Infeksi dan penyakit saluran cerna
Saluran cerna bertanggung jawab untuk memecah makanan menjadi nutrisi yang dapat digunakan dan diserap ke dalam darah. Proses ini juga menghasilkan limbah atau kotoran yang melewati usus besar. Saluran pencernaan dapat bekerja dengan baik bergantung pada beberapa komponen termasuk keseimbangan mikrob usus. Ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat dalam saluran pencernaan berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi, begitu pula sebaliknya. Adanya infeksi pada saluran cerna mengakibatkan bau yang tidak sedap pada gas dan tinja yang dikeluarkan, diantaranya bakteri Clostridium difficile, E. coli, Salmonella dan parasit Giardia lamblia yang membuat penderitanya mengalami diare yang berbau busuk.
Infeksi dapat menyebabkan buang gas yang berlebihan dengan bau yang tidak sedap, tinja yang berbau busuk, nyeri perut, diare, demam, mual, muntah, serta kelelahan. Ketika seseorang mengalami gejala-gejala ini, mereka harus berkonsultasi dengan dokter sesegera mungkin. Sangat penting untuk menyingkirkan dan mengobati kondisi lain yang dapat menyebabkan kentut dan tinja bau termasuk penyumbatan usus, sindroma iritasi usus besar (IBS), dan penyakit radang usus (IBD).
.
Peradangan pankreas yang kronis
Peradangan pankreas yang lama atau disebut pankreatitis kronis dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mencerna makanan akibat terganggunya enzim yang membantu mencerna lemak. Gejala dari penyakit ini adalah tinja yang berminyak, berlemak, dan berbau busuk, mual, muntah, rasa sakit di perut bagian atas menembus ke punggung yang memburuk saat makan atau minum, serta terjadi penurunan berat badan. Kebanyakan kasus pankreatitis kronis disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan.
.
Baca juga: Mengapa Konsumsi Alkohol Tidak Baik bagi Kesehatan Tubuh dan Saluran Cerna?
.
Terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menghilangkan bau kentut dan tinja yang tidak sedap, yaitu batasi makanan-makanan yang sulit dicerna oleh usus, hindari minuman beralkohol dan berkarbonasi yang dapat menghasilkan banyak gas termasuk bir dan anggur, perbanyak minum air putih untuk membantu melancarkan dan menyehatkan saluran cerna Anda, dan pertimbangkan untuk mengonsumsi probiotik seperti yogurt dalam diet Anda untuk membantu memulihkan bakteri sehat dalam saluran cerna.
Punya keluhan sakit maag/ lambung/ GERD?
Isi survei kami di bit.ly/surveiherbalYGI
Seringkali dengan perubahan pola makan dan minum, keluhan kentut dan tinja yang berbau tidak sedap dapat teratasi. Apabila keluhan tersebut disertai gejala lain seperti demam, penurunan berat badan, nyeri perut, mual, muntah, diare, terdapat darah dalam BAB, dan sulit BAB yang tidak membaik setelah melakukan perubahan pola makan dan minum, maka konsultasikanlah keluhan Anda kepada dokter untuk mengetahui sebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.
.
Referensi
American Gastoenterological Association. n.d. Celiac Disease. Available online at https://gastro.org/practice-guidance/gi-patient-center/topic/celiac-disease/ (diakses pada tanggal 31 Mei 2020).
Azer SA., Sankararaman S. Steatorrhea. 2020. Steatorrhea. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing.
Giannelli, FR. 2017. Antibiotic-associated diarrhea. Journal of the American Academy of Physician Assistants, 30(10), 46–47.
Hasler WL. 2006. Gas and Bloating. Gastroenterol Hepatol, 2(9):654-662.
Manichanh C., Eck A., Varela E., et al. 2014. Anal gas evacuation and colonic microbiota in patients with flatulence: effect of diet. Gut, 63:401-408.
Sato H., Morimatsu H., Kimura T., et al. 2002. Analysis of Malodorous Substances of Human Feces. Journal of Health Science, 48(2):179-185.
Suarez FL., Springfield J., Levitt MD. 1998. Identification of gases responsible for the odour of human flatus and evaluation of a device purported to reduce this odour. Gut, 43:100-104.

Leave a Reply