Tidak Ingin Maag dan GERD Kambuh Saat Puasa? Ini Tipsnya!

Hindari langsung tidur setelah makan

Berilah jeda waktu setelah Anda makan dan tidur. Lambung memerlukan waktu sekitar 2 – 4 jam untuk mencerna makanan yang masuk. Baik dalam kondisi berpuasa maupun tidak, risiko terjadinya GERD meningkat pada seseorang yang langsung tidur setelah makan. Saat lambung penuh, posisi tidur akan menyebabkan katup antara lambung dan kerongkongan tertekan dan isi lambung akan naik ke kerongkongan. Jika Anda merasa sangat mengantuk, posisikan diri Anda setengah duduk dimana posisi kepala dan bahu lebih tinggi dari perut.

.

Hindari stress dan kendalikan emosi

Selain menahan lapar dan haus, emosi juga harus dikendalikan selama menjalankan ibadah puasa. Selain berpahala, hal ini dapat menurunkan risiko muncul dan kambuhnya penyakit maag dan GERD. Penelitian menunjukkan ketika Anda stress dan sedang emosi, Anda menjadi lebih sensitif terhadap nyeri yang diakibatkan oleh meningkatnya asam lambung. Anda dapat melakukan beberapa teknik relaksasi untuk mengendalikan stress dan emosi serta tidur yang cukup 6 – 8 jam per hari agar tubuh Anda dapat beristirahat maksimal.

Baca juga: Apakah Pola Tidur Memengaruhi Sistem Pencernaan atau Pola BAB Seseorang?

.

Minumlah obat sesuai anjuran dokter

Jangan lupa untuk mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter apabila Anda sedang menjalani pengobatan. Konsultasikan waktu yang tepat untuk mengonsumsi obat tersebut selama bulan puasa.

Punya keluhan sakit maag/ lambung/ GERD?
Isi survei kami di
bit.ly/surveiherbalYGI

.

Bila keluhan masih saja muncul meski telah menerapkan tips puasa yang dijelaskan di atas, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Jangan sampai niat baik berpuasa malah mengganggu lambung Anda. Asam lambung akan mudah naik jika Anda memilih makanan sahur dan berbuka yang tidak tepat. Pastikan makanan yang Anda konsumsi saat sahur dan berbuka bergizi seimbang, yaitu mengandung nutrisi penting bagi tubuh seperti karbohidrat, lemak sehat, protein, serat, vitamin, dan mineral. Selamat berpuasa!

.


Referensi
Carlin, R & Sohail, M. 2016. Fating During Ramadhan : Nutrition and Health Impact and Food Safety Recomendation. Virginia Cooperative Extension.

Haruma K, Kinoshita, Y., Sakamoto, S., Sanada, K., Hiroi, S., Miwa, H. 2015. Lifestyle factors and efficacy of lifestyle interventions in gastroesophageal reflux disease patients with functional dyspepsia: Primary care perspectives from the LEGEND study, Intern Med, 54: 695-701.

Mardhiyah, R., Makmun, D., Syam, AF., Setiati, S. 2016. The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease. Acta Med Indones-Indones J Intern Med, 48 (3): 169-174.

Rahimi, H., Mohammad, EH., Alireza, F., Najmeh, T., Baradaran, M., Elnaz, SM., Mirmosayyeb, O. 2017. Effects of Ramadan Fasting on Dyspepsia Symptoms. Govaresh Journal of Iranian Association of Gastroenterology and Hepatology, 22(4):188-194.

Sinn, DH., Shin, DH., Lim, SW.,Kim, KM., Son, HJ., Kim, JJ. et al. 2010. The Speed of Eating and Functional Dyspepsia in Young Women.Gut and Liver, 4(2):173-178.Carlin, R & Sohail, M. 2016. Fating During Ramadhan : Nutrition and Health Impact and Food Safety Recomendation. Virginia Cooperative Extension.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*