Bahaya konsumsi lemak berlebihan
Makanan gorengan, berminyak, dan bersantan merupakan salah satu makanan favorit selama bulan puasa. Makanan tersebut mengandung tinggi lemak yang menyebabkan rasanya lebih gurih saat disantap. Namun, makanan yang mengandung tinggi lemak sebenarnya tidak dianjurkan untuk menjadi menu sahur dan buka puasa. Dibandingkan karbohidrat dan protein, perut kita membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna lemak sehingga membuat kita merasa lebih cepat kenyang, bahkan sampai perut terasa kembung. Akibat rasa kenyang yang ditimbulkan, makanan lain yang lebih bernutrisi tidak termakan.
Makanan tinggi lemak juga menyebabkan kerja saluran pencernaan kita menjadi berat. Semakin lama makanan tersebut di perut, semakin banyak pula asam lambung yang dihasilkan untuk mencernanya. Asam lambung yang terus naik nantinya dapat mencapai kerongkongan yang mengakibatkan perut bagian atas terasa perih. Makanan tinggi lemak juga memicu produksi hormon kolesistokinin yang berlebihan. Hormon ini dapat menyebabkan katup yang memisahkan kerongkongan dan lambung mengendur. Apabila hal ini terjadi terus-menerus maka asam lambung akan lebih mudah mengiritiasi kerongkongan kita.
.
Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Sebaiknya Tidak Berbuka Puasa dengan Gorengan
.
Perlu diketahui, tidak semua lemak itu jahat. Lemak yang mengganggu kesehatan kita adalah lemak jenuh dan lemak trans, dimana lemak tersebut meningkatkan LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan HDL (kolesterol baik). Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi makanan tinggi lemak adalah penyakit jantung koroner. Penyakit tersebut disebabkan karena kolesterol jahat yang menumpuk dan membentuk plak di dalam pembuluh darah jantung. Apabila plak dalam pembuluh darah itu terlepas kemudian mengalir ke pembuluh darah otak dan membuat sumbatan, maka timbulah penyakit stroke. Lemak jahat juga dapat memperburuk diabetes mellitus.
Selain itu, konsumsi tinggi lemak dapat menyebabkan kegemukan. Air yang cukup akan meningkatkan metabolisme lemak. Saat sedang berpuasa, tubuh kita cenderung kekurangan cairan sehingga metabolisme tubuh melambat. Akibatnya, energi yang dihasilkan menjadi sedikit dan badan menjadi mudah lemas. Asupan kalori yang lebih banyak dibandingkan aktivitas membakar kalori menyebabkan kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak.
.
Konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) memiliki kontribusi dalam menghadirkan berbagai penyakit kronis. Oleh karena itu, batasi jumlahnya agar tubuh kita tetap sehat selama dan setelah menjalankan ibadah puasa. Sayangilah tubuh kita dengan mengonsumsi makanan bergizi dan kaya akan nutrisi!
Punya keluhan sakit maag/ lambung/ GERD?
Isi survei kami di bit.ly/surveiherbalYGI
.
Referensi
Guyton, AC., Hall, JE. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta: EGC.
Kemenkes Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. 2019. Penting, Ini yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Konsumsi Gula, Garam dan Lemak. Available online at http://promkes.kemkes.go.id/penting-ini-yang-perlu-anda-ketahui-mengenai-konsumsi-gula-garam-dan-lemak (Diakses pada 17 Mei 2020).
Khodarahmi, M., Azadbakht, L. 2016. Dietary fat intake and functional dyspepsia. Advanced Biomedical Research, 5 (76).
Lia, J., Sun, F., Guoc, Y., Fana, H. 2018. High-Salt Diet Gets Involved in Gastrointestinal Diseases through the Reshaping of Gastroenterological Milieu. Digestion, 99:267–274.
Peng, AW., Juraschek, SP., Appel, LJ., Miller, ER., Mueller, NT. 2019. Effects of the DASH Diet and Sodium Intake on Bloating.American Journal of Gastroenterology, 114(7):1109-1115.
Singh, RK., Chang, HW., Yan, D., Lee, KM., Ucmak, D., Wong, K. et al. 2017. Influence of diet on the gut microbiome and implications for human health.J Transl Med,15: 73.

Leave a Reply