Penulis: Prof. Dr. dr. Dadang Makmun, SpPD, K-GEH, FACG
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Keluhan perut perih, panas, begah, mual, hingga rasa tidak nyaman di ulu hati seperti rasa terbakar merupakan beberapa masalah yang sangat umum dan sering dialami banyak orang. Sayangnya, gejala-gejala tersebut sering dipukul rata dan disalahartikan sebagai “maag”, padahal dalam bidang saluran pencernaan terdapat beberapa kondisi berbeda yang memiliki gejala hampir serupa, tetapi penyebab dan penanganannya tidak selalu sama. Istilah yang sering membingungkan dan disalahartikan adalah maag, GERD, dan dispepsia.
Berikut ini adalah penjelasan secara ringkas mengenai perbedaan definisi, gejala, dan tata laksana antara istilah maag, GERD, dan dispepsia:
-
Maag
Maag adalah istilah populer di masyarakat untuk menggambarkan keluhan nyeri lambung, walaupun sebenarnya maag bukanlah suatu diagnosis medis. Kondisi ini sering berkaitan dengan gastritis (peradangan pada lambung) atau tukak lambung, yaitu luka pada dinding lambung yang terjadi akibat iritasi asam lambung, infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dalam jumlah berlebih, kondisi stres kronis, atau karena pola makan yang tidak teratur.
Gejala maag biasanya berupa rasa nyeri perih di ulu hati, disertai dengan keluhan lain seperti mual, muntah, kembung, begah, dan rasa tidak nyaman setelah makan. Keluhan ini umumnya dapat membaik setelah konsumsi obat yang bekerja untuk menetralkan asam lambung. Walaupun begitu, keluhan dapat kambuh kembali jika pola makan buruk atau faktor pencetus tidak dihindari.
-
GERD
Berbeda dengan maag, GERD (gastroesophageal reflux disease) adalah kondisi medis yang spesifik terjadi akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan secara berulang dan dalam jangka waktu lama (bersifat kronis). Hal ini terjadi karena kelemahan katup antara lambung dan kerongkongan (sfingter esofagus bawah) sehingga asam lambung yang seharusnya berada di lambung menjadi mudah naik ke atas ke kerongkongan
Gejala yang umumnya terjadi pada kasus GERD adalah rasa panas dengan sensasi seperti terbakar di dada (heartburn), disertai munculnya sensasi rasa asam atau pahit di mulut,suara serak, batuk kronis, dan yang terberat hingga nyeri dada yang bisa menyerupai serangan jantung. Gejala GERD biasanya memburuk ketika berbaring, setelah konsumsi makanan berlemak, setelah makan dalam porsi besar, atau setelah konsumsi makanan yang pedas, bersantan, atau terlalu asam.
-
Dispepsia
Dispepsia merupakan istilah medis untuk kumpulan gejala gangguan pencernaan bagian atas, bukan satu penyakit spesifik. Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk gastritis, GERD, tukak lambung, gangguan motilitas lambung, stres psikologis, hingga gangguan fungsional tanpa kelainan organik yang jelas.
Gejala dispepsia meliputi rasa penuh di perut bagian atas, cepat kenyang, mual, kembung, sendawa berlebihan, nyeri ulu hati, dan rasa tidak nyaman setelah makan. Inilah yang membuat dispepsia seringkali disamakan dengan maag dan GERD, sehingga sulit dibedakan tanpa pemeriksaan medis yang tepat.
Perbedaan utama ketiganya terletak pada mekanisme penyakitnya: maag berkaitan dengan peradangan atau luka di lambung, GERD berkaitan dengan refluks asam lambung ke kerongkongan, sedangkan dispepsia adalah kumpulan gejala yang bisa disebabkan oleh banyak faktor. Karena itu, penanganannya tidak bisa disamakan, meskipun keluhannya terlihat serupa.
Diagnosis yang tepat biasanya membutuhkan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, dan bila perlu pemeriksaan penunjang seperti endoskopi, atau evaluasi lanjutan lainnya. Memahami perbedaan maag, GERD, dan dispepsia penting agar penanganan yang diberikan tepat dan sesuai dengan penyebabnya. Penanganan dapat berupa perubahan gaya hidup, pengaturan pola makan, manajemen stres, serta terapi obat sesuai penyebab yang mendasari.
Referensi:
- Hoshikawa Y, Iwakiri K. Gastroesophageal Reflux Disease and Functional Dyspepsia. No Shinkei Geka. 2024 Nov;52(6):1271-1276. Japanese. doi: 10.11477/mf.1436205044. PMID: 39622333.
- Caballero-Mateos AM, López-Hidalgo JL, Torres-Parejo Ú, Hernández-González JM, Quintero-Fuentes MD, Caballero-Plasencia AM, Redondo-Cerezo E. Risk factors for functional dyspepsia, erosive and non-erosive gastroesophageal reflux disease: A cross-sectional study. Gastroenterol Hepatol. 2023 Aug-Sep;46(7):542-552. English, Spanish. doi: 10.1016/j.gastrohep.2022.12.005. Epub 2022 Dec 27. PMID: 36584749.
- Fujita T, Umegaki E, Masuda A, Kobayashi M, Yamazaki Y, Terao S, Sanuki T, Okada A, Murakami M, Watanabe A, Obata D, Yoshinaka H, Kutsumi H, Azuma T, Kodama Y. Factors Associated with Overlap between Functional Dyspepsia and Nonerosive Reflux Disease in Endoscopy-based Helicobacter pylori-uninfected Japanese Health Checkup Participants: A Prospective, Multicenter Cross-sectional Study. Intern Med. 2024 Mar 1;63(5):639-647. doi: 10.2169/internalmedicine.1786-23. Epub 2023 Jul 12. PMID: 37438139; PMCID: PMC10982007.

Leave a Reply