Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk menilai IBD?
Untuk menilai IBD tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan secara spesifik. Endoskopi akan membantu dalam penilaian diagnosis, hampir berkisar 89% tingkat akurasi yang dapat diberikan. Gambaran endoskopi pada Colitis Ulcerativa menunjukkan peradangan pada usus besar yang berkelanjutan ke bagian atas. Sedangakan pada Crohn Disease peradangan sebagian, baik pada usus halus ataupun usus besar. Pemeriksaan radiologi dengan pewarna saling melengkapi dengan pemeriksaan endoskopi. Pemeriksaan ini akan memperlihatkan adanya penyempitan, celah, luka ataupun polip pada rongga usus. Namun pemeriksaan ini perlu dihindari pada kondisi sakit yang berat karena dapat berdampak terjadinya gangguan pada usus. Pemeriksaan jaringan, baik yang diambil melalui endoskopi atau pada saat operasi, menunjukkan gambaran yang dapat membantu diagnosis IBD.
.
Kapan diagnosis IBD dapat ditegakkan?
Pertama, kita harus mengenali gejala berupa buang air besar cair yang berkepanjangan dengan beberapa gejala lainya yang sudah dijelaskan sebelumnya. Lalu perlu untuk diketahui riwayat keluarga yang serupa atau bahkan yang sudah didiagnosis sebagai IBD. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengesampingkan penyebab lain terutama Tuberkulosis. Selanjutnya pemeriksaan endoskopi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi. Dan pemeriksaan radiologi dengan pewarna untuk semakin menunjang hasil pemeriksaan endoskopi. Setelah itu dilakukan pemantauan perjalanan penyakit mulai dari berkurangnya gejala hingga kekambuhan gejala perlu dipantau untuk merencanakan penanganan yang berkesinambungan.
Baca juga: Sekilas mengenai Endoskopi Saluran Cerna: Apa itu Endoskopi, Risiko dan Persiapan Tindakan (1)
.
Bagaimana penanganan IBD?
Penanganan berupa pengendailain pencetus IBD, mulai dari pemberian antibiotik pada beberapa keadaan infeksi bakteri atau menghindari beberapa bahan makanan yang diketahui dapat mencetuskan IBD seperti produk dari peternakan. Penanganan peradangan pada saluran cerna dapat dilakukan dengan memberikan kortikosteroid atau anti peradangan. Selain itu juga dapat diberikan obat golongan amino salisilat seperti Sulfasalazin. Apabila kedua obat tersebut tidak berhasil dalam mengendalikan IBD, pemberian obat yang bertujuan menekan sistem daya tahan tubuh atau tindakan operasi dapat dilakukan.
Penanganan yang kurang baik dapat mengakibatkan beberapa komplikasi pada IBD. Diantaranya perdarahan pada saluran cerna yang hebat hingga dapat menimbulkan anemia, penyempitan pada saluran cerna dan pembesaran pada usus besar. Beberapa keadaan apabila ditangani dengan baik akan memberikan hasil yang baik mulai dari berkurang atau hilangnya gejala penyakit untuk sementara waktu (remisi) dan pencegahan kekambuhan.
.
Referensi
Kasper, et al. 2015. Harrison Principle of Internal Medicing 19th Edition : McGraw Hill
Djojoningrat, Dharmika. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Interna Publishing

Leave a Reply