Mengapa kita perlu memerhatikan proses pengolahan makanan?
Pengolahan makanan yang kurang baik dapat mengakibatkan makanan terkontaminasi oleh beragam mikroorganisme mulai dari bakteri, virus, parasit, bahkan jamur. Kejadian yang paling banyak ditemukan adalah kontaminasi bakteri yang menyebabkan gangguan saluran cerna. Hal yang penting diperhatikan adalah waktu munculnya gejala beserta dengan gejala yang ditimbulkan, karena dengan memperhatikan kedua hal tersebut kita dapat mengetahui makanan apa yang terkontaminasi dan menghindari atau memperbaiki proses pengolahannya.
Beberapa bakteri akan menimbulkan gejala dalam waktu 1 – 6 jam. Bakteri-bakteri tersebut diantaranya Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Gejala yang lebih dominan muncul adalah mual dan muntah yang dapat disertai diare yaitu buang air besar cair lebih dari tiga kali dalam sehari. Sumber makanan yang banyak berperan adalah produk daging seperti ham, kentang, telur, mayones dan juga nasi goreng.
Apabila gejala saluran cerna muncul setelah 8 – 16 jam setelah makan, biasanya disebabkan oleh bakteri Clostridium perfringens dan Bacillus cereus. Gejala yang ditimbulkan biasanya kram perut dan diare, dan jarang disertai muntah. Bakteri ini banyak terdapat di daging, unggas, kacang-kacangan, dan sereal.
.
Baca juga: Ketahui Penanganan Diare Akut yang Tepat
.
Sedangkan apabila gejala saluran cerna muncul setelah 16 jam maka banyak bakteri yang dapat terlibat didalamnya. Diantaranya adalah Clostridium botulinum, Vibrio cholerae, Escherichia coli, Salmonella, Campylobacter jejuni dan Shigella. Keluhan yang ditimbulkan bakteri-bakteri tersebut lebih dominan pada diare. Diare yang ditimbulkan dapat beragam seperti diare berdarah pada infeksi bakteri kolera, diare berair dengan volume yang banyak pada infeksi bakteri E. coli, dan diare disertai nyeri perut pada infeksi bakteri Shigella. Biasanya bakteri ini terdapat pada produk olahan daging, unggas, telur, sayuran dan makanan kaleng.
Penanganan yang diberikan pada keadaan-keadaan tersebut lebih bersifat tatalaksana pendukung seperti pemberian cairan dan elektrolit untuk mencegah dehidrasi (kekurangan cairan) dan pengobatan gejala seperti mual, muntah, dan diare. Kejadian yang perlu perhatian khusus adalah kontaminasi dari Clostridium botulinum dan perfringens yang memiliki angka kematian yang cukup tinggi dan banyak bersumber dari daging olahan dan makanan kaleng.
Proses pengolahan yang baik adalah yang kita ketahui keseluruhannya dengan baik sehingga kita dapat memastikan tiap-tiap prosesnya berjalan secara aman. Hal yang sering terjadi adalah makanan terkontaminasi bakteri atau jamur sehingga menimbulkan penyakit. Dengan melakukan poin-poin yang sudah dijelaskan diatas semoga pengolahan makanan yang dilakukan dapat lebih baik lagi sehingga terhindar dari berbagai penyakit.
.
Referensi
2016, Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktis Klinis. Jakarta : Interna Publishing
Badan Pengawas Obat dan Makanan. “5 Keys to Food Safety” diakses melalui www.klubpompi.pom.go.id
https://www.eufic.org/en/food-production/category/food-processing
http://www.searo.who.int/entity/world_health_day/2015/whd-what-you-should-know/ en/#quality/

Leave a Reply