Dampak Kebiasaan Tidur Setelah Makan

Sumber gambar: freepik.com

Penulis: dr. Muhammad Firhat Idrus, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

 

Kebiasaan tidur setelah makan seringkali dilakukan oleh banyak orang, terutama setelah menyantap hidangan berat. Banyak orang yang merasa wajar jika mengantuk setelah makan dan memilih untuk langsung tidur atau sekedar berbaring untuk beristirahat, hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang sering dilakukan. Padahal di balik kebiasaan itu terdapat berbagai dampak negatif terhadap kesehatan yang harus diwaspadai.

Secara fisiologis, tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan yang telah dikonsumsi. Proses pencernaan melibatkan kerja lambung, usus halus, pankreas, hati, dan usus besar yang mengolah makanan menjadi bentuk nutrisi yang siap diserap oleh tubuh. Jika seseorang langsung tidur setelah makan, posisi tubuh yang berbaring dalam posisi tidak anatomis akan menggangu proses perjalanan makanan ke saluran cerna dan dapat menghambat proses pencernaan makanan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai gangguan pencernaan akut hingga kronis.

  1. Menimbulkan gejala gangguan pencernaan
    Kebiasaan tidur setelah makan berisiko menimbulkan gejala gangguan pencernaan yang mengganggu seperti perut kembung, mual, muntah, dan rasa tidak nyaman di perut atau di bagian ulu hati. Hal ini dapat terjadi karena adanya perlambatan gerak peristaltik usus akibat posisi tubuh yang lebih horizontal saat tidur, sehingga makanan tidak dapat dicerna secara optimal jika dibandingkan saat tubuh dalam kondisi duduk.
  2. Memicu refluks asam lambung (GERD)
    Salah satu penyakit paling sering yang terjadi jika langsung tidur sesudah makan adalah refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Ketika seseorang tidur dalam keadaan perut penuh, katup yang membatasi antara lambung dan kerongkongan dapat terbuka sehingga asam lambung yang dalam kondisi normal hanya berada di lambung saja, dapat naik ke kerongkongan dan menimbulkan beberapa gejala yang membuat tidak nyaman. Gejala yang dirasakan antara lain rasa panas di dada (heartburn), sendawa berulang, dan rasa perih atau panas saat menelan. Kondisi ini dapat menjadi penyakit kronis dan berdampak serius pada kesehatan jika dibiarkan terus-menerus.
  3. Memicu peningkatan berat badan
    Jika dilihat secara jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan atau obesitas. Ketika tubuh yang sudah kenyang berada dalam keadaan istirahat, proses metabolisme tubuh menjadi lebih lambat sehingga kalori yang dikonsumsi cenderung lebih banyak disimpan sebagai lemak dibandingkan dikonversi menjadi energi sebagaimana yang seharusnya. Jika hal ini dilakukan terus-menerus, akan meningkatkan risiko terjadinya peningkatan berat badan dan penyakit lain yang terkait seperti diabetes tipe 2 serta peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh (dislipidemia).
  4. Memengaruhi kualitas tidur
    Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, kebiasaan tidur setelah makan juga dapat memengaruhi kualitas tidur itu sendiri. Adanya rasa yang tidak nyaman di perut, rasa panas di dada, dan rasa mual, dapat membuat gelisah dan bahkan menyebabkan sulit tidur atau insomnia. Akibatnya, kualitas tidur menjadi turun dan tubuh menjadi terasa lebih lelah keesokan harinya.

 

Untuk mencegah hal-hal negatif tersebut, dianjurkan memberi jeda waktu minimal 2–3 jam antara waktu makan dan tidur. Dalam rentang waktu ini, sistem pencernaan mendapat kesempatan untuk bekerja secara optimal, dan tubuh juga siap untuk beristirahat tanpa gangguan pencernaan. Selain menunda waktu tidur, dianjurkan pula untuk melakukan aktiitas ringan setelah makan. Aktivitas ringan ini dapat membantu mempercepat proses pencernaan dan mencegah penumpukan gas di perut.

Meskipun tidur setelah makan terasa nyaman dan tampak biasa saja, namun kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang tidak baik untuk dilakukan dan menyimpan banyak risiko bagi kesehatan. Menghilangkan kebiasaan tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang, baik untuk sistem pencernaan, metabolisme tubuh, kualitas tidur, maupun kesehatan kita secara keseluruhan.


Referensi:

  1. St-Onge MP, Pizinger T, Kovtun K, RoyChoudhury A. Sleep and meal timing influence food intake and its hormonal regulation in healthy adults with overweight/obesity. Eur J Clin Nutr. 2019 Jul;72(Suppl 1):76-82. doi: 10.1038/s41430-018-0312-x. PMID: 30487565; PMCID: PMC6538463.
  2. Yan LM, Li HJ, Fan Q, Xue YD, Wang T. Chronobiological perspectives: Association between meal timing and sleep quality. PLoS One. 2024 Aug 1;19(8):e0308172. doi: 10.1371/journal.pone.0308172. PMID: 39088487; PMCID: PMC11293727.
  3. Wehrens SMT, Christou S, Isherwood C, Middleton B, Gibbs MA, Archer SN, Skene DJ, Johnston JD. Meal Timing Regulates the Human Circadian System. Curr Biol. 2017 Jun 19;27(12):1768-1775.e3. doi: 10.1016/j.cub.2017.04.059. Epub 2017 Jun 1. PMID: 28578930; PMCID: PMC5483233.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*