Sakit Perut Setelah Berbuka Puasa, Apa Penyebabnya?

Sumber gambar: freepik.com

Berbuka puasa adalah waktu yang ditunggu-tunggu bagi umat yang menjalankannya setelah menahan lapar dan haus seharian. Berbagai jenis makanan dan minuman sudah siap dihidangkan di meja makan dan siap disantap saat berbuka. Berpuasa memang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, salah satunya meningkatkan kinerja sistem pencernaan tubuh kita. Namun, kebiasaan makan yang buruk di bulan puasa serta kesalahan dalam memilih makanan saat berbuka puasa dapat menghilangkan manfaat ini dan membawa efek yang berlawanan.

Tidak jarang beberapa orang saat berbuka puasa mengeluh perutnya terasa sakit dan tidak nyaman. Penyebab perut sakit saat buka puasa sangat beragam. Jika Anda sebelumnya sudah memiliki gangguan pencernaan, kebiasaan makan yang tidak tepat saat berbuka puasa dapat lebih berisiko menyebabkan perut sakit saat berbuka puasa. Namun, sakit perut saat berbuka puasa bisa saja terjadi pada orang yang tidak memiliki keluhan sebelumnya. Ingin tahu apa saja hal-hal yang dapat menyebabkan perut sakit saat berbuka puasa?

.

Makan terlalu cepat saat berbuka puasa

Saat mengunyah, organ saluran cerna akan mengeluarkan enzim-enzim pencernaan yang dibutuhkan untuk memecah makanan dan penyerapan nutrisi. Jika Anda makan terburu-buru, makanan yang dimakan cenderung tidak dikunyah dengan baik. Setelah ditelan, makanan yang tidak dikunyah dengan baik tersebut akan sampai ke saluran pencernaan Anda. Akibatnya lambung dan usus harus bekerja lebih keras untuk mencerna dan menghaluskan makanan tersebut. Selain mengganggu proses pencernaan, makan terlalu cepat dan kurang mengunyah dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi serta meninggalkan sisa-sisa zat racun dalam tubuh. Hati-hati, makan terlalu cepat juga bisa membuat Anda tersedak.

.

Makan berlebihan

Saat berbuka puasa, pasti ada perasaan ingin mencicipi segala makanan dan minuman yang dihidangkan, sedangkan kapasitas lambung kita terbatas. Ketika perut Anda terisi banyak makanan, tekanan di perut Anda akan meningkat. Pada orang yang memiliki katup antara kerongkongan dan lambung yang longgar, makanan yang sedang dicerna dapat menumpuk dalam lambung dan naik kembali ke kerongkongan. Hal inilah yang menjadi penyebab nyeri pada perut atas dan dada setelah makan berlebihan. Selain itu, karena terbatasnya enzim pencernaan dalam perut, makan makanan berlebih dapat menyebabkan lamanya saluran pencernaan dalam mencerna makanan. Perut yang penuh akan menyebabkan rasa begah dan tidak nyaman.

.

Pemilihan makanan dan minuman yang kurang tepat untuk berbuka

Ketika perut Anda terasa sakit dan tidak nyaman saat berbuka puasa, coba ingat lagi jenis makanan dan minuman yang Anda konsumsi. Beberapa makanan dan minuman sebaiknya dibatasi bahkan dihindari sebagai santapan pertama berbuka puasa.

Makanan yang dapat memicu sakit perut setelah berbuka puasa diantaranya makanan tinggi gula, makanan tinggi lemak, makanan berminyak seperti gorengan, makanan yang asam, dan makanan pedas. Makanan tinggi gula dan lemak sulit dicerna, sehingga dapat menimbulkan keluhan perut terasa begah. Makanan pedas mampu menimbulkan rasa nyeri dan terbakar pada perut yang lama kosong akibat rangsangan pada reseptor yang terdapat pada permukaan saluran cerna. Makanan dan buah-buahan yang asam seperti jeruk, lemon, dan tomat dapat meningkatkan asam lambung dan memperparah gejala orang yang memiliki penyakit maag.

Selain makanan, salah memilih minuman yang dikonsumsi saat berbuka juga dapat membuat perut Anda sakit. Hindari berbuka puasa dengan minuman yang mengandung kafein seperti kopi. Kafein terbukti dapat melonggarkan katup antara kerongkongan dan lambung sehingga memungkinkan isi perut dan asam lambung naik ke kerongkongan yang pada akhirnya menimbulkan gejala dada seperti terbakar dan perih. Kafein juga memiliki efek pencahar yang dapat membuat perut kita terasa mulas. Teh juga mengandung kafein namun dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan kopi. Teh merupakan minuman yang sering dikonsumsi ketika berbuka puasa, namun usahakan konsumsi teh setelah minum air putih 1 – 2 gelas dan kurma untuk menghindari keluhan pada lambung. Minuman bersoda juga lebih baik tidak dikonsumsi saat berbuka puasa karena gas yang terkandung dapat menyebabkan perut terasa kembung dan mengganggu fungsi lambung.

.

Tidur setelah berbuka puasa

Setelah melahap makanan dan minuman saat berbuka puasa, tidak jarang rasa kantuk muncul setelahnya. Apalagi jika saat berbuka, Anda makan dan minum terlalu banyak. Jika rasa kantuk datang, sebaiknya tahan dulu keinginan untuk berbaring dan tidur. Karena saluran cerna membutuhkan waktu untuk memproses makanan yang Anda santap dari lambung menuju usus. Jika Anda langsung tidur, maka makanan yang sedang diproses di lambung dapat naik ke kerongkongan dan akan membuat perut terasa perih, terbakar, serta timbul perasaan sangat tidak nyaman.

.

Agar Anda tetap nyaman setelah berbuka puasa, sebaiknya hindari hal-hal yang dapat menyebabkan sakit perut. Nikmati berbuka puasa dengan makanan dan minuman secukupnya. Jangan biarkan sakit perut setelah berbuka puasa mengganggu ibadahmu, ya!

.

Referensi
Carlin, R & Sohail, M. 2016. Fasting During Ramadhan : Nutrition and Health Impact and Food Safety Recomendation. Virginia Cooperative Extension.

Carlin, R & Sohail, M. 2016. Fasting During Ramadhan : Nutrition and Health Impact and Food Safety Recomendation. Virginia Cooperative Extension.

Johnson, T., Gerson, L., Hershcovici, T., Stave, C., Fass, R. 2010. Systematic review: the effects of carbonated beverages on gastro-oesophageal reflux disease.Aliment Pharmacol Ther 31, 607–614.

Lohsiriwat, S., Puengna, N., Leelakusolvong, S. 2006. Effect of caffeine on lower esophageal sphincter pressure in Thai healthy volunteers. Dis Esophagus. Dis Esophagus, 19(3): 183-188.

Mahdieh Khodarahmi and Leila Azadbakht. 2016. Dietary fat intake and functional dyspepsia. Adv Biomed Res, 5:76.

Sinn, DH., Shin, DH., Lim, SW.,Kim, KM., Son, HJ., Kim, JJ. et al. 2010. The Speed of Eating and Functional Dyspepsia in Young Women.Gut and Liver, 4(2):173-178.

WHO. n.d. Dietary recommendations for the month of Ramadan. Available at http://www.emro.who.int/nutrition/nutrition-infocus/dietary-recommendations-for-the-month-of-ramadan.html. (Diakses pada tanggal 3 Mei 2020).

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*