Bagaimana pengaturan pola makan pada saat berpuasa?
Beberapa studi menunjukkan bahwa asupan total kalori dan aktivitas fisik di bulan puasa tetap sesuai dengan pola sehari-hari. Perubahan pola makan yang utama di bulan puasa adalah pada frekuensi makan. Studi-studi tersebut menunjukkan terjadinya penurunan pada berat badan, penumpukkan lemak di dalam tubuh, dan penurunan dari indeks masa tubuh.
Asupan cairan juga perlu dijaga dengan baik untuk menghindari risiko terjadinya kekurangan cairan. Kejadian ini terutama terjadi pada minggu ketiga dan tentu risiko akan semakin meningkat pada wilayah dengan musim panas yang panjang. Risiko terjadinya batu pada ginjal akibat asupan cairan yang dibatasi juga meningkat, hal ini terutama terjadi pada minggu pertama berpuasa. Maka penting untuk minur air yang cukup saat sahur dan berbuka agar terhindar dari kedua hal tersebut.
Asupan makan di bulan puasa pada pasien dengan penyakit gula dianjurkan mengonsumsi karbohidrat kompleks (gandum) pada saat sahur. Yang perlu diingat adalah puasa sebaiknya dibatalkan apabila ditemukan adanya tanda-tanda kadar gula yang rendah seperti lemah, keringat dingin ataupun beberapa tanda khas lainnya.
,
Baca juga: Tips Sahur Agar Puasa Lancar, Tubuh dan Saluran Cerna Tetap Sehat!
.
Tips dan trik menjaga kesehatan pada saat berpuasa
- Pengaturan waktu tidur yang tepat. Saat berpuasa, waktu tidur sering tertunda karena adanya beberapa aktivitas. Selain itu, kedalaman tidur sering terganggu karena harus menyiapkan asupan sahurnya. Hal ini dapat mengganggu aktivitas di pagi hari.
- Makan dengan porsi sedang. Hindari makan dalam porsi besar sekaligus. Makan lebih dari 1000 kalori atau volume lebih dari 1000 ml dapat meningkatkan rasa haus, kembung, dan meningkatkan risiko refluks.
- Meningkatkan asupan buah dan sayur lima sampai sepuluh kali per hari dengan satu atau setengah piring sajian. Konsumsi serat kurang dari sepuluh gram per hari dapat meningkatkan rasa haus dan lapar di siang hari. Mengonsumsi serat juga dapat mencegah konstipasi.
- Menjadikan karbohidrat kompleks seperti gandum sebagai sumber karbohidrat utama selama berpuasa. Namun tetap membatasi konsumsi karbohidrat, termasuk hidangan penutup yang manis. Konsumsi karbohidrat lebih dari 150 gram dapat mengakibatkan perut terasa penuh dan kembung.
- Meningkatkan asupan protein harian, dengan mengutamakan asupan protein yang rendah lemak, termasuk ikan, paling tidak dua kali selama seminggu dan protein dari sayur seperti kacang-kacangan.
- Menggunakan minyak yang sehat ketika memasak, seperti olive, canola ataupun minyak tak jenuh lainya. Makanan yang digoreng dan tinggi lemak dapat meningkatkan rasa haus
- Asupan produk susu rendah lemak yang cukup.
- Asupan cairan yang cukup.
- Hindari tidur setelah makan, sebaiknya beraktivitas atau beribadah setelah sahur dan berbuka.
- Pada saat sahur, cukup makan dengan porsi sedang dan tidak perlu makan secara berlebih. Sebaiknya mengangung gandum, protein, buah, sayur serta minum air putih yang cukup. Asupan lemak ataupun minyak dapat membantu memperlambat pengosongan lambung dan memperpanjang rasa kenyang.
- Untuk berbuka, sebaiknya disertai dengan buah ataupun jus buah. Selain itu, komposisi makan harus seimbang dan tidak disarankan makan secara berlebihan.
- Pada pasien diabetes, asupan makanan utama sebaiknya pada saat sahur. Sedangkan konsumsi obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid dan glimepirid sebaiknya diberikan pada saat berbuka.
,

Terimakasih. Artikel yg sangat bermanfaat. Indahnya syari’at puasa.
Terima kasih. Tunggu artikel-artikel kami berikutnya mengenai puasa Ramadhan 🙂