Konstipasi
Konstipasi atau biasa disebut sembelit merupakan kondisi sulit buang air besar, dimana frekuensi buang air besar lebih sedikit dari biasanya. Sembelit menyebabkan gejala rasa tidak puas saat buang air besar dan tinja yang keras. Mengapa konsumsi daging merah berlebihan dapat menyebabkan gejala konstipasi? Umumnya, daging merah memiliki kadar lemak tinggi dan serat yang rendah. Dua hal tersebut menyebabkan daging merah membutuhkan lebih banyak waktu untuk dicerna. Daging merah juga mengandung tinggi zat besi yang bisa membuat tinja semakin keras.
Mengingat daging merah mengandung sedikit serat, alangkah baiknya jika diimbangi dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan serat seperti buah dan sayur untuk memperlancar buang air besar. Serat yang terkandung dalam sayur dan buah juga dapat mengurangi lemak pada perut.
.
Kanker pada Saluran Cerna
Sering kita dengar bahwa konsumsi daging merah yang berlebihan dikaitkan sebagai salah satu penyebab terjadinya kanker. Namun, benarkah daging merah bisa sebabkan kanker? Ternyata, sampai saat ini banyak penelitian yang telah meneliti hubungan antara konsumsi daging merah dengan berbagai macam kanker, termasuk kanker pada saluran cerna.
Orang yang mengonsumsi daging merah berlebihan ternyata lebih berisiko tinggi terkena kanker esofagus, kanker lambung, kanker pankreas, dan kanker usus besar. Studi penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi daging merah dalam jumlah besar (>100 gram sehari), terutama daging merah olahan (>50 gram sehari), berisiko lebih tinggi terkena kanker usus besar.
.
Baca juga: Daging Putih dan Daging Merah, Mana yang Lebih Sehat?
.
Mengapa daging merah bisa menyebabkan kanker?
Daging merah mengandung heme iron yang menyebabkan warna merah pada daging. Kandungan heme iron yang tinggi pada daging merah diduga memegang peranan penting dalam pembentukan sel kanker. Heme iron diduga bisa merusak lapisan usus besar, mengganggu keseimbangan bakteri dalam usus, dan memicu pembentukan zat yang menyebabkan kanker seperti N-nitroso compound (NOC). Daging merah olahan biasanya diawetkan dengan penambahan nitrat dan nitrit yang dapat meningkatkan pembentukan NOC. Semakin banyak zat tersebut terbentuk, semakin tinggi risiko munculnya sel kanker.
Daging merah yang terolah dengan suhu tinggi juga dapat mengeluarkan zat yang dapat mencetuskan timbulnya sel kanker. Oleh karena itu, hindari memanggang dan menggoreng daging merah dengan suhu panas yang terlalu tinggi. Gunakan suhu menengah, namun masak sedikit lebih lama.
.
Terlalu banyak mengonsumsi daging merah memang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, namun bukan berarti Anda tidak boleh mengonsumsi daging merah sama sekali. Daging merah tetap boleh dikonsumsi, hanya saja perlu diperhatikan porsi dan cara mengolahnya.
Referensi
Sasso, A., Latella, G. 2019. Role of Heme Iron in the Association Between Red Meat Consumption and Colorectal Cancer. Nutr Cancer. 70 (8), 1173-1183.
Williams, P. 2007. Nutritional composition of red meat. Nutrition & Dietetics. 64(4), 113–119.
Cao, Y., Strate, LL., Keeley, BR., Tam, I., Wu, K., Giovannucci, EL., et al. 2018. Meat intake and risk of diverticulitis among men. Gut. 67(3), 466–472.
O’ Doherty, MG., Cantwell, MM, Murray, LJ., Anderson, LA., Abnet, CC. 2011. Dietary fat and meat intakes and risk of reflux esophagitis, Barrett’s esophagus and esophageal adenocarcinoma. Int. J. Cancer. 129, 1493–1502.
Wyness, L., Weichselbaum, E., O’Connor, A., Williams, EB., Benelam, B.,Riley, H. et al. 2011. Red meat in the diet: an update. Nutrition Foundation Nutrition Bulletin, 36, 34–77.

Apakah konsumsi daging merah yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit Crohn?
Berdasarkan penelitian, konsumsi daging merah berlebihan memang meningkatkan risiko penyakit Crohn’s.
Informasi lainnya mengenai IBD silakan mengunjungi: http://ygi.or.id/tag/ibd/
Semoga bermanfaat