Tidak Ingin Maag dan GERD Kambuh Saat Puasa? Ini Tipsnya!

Sumber gambar: freepik.com

Bulan Ramadan telah tiba! Saatnya bagi umat muslim untuk menjalankan kewajiban ibadah puasa. Menjalankan ibadah puasa kurang lebih 14 jam setiap harinya mungkin tidak menjadi masalah bagi orang yang sehat. Namun, orang-orang yang memiliki penyakit asam lambung seperti maag dan GERD (asam lambung yang naik ke kerongkongan) mungkin akan merasa cemas jika penyakitnya akan semakin parah atau kambuhan selama berpuasa karena selain tidak dapat makan dan minum, mereka juga tidak dapat meminum obatnya. Pada penderita penyakit asam lambung, memang dianjurkan untuk tidak telat makan. Namun, itu bukan alasan untuk tidak berpuasa.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berpuasa memiliki dampak positif bagi kesehatan. Ketika kita berpuasa, gaya hidup dan pola makan kita menjadi lebih teratur. Keuntungan yang didapatkan saat kita berpuasa diantaranya menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam tubuh, serta meningkatkan sensitivitas hormon insulin yang baik untuk penderita diabetes mellitus (kencing manis). Bahkan, puasa ternyata dapat meringankan penyakit asam lambung. Hal tersebut didukung oleh suatu penelitian di Indonesia yang menunjukkan orang yang memiliki GERD dan menjalani puasa mengaku keluhannya lebih ringan dibanding mereka yang tidak berpuasa. Gejala penyakit GERD dapat dicetuskan dan diperburuk oleh beberapa faktor seperti obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, asupan makanan dan minuman yang tidak sehat. Faktor-faktor ini dapat berubah ketika seseorang berpuasa selama bulan Ramadhan. Contohnya, saat bulan Ramadhan orang yang biasa merokok akan mengurangi rokoknya selama berpuasa.

Lalu, apa yang harus dilakukan bagi penderita maag dan GERD agar dapat berpuasa nyaman dan lancar selama bulan Ramadhan? Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:

Hindari telat saat sahur

Sahur sangat diperlukan bagi tubuh sebagai bekal nutrisi dan tenga agar kita dapat beraktivitas lancar selama kurang lebih 14 jam berpuasa. Usahakan bangun tepat waktu selama sahur agar Anda tidak terburu-buru untuk menghabiskan makanan. Perlu diperhatikan pula untuk tidak makan terlalu banyak karena dapat membuat lambung bekerja lebih keras dan dapat memicu timbulnya keluhan pada lambung.

.

Jangan tunda saat buka puasa

Segeralah berbuka saat azan magrib berkumandang. Upayakan untuk berbuka puasa dengan porsi makanan yang sewajarnya, secara bertahap, dan tidak dalam jumlah besar dalam satu waktu. Misalnya, membaginya menjadi 3 tahap yaitu makanan ringan saat berbuka puasa seperti kurma, makan malam setelah solat magrib yang komposisi dan porsinya seperti saat sahur, dan camilan malam hari setelah solat terawih seperti buah-buahan dan biskuit. Makan secara bertahap dan mengunyah makanan dengan baik akan membuat kerja lambung tidak terlalu berat karena lambung membutuhkan ruang untuk mencerna makanan.

.

Pilih menu makanan yang bergizi dan tepat

Asupan total kalori saat bulan puasa tetap sama dengan bulan lainnya. Hanya saja, saat bulan puasa frekuensi makannya menjadi 2 kali. Pilihlah makanan sahur yang mengandung karbohidrat kompleks seperti nasi merah, gandum, dan oatmeal sebab makanan tersebut dapat membuat Anda merasa kenyang lebih lama. Jangan lupa untuk tetap tingkatkan asupan protein, sayur, dan buah-buahan. Hindari mengonsumsi daging yang berlebihan saat sahur, pilihlah daging yang rendah lemak dan batasi makan jeroan.

Selama sahur dan buka puasa, batasi konsumsi makanan yang memicu naiknya asam lambung seperti makanan tinggi lemak (gorengan), tinggi gula, asam, dan pedas. Untuk pengolahan makanan, utamakan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang agar kadar minyak dalam makanan tidak tinggi.

