Mengenal Divertikulitis: Saat Kantong Kecil di Usus Mengalami Peradangan

Sumber gambar: www.canva.com

Penulis: dr. Saskia Aziza Nursyirwan, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Divertikulitis adalah kondisi ketika kantong-kantong kecil pada dinding usus besar, yang disebut divertikel, mengalami infeksi atau proses peradangan. Kondisi ini berbeda dengan divertikulosis, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki divertikel tetapi tanpa disertai infeksi atau peradangan. Kasus divertikulosis usus cukup sering ditemukan, terutama seiring bertambahnya usia. Pada sebagian orang, divertikel yang mengalami infeksi atau peradangan tersebut dapat menimbulkan keluhan yang membutuhkan penanganan medis.

Apa Saja yang Dapat Meningkatkan Risiko Terbentuknya Divertikel?

Salah satu penyebab utama terbentuknya divertikel berkaitan dengan naiknya tekanan di dalam usus besar. Tekanan tersebut dapat mendorong lapisan dalam usus melalui area dinding yang lebih lemah sehingga membentuk kantong-kantong kecil yang secara normal tidak ada. Faktor usia, pola makan rendah serat, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, dan kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terbentuknya divertikel usus. Meskipun dahulu divertikulitis sering dianggap terutama disebabkan oleh pola makan tertentu, saat ini diketahui bahwa proses terjadinya cukup kompleks dan melibatkan berbagai faktor.

Apa Saja Gejala Divertikulitis?

Divertikulitis dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, tetapi keluhan yang paling khas adalah nyeri perut, terutama pada perut bagian kiri bawah. Nyeri dapat berlangsung terus-menerus dan terkadang disertai perut kembung atau perubahan pola buang air besar, seperti konstipasi maupun diare. Pasien juga dapat mengalami demam, menggigil, mual, atau muntah. Intensitas gejala bergantung pada derajat peradangan dan ada tidaknya komplikasi. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat tampak lemah dan mengalami tanda-tanda infeksi sistemik.

Bagaimana Divertikulitis Didiagnosis?

Diagnosis divertikulitis ditegakkan tidak hanya berdasarkan gejala, karena beberapa penyakit lain dapat menimbulkan keluhan yang serupa. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan lab darah dapat dilakukan untuk menilai adanya tanda peradangan atau infeksi. Pemeriksaan imaging, seperti CT scan abdomen dan pelvis, sering digunakan untuk memastikan diagnosis sekaligus menilai tingkat keparahan. CT scan dapat menunjukkan adanya divertikel yang meradang serta membantu mendeteksi komplikasi lain yang dapat terjadi seperti terjadinya akumulasi nanah atau abses, perforasi atau kebocoran, fistula, hingga sumbatan pada usus.

Jenis-jenis Divertikulitis

Secara umum, divertikulitis dapat dibedakan menjadi kondisi tanpa komplikasi dan kondisi dengan komplikasi. Pada divertikulitis tanpa komplikasi, peradangan biasanya tidak disertai dengan masalah lain. Sebagian pasien dengan kondisi ringan tanpa komplikasi dapat ditangani secara konservatif dengan observasi, pengaturan pola makan sementara, kontrol nyeri, dan pemantauan kondisi. Penggunaan antibiotik tidak selalu diperlukan pada setiap kasus divertikulitis tanpa komplikasi, terutama pada pasien dengan kondisi umum baik.

Sedangkan pada kondisi divertikulitis dengan komplikasi, dapat terjadi masalah lain seperti adanya abses, perforasi, fistula, atau obstruksi. Divertikulitis dengan komplikasi membutuhkan perhatian lebih serius. Peradangan dapat menyebabkan terbentuknya abses, yaitu kumpulan nanah di sekitar usus, atau bahkan perforasi yang menyebabkan pecahnya usus dan menyebabkan isi usus masuk ke rongga perut. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peritonitis atau peradangan pada rongga perut dan sepsis yang mengancam jiwa. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah fistula, yaitu terbentuknya hubungan abnormal antara usus dengan organ lain, serta obstruksi akibat pembengkakan atau perubahan jaringan di sekitar usus.

Bagaimana Penanganan Divertikulitis?

Penanganan divertikulitis bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien. Pada kasus ringan, terapi dapat meliputi pemberian cairan yang cukup, pengaturan makanan secara bertahap, dan obat untuk mengatasi nyeri. Namun pada pasien dengan masalah infeksi yang lebih berat, kondisi umum yang buruk, atau komplikasi tertentu dapat memerlukan rawat inap dan pemberian antibiotik secara intravena. Abses dengan volume tertentu dapat memerlukan drainase dengan bantuan imaging, sedangkan adanya kebocoran usus atau komplikasi berat lainnya dapat membutuhkan tindakan pembedahan.

Setelah gejala akut membaik, dokter dapat menyarankan evaluasi lebih lanjut pada pasien tertentu untuk memastikan tidak terdapat penyakit lain pada usus besar. Kolonoskopi tidak dilakukan pada fase akut karena dapat meningkatkan risiko komplikasi, tetapi dapat dipertimbangkan setelah peradangan mereda sesuai kondisi dan riwayat pasien. Pemeriksaan ini penting terutama bila diagnosis belum sepenuhnya jelas atau terdapat faktor yang menimbulkan kecurigaan terhadap kelainan lain, termasuk kanker kolorektal.

Bagaimana Pencegahan Divertikulitis?

Pencegahan divertikulitis berfokus pada penerapan pola hidup sehat. Konsumsi makanan kaya serat dari sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, terutama setelah kondisi akut teratasi. Melakukan aktivitas fisik secara teratur, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, dan menjaga pola makan dengan kandungan serat yang cukup dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko penyakit divertikulitis.

Divertikulitis pada dasarnya tidak akan mengancam dan menimbulkan komplikasi yang berat apabila dikenali secara cepat dan mendapatkan penanganan yang tepat. Adanya gejala nyeri perut yang berat atau menetap, demam tinggi, muntah terus-menerus, perut terasa kaku atau sangat nyeri, sulit buang air besar maupun buang gas, serta munculnya darah dalam jumlah banyak saat buang air besar merupakan tanda bahaya yang perlu segera diperiksakan. Mengenali gejala dan faktor risiko divertikulitis dapat membantu mencegah keterlambatan diagnosis serta mengurangi risiko komplikasi.


Referensi:

  1. Sacks OA, Hall J. Management of Diverticulitis: A Review. JAMA Surg. 2024 Jun 1;159(6):696-703. doi: 10.1001/jamasurg.2023.8104. PMID: 38630452.
  2. Hoch J. Diverticulitis of the colon. Rozhl Chir. 2025;104(2):47-54. English. doi: 10.48095/ccrvch202547. PMID: 40117272.
  3. Garfinkle R, Boutros M. Current Management of Diverticulitis. Adv Surg. 2024 Sep;58(1):87-106. doi: 10.1016/j.yasu.2024.04.017. Epub 2024 Jun 27. PMID: 39089789.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*