Hati-hati! Obat Pereda Nyeri Dapat Menyebabkan Gangguan hingga Perdarahan Saluran Cerna

Sumber gambar: freepik.com

Obat anti inflamasi non steroid (NSAID) atau yang biasa kita kenal sebagai obat anti nyeri (termasuk juga untuk demam dan peradangan) merupakan salah satu obat yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Keluhan nyeri dan demam biasanya menyebabkan orang membeli obat di apotek terdekat untuk meringankan gejala nyeri yang dirasakannya. Sering kali hal ini dilakukan sebelum berkonsultasi dahulu dengan dokter. Salah satu faktornya adalah karena obat anti nyeri dijual secara bebas di apotek sehingga dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Namun perlu dipahami bahwa mengonsumsi obat anti nyeri terus-menerus atau tanpa petunjuk dokter dapat berdampak pada gangguan saluran cerna. Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai dampak yang disebabkan oleh mengonsumsi obat anti nyeri yang kurang tepat pada saluran cerna.

.

Seberapa besar dampak dari obat anti nyeri bagi saluran cerna?

Sebagian besar efek samping yang ditimbulkan oleh obat anti nyeri bersifat ringan dan sementara. Hanya sebagian kecil yang berdampak menjadi luka pada saluran cerna, namun sebagian kecil yang menjadi luka ini dapat berkembang menjadi perdarahan ataupun kebocoran pada saluran cerna. Ada beberapa keadaan dimana seseorang menjadi lebih berisiko untuk mengalami gangguan pada saluran cerna apabila mengkonsumsi obat anti nyeri secara terus-menerus atau tidak tepat, diantaranya:

  • Usia lanjut
  • Penggunaan bersamaan dengan steroid (obat anti peradangan)
  • Pernah mengalami gangguan saluran cerna yang disebabkan obat anti nyeri
  • Penggunaan ganda obat anti nyeri
  • Disertai adanya infeksi bakteri H. pylori di saluran cerna

Gejala yang ditimbulkan oleh obat anti nyeri beragam, mulai dari rasa seperti terbakar di ulu hati hingga perdarahan pada saluran cerna. Di Amerika, kejadian ini terjadi pada 70% orang dengan usia diatas 65 tahun yang mengonsumsi obat anti nyeri sekali dalam seminggu. Diperkirakan 25% dari orang yang mengkonsumsi obat anti nyeri jangka panjang akan mengalami luka (tukak) dan 2% – 4% akan mengalami perdarahan pada saluran cerna. Di Indonesia, angka kejadiannya berkisar 20% – 70%. Keadaan ini banyak ditemukan pada orang dengan nyeri sendi dan autoimun dikarenakan ketergantungan terhadap obat tersebut untuk mengurangi gejala nyeri yang dirasakan.

Obat anti nyeri yang memiliki efek lebih rendah terhadap terjadinya gangguan pada permukaan lambung dan usus diantaranya ibuprofen, naproxen, meloxikam, dan etodolak. Obat anti nyeri yang memiliki risiko menengah, yaitu sulindak, diklofenak, dan ketoprofen. Sedangkan obat anti nyeri yang memiliki risiko lebih tinggi, yaitu sulindak, piroxikam, dan ketorolac.

.

Mengapa obat anti nyeri dapat menimbulkan gangguan pada lambung?

Mekanisme pertama disebabkan oleh kandungan dari obat anti nyeri yang bersifat asam dan mudah menembus lapisan lambung. Sehingga dapat mengiritasi lapisan lambung dan apabila berlangsung lama dapat menimbulkan kerusakan pada dinding lambung.

Mekanisme kedua disebabkan oleh fungsi dari obat anti nyeri itu sendiri. Salah satu kerja obat anti nyeri adalah menghambat senyawa prostaglandin yang salah satu fungsinya adalah melindungi lapisan lambung dari bahan-bahan yang mengiritasi. Penurunan dari kadar prostaglandin akan memudahkan terjadinya iritasi pada permukaan lambung. Sehingga dapat kita pahami bahwa obat anti nyeri selain mengiritasi lapisan lambung juga menurunkan fungsi pertahanan dari lambung itu sendiri, dimana menjadi beban ganda yang berdampak pada gangguan saluran cerna.

