Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS): Memahami Hubungan Usus dan Stres

Penulis: Dr. dr. Kaka Renaldi, SpPD, K-GEH, FINASIM
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Sindrom iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan salah satu gangguan saluran cerna fungsional dengan angka kejadian yang tinggi di dunia. Berbeda dengan penyakit radang usus (IBD) atau kanker usus, IBS tidak menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan usus. Namun demikian, kondisi ini dapat menimbulkan keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

IBS ditandai oleh adanya nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut yang disertai perubahan pola buang air besar, seperti diare berulang, sembelit, atau keduanya secara bergantian. Penyebab IBS hingga saat ini belum diketahui secara pasti, tetapi ada berbagai faktor yang diyakini saling berkaitan menjadi faktor penyebab terjadinya IBS. Gangguan komunikasi antara otak dan usus (brain-gut axis), perubahan komposisi mikrobiota usus, perubahan motilitas usus, meningkatnya sensitivitas saraf usus, hingga faktor genetik diduga saling berkaitan dan berperan terhadap timbulnya IBS pada suatu individu. Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan usus menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan yang sebenarnya tidak berbahaya.

Brain-gut axis

Salah satu aspek yang paling menarik dan paling sering dibahas dalam terjadinya IBS adalah hubungan erat antara sistem pencernaan dan kondisi psikologis seseorang. Usus memiliki jaringan saraf yang sangat kompleks, dikenal sebagai sistem saraf enterik yang diumpamakan sebagai “otak kedua” dalam tubuh manusia. Sistem ini berkomunikasi secara langsung dengan otak melalui berbagai jalur saraf dan hormon. Ketika seseorang mengalami stres, kecemasan, atau depresi, komunikasi antara otak dan usus dapat terganggu sehingga memicu atau memperberat gejala IBS.

Stres merupakan salah satu faktor yang sering memicu kekambuhan gejala. Saat tubuh mengalami stres, terjadi peningkatan kadar hormon kortisol di dalam tubuh. Hal ini memengaruhi kontraksi usus, sensitivitas saraf, serta keseimbangan bakteri baik di saluran cerna. Akibatnya, ketika stres penderita menjadi lebih mudah mengalami gejala yang mengganggu seperti kembung, nyeri perut, diare, atau konstipasi dibandingkan saat kondisi emosional stabil. Oleh karena itu, pengelolaan stres menjadi salah satu bagian penting dalam terapi IBS.

Gejala IBS

Gejala IBS dapat berbeda-beda pada setiap individu. Keluhan yang paling umum terjadi meliputi nyeri perut, kembung, kram perut, begah, adanya perubahan frekuensi buang air besar, serta perubahan bentuk feses. Beberapa gejala biasanya dikatakan membaik setelah buang air besar. Ada penderita lebih dominan mengalami gejala diare (IBS-D/diarrhea), ada yang lebih sering mengalami konstipasi (IBS-C/constipation), dan ada juga sebagian lainnya yang mengalami keduanya secara bergantian (IBS-M/mixed bowel habits). Gejala IBS pada umumnya bersifat kronis dengan periode kambuh dan membaik secara bergantian.

Penegakan diagnosis

Diagnosis IBS ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang memenuhi kriteria internasional, seperti Rome IV Criteria, setelah dokter menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan tinja, atau kolonoskopi mungkin diperlukan pada pasien dengan tanda bahaya, seperti penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, perdarahan saluran cerna, penurunan kadar hemoglobin dalam darah, demam, atau individu dengan riwayat keluarga kanker kolorektal dan penyakit radang usus. Langkah ini penting agar penyakit yang lebih serius tidak terlewatkan. Secara khusus, pemeriksaan endoskopi (utamanya kolonoskopi), merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk menegakkan diagnosis IBS.

Pengobatan IBS

Penanganan IBS memerlukan pendekatan secara holistik yang menyeluruh dan disesuaikan dengan gejala yang dialami pasien. Langkah awal yang sering dilakukan terlebih dahulu adalah mengubah pola makan, misalnya dengan menghindari makanan yang memicu gejala seperti makanan berlemak, makanan yang memicu produksi gas berlebih, minuman berkafein, atau alkohol. Pada sebagian pasien, diet rendah FODMAP (Fermentable Oligosaccharides, Disaccharides, Monosaccharides, and Polyols) terbukti dapat membantu mengurangi keluhan. Namun, diet rendah FODMAP ini harus dipantau oleh ahli gizi, karena membutuhkan pengaturan diet yang terencana. Selain itu, pola makan dengan konsumsi tinggi juga dapat bermanfaat, terutama pada pasien dengan gejala konstipasi yang lebih dominan.

Selain pengaturan pola makan, pengelolaan stres memiliki peran yang tidak kalah penting. Teknik relaksasi, meditasi, yoga, olahraga rutin, tidur yang cukup, hingga terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy atau CBT) pada beberapa kasus terbukti membantu mengurangi keparahan gejala IBS. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan untuk mengatasi diare, konstipasi, nyeri perut, atau bahkan antidepresan dosis rendah guna mengurangi sensitivitas saraf usus.

Perubahan gaya hidup juga berkontribusi besar dalam mengendalikan IBS. Makan secara teratur, mengunyah makanan dengan baik, memperbanyak konsumsi air putih, berolahraga minimal 5 kali dalam seminggu, serta menghindari kebiasaan merokok dapat membantu menjaga fungsi saluran cerna tetap optimal. Penderita juga dianjurkan untuk mengenali makanan atau situasi tertentu yang memicu gejala dengan mencatatnya dalam buku harian makanan dan gejala.

Meskipun IBS merupakan penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan sepenuhnya, kondisi ini dapat dikendalikan dengan baik melalui kombinasi perubahan gaya hidup, pengaturan pola makan, pengelolaan stres, dan terapi medis bila diperlukan. Memahami bahwa hubungan antara otak dan usus sangat mempengaruhi timbulnya gejala akan membantu penderita lebih bijak dalam mengelola kesehatannya. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan yang komprehensif, sebagian besar pasien IBS tetap dapat menjalani kehidupan yang aktif, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.


Referensi:

  1. Huang KY, Wang FY, Lv M, Ma XX, Tang XD, Lv L. Irritable bowel syndrome: Epidemiology, overlap disorders, pathophysiology and treatment. World J Gastroenterol. 2023 Jul 14;29(26):4120-4135. doi: 10.3748/wjg.v29.i26.4120. PMID: 37475846; PMCID: PMC10354571.
  2. Greer KB, Sultan S. Irritable Bowel Syndrome. Ann Intern Med. 2025 Aug;178(8):ITC113-ITC128. doi: 10.7326/ANNALS-25-01965. Epub 2025 Aug 12. PMID: 40789179.
  3. ⁠Galica AN, Galica R, Dumitrașcu DL. Diet, fibers, and probiotics for irritable bowel syndrome. J Med Life. 2022 Feb;15(2):174-179. doi: 10.25122/jml-2022-0028. PMID: 35419092; PMCID: PMC8999090.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*