Sekilas mengenai Endoskopi Saluran Cerna: Apa itu Endoskopi, Risiko dan Persiapan Tindakan (1)

Sumber gambar: id.wikihow.com

Penulis: dr. Saskia Aziza Nursyirwan, SpPD
Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Endoskopi saluran cerna adalah prosedur pemeriksaan menggunakan alat menyerupai selang dengan ujung kamera dan dihubungkan ke layar monitor sehingga dokter dapat melihat secara langsung keadaan yang sesungguhnya terjadi di saluran cerna. Endoskopi sendiri tidak hanya berfungsi sebagai alat deteksi suatu penyakit, tapi dapat pula digunakan untuk menatalaksana keadaan-keadaan tertentu pada saluran cerna, misalnya untuk menghentikan perdarahan (endoskopi hemostatik), mengangkat polip (polipektomi), dan masih banyak kegunaan lainnya.

Gambar 1. Tindakan Endoskopi Saluran Cerna

Endoskopi sendiri terus mengalami perkembangan seiring kemajuan teknologi. Di alat endoskopi tercanggih saat ini bahkan dapat melihat gambaran sel-sel dari saluran cerna, sehingga kelainan seperti kanker dapat terdiagnosis secara langsung pada saat endoskopi.

Endoskopi saluran cerna sendiri dibagi menjadi endoskopi saluran cerna atas (esofagogastroduodenoskopi), endoskopi usus halus (enteroskopi), endoskopi usus besar (kolonoskopi), endoskopi yang dilengkapi dengan ultrasound (Endoscopic Ultrasound/EUS), kapsul endoskopi, dan endoscopic retrograde cholangio-pancreaticography (ERCP). Tidak hanya berfungsi sebagai alat diagnostik, endoskopi juga dapat berfungsi sebagai alat terapi yang bersifat minimal invasif. Invasif adalah prosedur medis dengan memasukkan alat atau benda asing kedalam tubuh.

Esofagogastroduodenoskopi (EGD)

Tindakan EGD dapat melihat bagian kerongkongan, lambung, dan usus 12 jari. Kelainan yang dapat dideteksi diantaranya adalah:

Selain berfungsi sebagai alat diagnostik, tindakan terapeutik yang dapat dilakukan pada EGD adalah tindakan penghentian perdarahan (menggunakan klip, injeksi adrenalin, koagulasi termal), pemasangan selang untuk jalur nutrisi (nasojejunal feeding tube/NJFT, percutaneous endoscopic gastrostomy/PEG), tindakan pengangkatan tumor stadium dini (endoscopic mucosal resection/EMR, endoscopic submucosal dissection/ ESD), dilatasi esofagus, dan lainnya.

Gambar 2. (a) Ilustrasi Tindakan EGD; (b) Gambaran beberapa Tukak Lambung yang Sudah Tidak Aktif Berdarah

Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah endoskopi saluran cerna bawah, dimana dokter akan melihat anus, usus besar, apendiks (usus buntu), dan bagian akhir dari usus halus (ileum terminal). Beberapa macam kelainan yang dapat ketahui diantaranya polip, kanker, ulkus, infeksi, peradangan dari usus, hingga perdarahan dari suatu sumber perdarahan. Berbagai tindakan terapi juga dapat dilakukan melalui kolonoskopi, seperti layaknya tindakan EGD.

Gambar 3. (a) Ilustrasi Tindakan Kolonoskopi; (b) Gambaran Usus Besar Normal

Enteroskopi

Enteroskopi adalah endoskopi saluran cerna bagian tengah (usus halus), dan biasanya dilakukan pada kasus-kasus dengan sumber perdarahan saluran cerna yang tidak terdeteksi asalnya dari saluran cerna atas maupun bawah. Tindakan ini umumnya membutuhkan durasi pemeriksaan yang lebih lama karena panjang usus halus manusia dapat mencapai 6 meter. Umumnya sebelum dilakukan enteroskopi, pemeriksaan pencitraan lain perlu dilakukan (seperti misalnya kapsul endoskopi ataupun CT scan abdomen) untuk mengetahui titik sumber kelainan agar dokter yang mengerjakan tindakan enteroskopi dapat mengetahui apakah enteroskopi dapat dimulai dari mulut atau dari anus. Melalui enteroskopi, dokter dapat melakukan tindakan diagnostik (biopsi), hingga tindakan terapeutik (seperti menghentikan perdarahan, polipektomi, dan lainnya).

