Perubahan Pola BAB: Jangan Dianggap Sepele

Penulis: Prof. Dr. dr. Dadang Makmun, SpPD, K-GEH, FACG
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Perubahan pola buang air besar (BAB) dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan kesehatan pada saluran pencernaan, namun sayangnya hal ini sering dianggap sepele. Gangguan pada pola BAB tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, namun juga dapat berpengaruh pada kesehatan pencernaan secara jangka panjang.

Secara umum, pola BAB yang normal ditandai dengan frekuensi teratur, konsistensi yang baik antara lembek hingga padat, serta tidak disertai nyeri saat prosesnya. Ketika seseorang mengalami perubahan pola BAB, yang beberapa di antaranya ditandai dengan diare atau sembelit yang berkepanjangan, kondisi ini bisa jadi mencerminkan masalah medis yang lebih serius.

Tanda Bahaya Diare

Diare ditandai dengan perubahan konsistensi feses yang menjadi sangat lembek hingga cair disertai dengan peningkatan frekuensi BAB. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit. Infeksi yang terjadi dapat menyebabkan gangguan penyerapan cairan di dalam saluran pencernaan dan membuat feses menjadi lebih cair dibandingkan pada kondisi normal.

Selain itu, diare juga dapat dipicu oleh karena intoleransi makanan (misalnya pada dewasa dengan intoleransi laktosa), efek samping obat, atau  gangguan penyerapan nutrisi. Jika diare berlangsung lama (hingga lebih dari dua hari pada dewasa dan lebih dari 24 jam pada anak-anak), risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit menjadi semakin tinggi, terutama pada kasus diare anak-anak atau lansia.

Beberapa tanda bahaya pada diare yang tidak boleh diabaikan antara lain:

  • Adanya darah atau lendir pada feses
  • Diare yang disertai demam tinggi
  • Nyeri perut hebat
  • Penurunan berat badan drastis
  • Adanya tanda dehidrasi
  • Diare yang berlangsung hingga lebih dari dua hari pada dewasa dan lebih dari 24 jam pada anak-anak.

Gejala-gejala tersebut dapat mengarah pada peradangan/inflamasi usus, infeksi berat, atau bahkan keganasan saluran cerna. Dalam kondisi seperti ini, pemeriksaan medis segera sangat dianjurkan untuk menentukan penyebab dan terapi yang tepat.

Tanda Bahaya Sembelit

Sembelit (konstipasi) ditandai dengan frekuensi BAB yang menurun (kurang dari tiga kali dalam seminggu), konsistensi feses yang cenderung keras, serta rasa tidak tuntas setelah BAB. Selain itu sembelit juga dapat disertai adanya gejala lain seperti nyeri perut seperti melilit, begah, hingga rasa keram pada perut. Hal ini dapat terjadi karena pergerakan usus yang tidak lancar dan membuat adanya obstruksi atau hambatan di saluran cerna.

Sembelit umumnya terjadi karena pola makan rendah serat, kurangnya konsusi cairan, kebiasaan menahan BAB, dan kurangnya aktivitas fisik. Selain beberapa faktor tersebut, pada lansia sembelit juga dapat terjadi karena kaitannya dengan gangguan metabolik, penyakit saraf, atau efek samping obat-obatan tertentu (misal obat-obatan golongan opioid seperti Morfin).

Tanda bahaya sembelit yang perlu diwaspadai antara lain:

Kondisi tersebut dapat menandakan adanya sumbatan mekanik di usus, seperti tumor pada saluran cerna, striktur/penyempitan saluran cerna, atau adanya gangguan motilitas usus. Jika ada beberapa tanda bahaya tersebut, perlu dilakukan penegakkan diagnosis dan pemberian tata laksana segera.

Dampak dan Pentingnya Deteksi Dini

Baik diare maupun sembelit dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Gangguan tidur, penurunan produktivitas, serta stres psikologis merupakan beberapa dampak yang dapat terjadi pada kondisi ini, terutama bila berlangsung kronis. Oleh karena itu, perubahan pola BAB tidak normal tidak seharusnya dianggap sebagai masalah ringan, melainkan sebagai indikator penting kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.

Pola hidup berperan besar dalam menjaga keteraturan BAB. Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur-sayuran, buah-buahan, konsumsi air putih yang cukup, aktivitas fisik teratur, serta menghilangkan kebiasaan menahan BAB akan membantu menjaga fungsi usus tetap optimal. Penggunaan obat-obatan tertentu seperti antibiotik, obat pereda nyeri, atau suplemen zat besi dapat memengaruhi pola BAB. Oleh karena itu, perubahan pola BAB yang muncul setelah penggunaan obat sebaiknya tidak diabaikan, karena bisa jadi merupakan efek samping obat atau tanda penyakit lain.

Pola BAB yang tidak normal merupakan sinyal penting dari tubuh yang perlu kita waspadai. Deteksi dini terhadap tanda bahaya diare dan sembelit sangat penting untuk penegakkan diagnosis segera, supaya terapi dan tata laksana yang sesuai dapat segera diberikan. Mengenali tanda bahaya pada diare serta sembelit dapat membantu mencapai kesehatan saluran pencernaan yang optimal.


Referensi:

  1. Sadler K, Arnold F, Dean S. Chronic Constipation in Adults. Am Fam Physician. 2022 Sep;106(3):299-306. PMID: 36126011.
  2. Gómez-Escudero O, Remes-Troche JM. Approach to the adult patient with chronic diarrhea: A literature review. Rev Gastroenterol Mex (Engl Ed). 2021 Oct-Dec;86(4):387-402. doi: 10.1016/j.rgmxen.2021.08.007. Epub 2021 Aug 11. PMID: 34389290.
  3. Rangan V, Singh P, Ballou S, Hassan R, Yu V, Katon J, Nee J, Iturrino J, Lembo A. Improvement in constipation and diarrhea is associated with improved abdominal pain in patients with functional bowel disorders. Neurogastroenterol Motil. 2022 Apr;34(4):e14253. doi: 10.1111/nmo.14253. Epub 2021 Sep 14. PMID: 34520617.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*