Mengenal Penyakit Celiac: Ketika Tubuh Tidak Dapat Menoleransi Gluten

Penulis: dr. Rabbinu Rangga Pribadi, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Penyakit celiac merupakan gangguan autoimun yang terjadi ketika tubuh bereaksi terhadap gluten, yaitu protein yang ditemukan dalam gandum, selain itu gluten juga terdapat dalam jelai (barley) dan gandum hitam (rye). Pada penderita penyakit ini, konsumsi gluten memicu respons sistem kekebalan tubuh yang dapat merusak lapisan usus halus. Kerusakan tersebut terutama terjadi pada lapisan vili usus, yaitu tonjolan kecil yang berfungsi menyerap nutrisi dari makanan. Akibatnya, tubuh mengalami gangguan penyerapan nutrisi yang dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Penyakit celiac bukan sekadar alergi makanan atau intoleransi gluten biasa, melainkan kondisi kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang.

  1. Penyebab Penyakit Celiac

    Penyebab pasti penyakit celiac belum sepenuhnya dapat dipastikan, tetapi faktor genetik dan respons sistem kekebalan tubuh memiliki peran penting. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada individu yang memiliki variasi gen tertentu, terutama HLA-DQ2 dan HLA-DQ8. Selain faktor genetik, faktor lingkungan dan kondisi lain juga berperan. Penyakit celiac dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia, serta termasuk mereka yang sebelumnya tidak pernah mengalami masalah pencernaan.

  1. Gejala Penyakit Celiac

    Gejala penyakit celiac dapat beragam dan tidak selalu terbatas pada gejala saluran pencernaan. Pada umumnya penderita penyakit celiac mengalami diare kronis, perut kembung berulang, nyeri perut, mual, muntah, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
    Namun pada anak-anak, penyakit ini dapat bermanifestasi berupa gangguan pertumbuhan dan keterlambatan perkembangan akibat penyerapan nutrisi yang tidak optimal. Sementara itu, sebagian orang dewasa justru mengalami gejala yang tidak khas pada saluran pencernaan, seperti mudah lelah, kurang darah, sakit kepala, atau nyeri sendi. Variasi yang luas dari gejala tersebut membuat penyakit celiac terkadang sulit dikenali dan dapat terlambat untuk didiagnosis.

  1. Dampak Penyakit Celiac

    Salah satu dampak utama penyakit celiac adalah malabsorpsi atau gangguan penyerapan nutrisi. Kerusakan vili usus halus dapat menghambat penyerapan berbagai nutrisi penting bagi tubuh seperti zat besi, asam folat, kalsium, dan vitamin D. Kondisi ini dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah, kelemahan tubuh, serta gangguan kesehatan tulang, termasuk osteopenia dan osteoporosis. Sementara itu, pada anak-anak kekurangan nutrisi dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik secara optimal.

  2. Penegakan Diagnosis

    Diagnosis penyakit celiac dilakukan melalui pemeriksaan darah, dan pada kondisi tertentu pemeriksaan jaringan usus halus. Pemeriksaan darah umumnya mencakup antibodi anti-tissue transglutaminase IgA (tTG-IgA) serta kadar total IgA untuk membantu mendeteksi kemungkinan penyakit celiac. Pemeriksaan lanjutan dapat diperlukan apabila hasil pemeriksaan awal mendukung diagnosis atau terdapat kecurigaan klinis yang kuat. Pada beberapa kasus, diagnosis sering kali ditegakkan melalui endoskopi saluran cerna atas dengan pengambilan biopsi pada lapisan mukosa usus halus.

  1. Pengobatan

    Penanganan utama penyakit celiac adalah dengan menjalani diet bebas gluten secara ketat dan berkelanjutan sepanjang hidup. Penderita perlu menghindari makanan yang mengandung gandum, serta berbagai produk olahan yang menggunakan bahan tersebut. Beberapa makanan yang perlu diperhatikan adalah roti, pasta, kue, biskuit, serta makanan kemasan tertentu. Sebaliknya, nasi, jagung, kentang, singkong, daging segar, ikan, telur, sayuran, dan buah-buahan secara alami tidak mengandung gluten, meskipun risiko kontaminasi silang tetap perlu diperhatikan.

Selain diet, pemantauan kesehatan secara berkala merupakan bagian penting dari penanganan penyakit celiac. Dokter dapat mengevaluasi perbaikan gejala, status gizi, kadar antibodi yang relevan, serta kondisi lain yang berkaitan dengan malabsorpsi. Pada sebagian besar penderita, gejala mulai membaik dalam beberapa minggu hingga bulan setelah menjalani diet bebas gluten, meskipun pemulihan lapisan usus dapat membutuhkan waktu lebih lama. Anak-anak umumnya menunjukkan pemulihan pertumbuhan apabila kebutuhan nutrisinya terpenuhi dengan baik.

Penyakit celiac perlu dibedakan dari alergi gandum dan sensitivitas gluten non-celiac. Alergi gandum melibatkan mekanisme alergi yang dapat menimbulkan gejala seperti gatal, biduran, pembengkakan, atau reaksi alergi berat. Sementara itu, sensitivitas gluten non-celiac dapat menimbulkan keluhan setelah konsumsi gluten, tetapi tidak menunjukkan karakteristik kerusakan usus dan respons autoimun khas penyakit celiac. Ketiga kondisi tersebut membutuhkan pendekatan diagnosis dan penanganan yang berbeda.

Meskipun penyakit celiac belum dapat disembuhkan secara permanen dengan terapi yang tersedia saat ini, pengendalian melalui diet bebas gluten yang ketat dapat membantu meredakan gejala, memperbaiki penyerapan nutrisi, dan mengurangi risiko komplikasi. Dengan diagnosis yang tepat, edukasi gizi, serta pemantauan berkala, penderita dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif.


Referensi:

  1. Iversen R, Sollid LM. The Immunobiology and Pathogenesis of Celiac Disease. Annu Rev Pathol. 2023 Jan 24;18:47-70. doi: 10.1146/annurev-pathmechdis-031521-032634. Epub 2022 Sep 6. PMID: 36067801.
  2. Wu X, Qian L, Liu K, Wu J, Shan Z. Gastrointestinal microbiome and gluten in celiac disease. Ann Med. 2021 Dec;53(1):1797-1805. doi: 10.1080/07853890.2021.1990392. PMID: 34647492; PMCID: PMC8519548.
  3. Doyle JB, Silvester J, Ludvigsson JF, Lebwohl B. Advances in the pathophysiology, diagnosis, and management of celiac disease. BMJ. 2025 Oct 15;391:e081353. doi: 10.1136/bmj-2024-081353. PMID: 41093604.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*