Kapsul Endoskopi

Kapsul endoskopi merupakan pemeriksaan dimana pasien menelan kapsul yang berisi kamera kecil yang dapat merekam perjalanannya selama di saluran cerna. Namun, kapsul ini hanya dapat mendiagnosis suatu kelainan di saluran cerna, tidak dapat mengambil sampel jaringan (biopsi), maupun tindakan terapi secara endoskopi.

Gambar 4. Ilustrasi Kapsul Endoskopi dalam Perjalanannya di Usus

Endoscopic ultrasound (EUS)

EUS merupakan alat endoskopi yang dimana ujung selangnya dilengkapi dengan probe ultrasonografi. EUS yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi ini difungsikan untuk melihat lapisan saluran cerna dan juga untuk melihat struktur organ seperti pankreas, hati dan kelenjar getah bening. Keuntungannya dibanding alat USG transabdominal (USG yang dilakukan dari dinding perut) adalah kemampuannya untuk melihat secara lebih jelas pada organ-organ gastrointestinal, serta dapat digunakan untuk melakukan pengambilan jaringan biopsi (fine needle aspiration) pada kelainan-kelainan yang ada. EUS juga dapat digunakan pada kasus-kasus nyeri abdomen hebat akibat kanker pankreas dan peradangan pankreas kronik untuk dilakukan tindakan injeksi obat nyeri pada kumpulan saraf di celiac plexus (celiac plexus block). Tindakan ini sangat bermanfaat untuk pasien-pasien dengan keluhan nyeri yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan nyeri secara oral maupun injeksi. Kegunaan lain EUS diantaranya adalah untuk tindakan drainase bilier, yaitu pada kasus ERCP yang sulit.

Gambar 5. Ilustrasi Endoscopic Ultrasound (EUS)

Endoscopic retrograde cholangio-pancreaticography (ERCP)

ERCP adalah pemeriksaan yang menggabungkan endoskopi dan fluoroskopi (gambaran sinar X yang kontinu) untuk mendiagnosis dan menatalaksana berbagai penyakit pada saluran empedu dan saluran pankreas. Melalui endoskopi, muara dari saluran empedu dan saluran pankreas dapat divisualisasi dengan memasukkan zat kontras kedalam saluran tersebut, untuk selanjutnya dokter akan melihat kelainan pada saluran tersebut melalui fluoroskopi. Ekstraksi batu saluran empedu dan pemasangan stent dapat dikerjakan pada kasus penyempitan akibat kelainan jinak maupun akibat kanker.

Gambar 6. Ilustrasi Endoscopic Retrograde Cholangio – Pancreaticography (ERCP)

Nah sudah tahu kan apa itu endoskopi dan jenis-jenis pemeriksaannya.

Lalu apa saja risiko tindakan endoskopi dan bagaimana prosedur atau tahapan sejak persiapan hingga endoskopi selesai dilakukan?

Tunggu artikel dari kami selanjutnya!

Referensi:
Cotton PB, Williams CB. Practical gastrointestinal endoscopy: the fundamentals. Wiley-Blackwell. 2008. 6th editio

Faigel DO, GM Eisen, TH Baron, JA Dominitz, JL Goldstein, WK Hirota, BC Jacobson, et al. Preparation of patients for GI endoscopy. Gastrointest Endosc 2003; 57(4): 446-450

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*