Olahraga intensitas ringan-sedang meningkatkan waktu pengosongan lambung
Selain menurunkan risiko dan mencegah penyakit pada saluran cerna bawah seperti di usus, nyatanya olahraga juga dapat mengurangi risiko terjadinya GERD atau Gastroesophageal reflux disease yaitu penyakit asam lambung naik ke kerongkongan karena lemahnya katup yang memisahkan antara kerongkongan dan lambung. Olahraga ringan-sedang yang rutin terbukti meningkatkan pengosongan lambung, sehingga mengurangi kemungkinan asam lambung naik kekerongkongan. Selain itu, olahraga bisa digunakan sebagai sarana mengurangi berat badan dan mempertahankan berat badan yang ideal sehingga lemak yang ada di perut berkurang, tekanan pada perut berkurang, dan kejadian naiknya asam lambung ke kerongkongan berkurang. Olahraga juga dapat memperkuat otot perut disekitar katup tersebut sehingga risiko terjadinya GERD dapat berkurang.
Baca juga: 5 Manfaat Berjalan Setelah Makan
Punya keluhan sakit maag/ lambung/ GERD?
Isi survei kami di bit.ly/surveiherbalYGI
Perlu kita ketahui, respon pencernaan juga bergantung pada jenis olahraga yang dipilih. Pada olahraga yang berat seperti lari, maraton, dan angkat beban, respon pada sistem pencernaan yang terjadi secara akut adalah aliran darah ke sistem pencernaan berkurang, tingkat penyerapan nutrisi menurun, dan pengosongan lambung melambat. Hati-hati jika melakukan olahraga intensitas berat pada lingkungan yang panas, tanpa pelatihan yang memadai, serta tanpa hidrasi yang tepat. Olahraga yang seperti itu dapat menimbulkan dan memperberat keluhan pencernaan seperti rasa terbakar pada perut, mual, dan diare. Olahraga berat dapat memicu gejala tersebut dan sebagian besar bersifat sementara. Namun, olahraga berat terus-menerus yang disertai pelatihan yang tidak tepat dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah ke sistem pencernaan yang berkelanjutan, sehingga mudah terjadi cedera pada dinding usus yang menyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas dari dinding usus. Hal ini mengakibatkan bakteri dapat berpindah dari usus ke dalam pembuluh darah yang pada kondisi tertentu dapat menyebabkan respon peradangan seluruh tubuh. Pada pasien yang sedang mengalami GERD atau memiliki riwayat GERD sebaiknya menghindari olahraga yang berat dan memilih olahraga ringan-sedang.
Selain itu, apabila ingin berolahraga setelah makan, berilah jeda waktu sekitar 2 – 3 jam agar makanan dapat dicerna dengan baik. Hal ini perlu diingat sehingga tidak menimbulkan keluhan pada saluran cerna saat sedang berolahraga.
.
Seperti yang kita ketahui, olahraga baik untuk kesehatan. Namun penting bagi kita untuk memperhatikan jenis, intensitas, dan waktu yang tepat untuk berolahraga. Hindari berolahraga berat pada lingkungan panas, tanpa pelatihan dan hidrasi yang cukup. Stay healthy!
.
Referensi
De Oliveira, EP, Burini, RC. 2009. The impact of physical exercise on the gastrointestinal tract. Nutrition and the gastrointestinal tract, 12(5): 533–538.
Stachow, E.2019. Exercise and the gastrointestinal system. InnovAiT, 12(9): 517–525.
Monda, V., Villano, I., Messina, A., Valenzano, A., Esposito, T., Moscatelli, F., et al. 2017. Exercise Modifies the Gut Microbiota with Positive Health Effects. Hindawi Oxidative Medicine and Cellular Longevity.

Leave a Reply