Demikian juga dengan minuman, jaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi selama berpuasa. Air putih merupakan minuman yang tepat, paling sehat, dan aman untuk penderita asam lambung. Rata-rata tubuh orang dewasa dengan intensitas aktivitas sedang memerlukan cairan sebanyak dua liter per hari yang setara dengan delapan gelas. Pilihlah minuman yang tidak mengandung kafein (teh, kopi) dan soda, untuk menghindari meningkatnya asam lambung.

.

Hindari langsung tidur setelah makan

Berilah jeda waktu setelah Anda makan dan tidur. Lambung memerlukan waktu sekitar 2 – 4 jam untuk mencerna makanan yang masuk. Baik dalam kondisi berpuasa maupun tidak, risiko terjadinya GERD meningkat pada seseorang yang langsung tidur setelah makan. Saat lambung penuh, posisi tidur akan menyebabkan katup antara lambung dan kerongkongan tertekan dan isi lambung akan naik ke kerongkongan. Jika Anda merasa sangat mengantuk, posisikan diri Anda setengah duduk dimana posisi kepala dan bahu lebih tinggi dari perut.

.

Hindari stress dan kendalikan emosi

Selain menahan lapar dan haus, emosi juga harus dikendalikan selama menjalankan ibadah puasa. Selain berpahala, hal ini dapat menurunkan risiko muncul dan kambuhnya penyakit maag dan GERD. Penelitian menunjukkan ketika Anda stress dan sedang emosi, Anda menjadi lebih sensitif terhadap nyeri yang diakibatkan oleh meningkatnya asam lambung. Anda dapat melakukan beberapa teknik relaksasi untuk mengendalikan stress dan emosi serta tidur yang cukup 6 – 8 jam per hari agar tubuh Anda dapat beristirahat maksimal.

.

Minumlah obat sesuai anjuran dokter

Jangan lupa untuk mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter apabila Anda sedang menjalani pengobatan. Konsultasikan waktu yang tepat untuk mengonsumsi obat tersebut selama bulan puasa.

.

Bila keluhan masih saja muncul meski telah menerapkan tips puasa yang dijelaskan di atas, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Jangan sampai niat baik berpuasa malah mengganggu lambung Anda. Asam lambung akan mudah naik jika Anda memilih makanan sahur dan berbuka yang tidak tepat. Pastikan makanan yang Anda konsumsi saat sahur dan berbuka bergizi seimbang, yaitu mengandung nutrisi penting bagi tubuh seperti karbohidrat, lemak sehat, protein, serat, vitamin, dan mineral. Selamat berpuasa!

.

Referensi:
Carlin, R & Sohail, M. 2016. Fating During Ramadhan : Nutrition and Health Impact and Food Safety Recomendation. Virginia Cooperative Extension.

Haruma K, Kinoshita, Y., Sakamoto, S., Sanada, K., Hiroi, S., Miwa, H. 2015. Lifestyle factors and efficacy of lifestyle interventions in gastroesophageal reflux disease patients with functional dyspepsia: Primary care perspectives from the LEGEND study, Intern Med, 54: 695-701.

Mardhiyah, R., Makmun, D., Syam, AF., Setiati, S. 2016. The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease. Acta Med Indones-Indones J Intern Med, 48 (3): 169-174.

Rahimi, H., Mohammad, EH., Alireza, F., Najmeh, T., Baradaran, M., Elnaz, SM., Mirmosayyeb, O. 2017. Effects of Ramadan Fasting on Dyspepsia Symptoms. Govaresh Journal of Iranian Association of Gastroenterology and Hepatology, 22(4):188-194.

Sinn, DH., Shin, DH., Lim, SW.,Kim, KM., Son, HJ., Kim, JJ. et al. 2010. The Speed of Eating and Functional Dyspepsia in Young Women.Gut and Liver, 4(2):173-178.Carlin, R & Sohail, M. 2016. Fating During Ramadhan : Nutrition and Health Impact and Food Safety Recomendation. Virginia Cooperative Extension.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*