Sulit Menelan Makanan? Kenali Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Penulis: Prof. dr. H. Abdul Aziz Rani, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Kesulitan menelan makanan atau dalam istilah medis disebut sebagai disfagia merupakan gangguan yang dapat dialami oleh berbagai kalangan individu, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia. Kondisi ini dapat bermanifestasi seperti kesulitan mengawali proses menelan, adanya makanan yang tersangkut di tenggorokan saat sudah menelan, atau terasa ada makanan yang berhenti di dada. Meskipun seringkali hal ini disebabkan karena masalah ringan, kesulitan menelan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu yang lama perlu mendapatkan perhatian lebih karena dapat menjadi tanda gangguan kesehatan yang lebih serius.

Proses menelan melibatkan koordinasi berbagai otot dan saraf, mulai dari otot mulut, tenggorokan, hingga kerongkongan. Adanya gangguan pada salah satu bagian tersebut dapat menyebabkan hambatan dalam proses menelan. Secara umum, kesulitan menelan dibagi menjadi disfagia orofaringeal dan disfagia esofageal. Disfagia orofaringeal adalah gangguan saat memindahkan makanan dari mulut ke tenggorokan, sedangkan disfagia esofageal adalah gangguan ketika makanan melewati kerongkongan menuju lambung.

Beberapa penyebab terjadinya keluhan kesulitan menelan tersebut ada beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

  1. GERD

    Salah satu penyebab kesulitan menelan yang cukup sering adalah karena gastroesophageal reflux disease (GERD). Adanya aliran balik (refluks) asam lambung yang berulang dapat mengiritasi lapisan kerongkongan dan menyebabkan peradangan kronis. Dalam jangka waktu yang panjang, kondisi ini menyebabkan terjadinya penyempitan kerongkongan akibat terbentuknya jaringan parut, sehingga makanan sulit melewati area penyempitan tersebut. Keluhan yang berulang seperti rasa panas di dada, adanya sensasi asam di mulut, khususnya jika terjadi berulang dalam jangka waktu lama.

  2. Akalasia Esofagus

    Penyebab lain yang perlu diwaspadai adalah akalasia esofagus, yaitu gangguan motilitas atau pergerakan kerongkongan yang terjadi ketika sfingter atau katup esofagus bagian bawah tidak dapat berelaksasi secara normal saat menelan. Akibatnya, makanan dan cairan yang dikonsumsi dapat tertahan di dalam kerongkongan. Penderita akalasia esofagus dapat mengalami kesulitan menelan makanan padat maupun cair, regurgitasi makanan, nyeri dada, dan penurunan berat badan. Penegakkan diagnosis biasanya melibatkan pemeriksaan endoskopi, pemeriksaan radiologi, dan manometri esofagus untuk menilai fungsi gerakan kerongkongan.

  3. Gangguan Saraf

    Gangguan saraf dan otot juga dapat menyebabkan kesulitan menelan, terutama pada fase orofaringeal. Penyakit yang mendasari seperti stroke, multiple sclerosis, parkinson, dan penyakit neuromuskular lainnya dapat mengganggu koordinasi sistem saraf dan otot yang berperan dalam proses menelan. Gejala yang muncul dapat berupa batuk atau tersedak saat makan, suara berubah menjadi basah setelah menelan, serta adanya makanan atau minuman keluar melalui hidung. Gangguan ini perlu ditangani karena dapat meningkatkan risiko aspirasi, yaitu masuknya makanan atau cairan ke saluran pernapasan.

  4. Kanker Oronasofaring

    Kanker kerongkongan dan kanker pada area kepala serta leher juga merupakan penyebab serius yang perlu dipertimbangkan, terutama jika kesulitan menelan berlangsung progresif. Tumor dapat mempersempit saluran makanan atau mengganggu fungsi jaringan di sekitarnya. Gejala yang menyertai dapat berupa penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, nyeri saat menelan, suara serak, muntah, atau sensasi makanan tersangkut yang semakin sering. Tidak semua kasus disfagia disebabkan oleh kanker, tetapi keluhan yang menetap atau memburuk memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan kemungkinan tersebut.

  5. Peradangan Kronis Pasca Tindakan Medis

    Selain karena beberapa faktor yang sudah disebutkan tadi, penyempitan kerongkongan juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain, termasuk akibat peradangan kronis, efek samping akibat tindakan medis, atau kelainan struktural. Pada kondisi ini, penderita seringkali mengalami kesulitan menelan makanan padat terlebih dahulu, kemudian dapat berkembang menjadi kesulitan menelan makanan yang lebih lunak maupun cair. Keluhan yang semakin memburuk tidak boleh diabaikan karena dapat mengganggu asupan nutrisi dan kualitas hidup. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui lokasi dan tingkat keparahan penyempitan.

Dalam menentukan penyebab disfagia, dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Pemeriksaan lanjutan dapat meliputi endoskopi saluran cerna bagian atas, pemeriksaan barium swallow, manometri esofagus, atau evaluasi menelan. Pemilihan pemeriksaan disesuaikan dengan dugaan lokasi dan penyebab gangguan.

Kesulitan menelan bukanlah keluhan yang sebaiknya diabaikan, terutama jika berlangsung terus-menerus, semakin memburuk, atau disertai tanda bahaya. Dengan mengenali penyebab dan mendapatkan pemeriksaan sejak dini, gangguan menelan dapat ditangani secara lebih tepat sehingga risiko komplikasi dan penurunan kualitas hidup dapat diminimalisir.


Referensi:

  1. Le KHN, Low EE, Yadlapati R. Evaluation of Esophageal Dysphagia in Elderly Patients. Curr Gastroenterol Rep. 2023 Jul;25(7):146-159. doi: 10.1007/s11894-023-00876-7. Epub 2023 Jun 14. PMID: 37312002; PMCID: PMC10726678.
  2. Mari A, Calabrese F, Pasta A, Lorenzon G, Weusten B, Keller J, Visaggi P, Roman S, Marabotto E, Dickman R, Serra J, De Bortoli N, Iovino P, Pohl D, Dumitrascu D, Ribolsi M, Barber C, Bor S, Fox M, Sweiss R, et al. Esophageal and Oropharyngeal Dysphagia: Clinical Recommendations From the United European Gastroenterology and European Society for Neurogastroenterology and Motility. United European Gastroenterol J. 2025 Jul;13(6):855-901. doi: 10.1002/ueg2.70062. Epub 2025 Jun 21. Erratum in: United European Gastroenterol J. 2025 Oct;13(8):1607. doi: 10.1002/ueg2.70088. PMID: 40543044; PMCID: PMC12269739.
  3. Le KHN, Low EE, Yadlapati R. Evaluation of Esophageal Dysphagia in Elderly Patients. Curr Gastroenterol Rep. 2023 Jul;25(7):146-159. doi: 10.1007/s11894-023-00876-7. Epub 2023 Jun 14. PMID: 37312002; PMCID: PMC10726678.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*