikit porsi makanan berlemak ke dalam diet
  • Cobalah sup dan makanan bubur jika cairan lebih mudah ditelan
  • Minumlah sekitar 1 hingga 1,5 liter air sehari
  • Berolahraga ringan setelah makan, seperti berjalan-jalan
  • Hindari minuman berkarbonasi, alkohol, dan merokok
  • Cobalah untuk menghindari berbaring selama 2 jam setelah makan
  • Minum multivitamin setiap hari

Berikut daftar singkat makanan yang direkomendasikan untuk penderita:

  • Pati
  • Roti putih, roti gulung, dan roti gandum “ringan” tanpa kacang atau biji
  • Bagel (roti berbentuk cincin seperti donat) polos atau telur
  • Muffin
  • Tepung atau tortilla jagung
  • Pancake
  • Gandum dan sereal beras
  • Krim gandum
  • Kerupuk putih
  • Kentang
  • Nasi
  • Spageti
  • Daging sapi tanpa lemak, sapi dan babi (tidak digoreng)
  • Ayam atau kalkun (tanpa kulit dan tidak digoreng)
  • Kepiting, lobster, udang, kerang, dan tiram
  • Tuna
  • Keju
  • Telur
  • Tahu
  • Saus tomat, pasta, dan jus
  • Wortel (dimasak)
  • Bit (dimasak)
  • Jamur (dimasak)
  • Jus sayuran
  • Kaldu sayur
  • Jus buah dan minuman
  • Saus apel
  • Pisang
  • Persik dan pir
  • Susu, jika ditoleransi
  • Yoghurt
  • Puding

Obat-obatan
Obat-obatan untuk mengobati gastroparesis meliputi obat untuk merangsang otot perut. Obat-obat ini termasuk metoklopramid, eritromisin dan domperidon. Metoklopramid memiliki risiko efek samping ekstrapiramidal* yang serius. Eritromisin merupakan antibiotik yang dapat membantu pengosongan lambung, namun kehilangan efektivitasnya seiring waktu, dan dapat menyebabkan efek samping, seperti diare. Obat yang lebih baru, domperidon, dengan efek samping yang lebih sedikit.

*Ekstrapiramidal adalah suatu kondisi yang menimbulkan gerakan otot tak sadar atau kejang yang biasanya terjadi pada wajah dan leher

Pemasangan selang makan
Pemasangan selang makan dapat melewati hidung, mulut, atau kulit langsung ke usus kecil. Tabung ini biasanya bersifat sementara dan hanya digunakan ketika gastroparesis parah atau ketika kadar gula darah tidak dapat dikontrol dengan metode lain. Beberapa orang mungkin memerlukan pemberian nutrisi melalui selang infus yang masuk langsung ke pembuluh darah di dada.

Terapi endoskopi
Endoskopi dilakukan untuk menempatkan tabung kecil (stent) di bagian perut yang terhubung ke usus kecil (duodenum) sehingga menjaga saluran ini tetap terbuka.

Pembedahan
Beberapa orang dengan gastroparesis mungkin tidak dapat mentolerir makanan atau cairan apa pun. Dalam situasi ini, dapat direkomendasikan tabung makanan (tabung jejunostomi) ditempatkan di usus kecil.

Stimulus Listrik Lambung
Dapat bermanfaat pada gastroparesis yang diakibatkan diabetes mellitus dan dengan muntah yang berkelanjutan.

Referensi
Gastroparesis. The National Digestive Diseases Information Clearinghouse. https://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/digestive-diseases/gastroparesis/Pages/facts.aspx. Accessed Feb. 3, 2019

Bharucha AE. Epidemiology and natural history of gastroparesis. Gastroenterology Clinics of North America. 2015;44:9

Clinical guideline: Management of gastroparesis. Bethesda, Md.: American College of Gastroenterology. http://gi.org/guideline/management-of-gastroparesis/. Accessed Feb. 3, 2019

Bouras EP, et al. Gastroparesis: From concepts to management. Nutrition in Clinical Practice. 2013;28:437

Parrish CR. Nutritional considerations in the patient with gastroparesis. Gastroenterology Clinics of North America. 2015;44:83

Camilleri M. Novel diet, drugs, and gastric interventions for gastroparesis. Clinical Gastroenterology and Hepatology. 2016;14:1072

Stein BJ, et al. Gastroparesis: A review of current diagnosis and treatment options. Journal of Clinical Gastroenterology. 2015;49:550

Pasricha PJ, et al.Outcomes and factors associated with reduced symptoms in patients with gastroparesis. Gastroenterology. 2015;149:1762

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*