Sedangkan pada usus halus, luka yang ditimbulkan oleh obat anti nyeri sedikit berbeda dari lambung, yaitu luka disebabkan oleh proses penyerapan obat di usus halus. Dalam jangka panjang, hasil penyerapan tersebut dapat merusak permukaan usus halus yang berujung pada luka atau bahkan perdarahan dan kebocoran usus halus.

.

Bagaimana saya mengetahui bahwa saya mengalami gangguan saluran cerna yang disebabkan oleh obat anti nyeri atau tidak?

Keluhan yang ditimbulkan dapat menyerupai gangguan pada lambung lainnya seperti rasa tidak nyaman pada ulu hati, rasa perih, atau bahkan hingga disertai adanya muntah berwarna kehitaman. Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan dengan menggunakan endoskopi. Pada endoskopi, dapat ditemukan adanya luka-luka kecil yang dapat disertai sedikit perdarahan. Keadaan seperti ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Keadaan yang lebih berat dapat ditemukan adanya luka dengan perdarahan yang cukup banyak, apabila berlanjut dapat ditemukan adanya kebocoran pada saluran cerna.

.

Bagaimana mengatasi gangguan saluran cerna yang dicetuskan oleh obat anti nyeri?

Pertama, perlu dipahami bagaimana cara mencegah terjadinya gangguan pada saluran cerna apabila pasien memang benar membutuhkan obat anti nyeri berulang atau dalam jangka panjang. Diperlukan penilaian apakah pasien memiliki faktor risiko seperti yang telah disebutkan diatas. Pada pasien yang berisiko mengalami gangguan saluran cerna dan harus mengonsumsi obat anti nyeri, dapat diberikan pencegahan dengan menggunakan obat lambung golongan protein pump inhibitor seperti omeprazol. Selain itu, dapat juga dilakukan penggantian obat anti nyeri ke golongan COX-2 selektif dimana jauh lebih aman bagi lambung karena bekerja selektif dengan tidak menurunkan produksi prostaglandin yang berperan dalam melindungi permukaan lambung.

Kondisi ringan dapat sembuh dengan sendirinya walaupun terkadang obat anti nyeri harus tetap dilanjutkan. Untuk mengurangi gangguan di saluran cerna, dapat diberikan obat untuk menurunkan produksi asam lambung dan pelindung lapisan lambung. Pada beberapa keadaan berat, penghentian konsumsi obat anti nyeri dengan kombinasi pemberian obat-obat diatas dapat memberikan hasil yang baik.

.

Penggunaan obat anti nyeri yang tidak tepat ataupun tanpa petunjuk dari dokter dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran cerna, terutama pada pasien yang memiliki faktor risiko. Obat anti nyeri, demam, atau anti peradangan tidak perlu menjadi sesuatu yang ditakuti untuk dikonsumsi jika dikonsultasikan dengan dokter, terutama bagi orang yang perlu mengonsumsi cukup sering atau bahkan rutin. Penting juga untuk mengenali gejala yang ditimbulkan agar permasalahan saluran cerna tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat seperti perdarahan atau kebocoran pada saluran cerna. Bagi pasien yang perlu mengonsumsi obat anti nyeri, dapat dipertimbangkan untuk mengonsumsi obat lambung atau mengganti obat anti nyeri dengan golongan COX-2 selektif untuk mencegah terjadinya gangguan pada saluran cerna.

.

Referensi
Hawkey, Cristopher. 2000. Nonsteroidal Anti Inflammatory Drug Gastropathy. Gasteroenterology 2000;119:521-535 : University Hospital Nottingham, Queens Medical Centre

Hirlan. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V : Gastritis Akut. Interna Publishing : Jakarta

Ilone, Stella. Simadibrata, Marcellus. 2016. Diagnosis and Management of Gastroenteropathy Associated to Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs. The Indonesian Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy

Sinha, Mau. Et all. 2013. Current Perspective in NSAID Induced Gastropathy. Hindawi Publishing Mediators of Inflammation Vol. 2013

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*