Waspadai GERD: Bukan Sekadar Asam Lambung Naik

Penulis: Prof. dr. H. Abdul Aziz Rani, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

GERD (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit refluks gastroesofageal merupakan kondisi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, secara berulang naik ke kerongkongan dan dalam jangka waktu lama (bersifat kronis). Banyak orang menganggap GERD hanya sebagai masalah “asam lambung naik” yang menyebabkan rasa tidak nyaman di dada atau tenggorokan. Padahal, kondisi ini dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan jika tidak ditangani dengan baik.

  1. Mekanisme

    Secara normal, terdapat katup yang disebut sfingter esofagus bawah di antara kerongkongan dan lambung. Katup ini berfungsi mencegah isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Namun pada penderita GERD katup tersebut melemah atau tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga asam lambung yang seharusnya berada di lambung menjadi mudah naik ke atas ke kerongkongan. Akibatnya, lapisan kerongkongan yang tidak dirancang untuk menahan cairan yang bersifat terlalu asam menjadi teriritasi, dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

  2. Gejala

    Gejala GERD yang paling umum adalah sensasi terbakar di dada (heartburn) dan rasa asam atau pahit di mulut akibat regurgitasi atau aliran balik asam lambung ke kerongkongan. Keluhan biasanya memburuk setelah makan atau pada saat membungkuk. Pada beberapa pasien, gejala juga dapat memburuk ketika berbaring, setelah mengonsumsi makanan berlemak, makan dalam porsi besar, atau mengonsumsi makanan pedas, bersantan, maupun terlalu asam. Namun, tidak semua penderita mengalami gejala yang sama. Sebagian orang hanya merasakan sensasi mengganjal di tenggorokan atau sering bersendawa.
    Menariknya, GERD juga dapat menimbulkan gejala di luar saluran cerna. Beberapa penderita mengalami batuk kronis, suara serak, radang tenggorokan berulang, hingga sensasi seperti ada lendir yang terus-menerus mengganggu tenggorokan. Karena gejalanya tidak khas, GERD sering disalahartikan sebagai infeksi saluran napas atau gejala alergi.

  3. Faktor Risiko

    Faktor risiko GERD cukup beragam, namun Sebagian besar dapat dikendalikan. Kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi makanan berlemak, makanan pedas, minuman berkafein, serta konsumsi alkohol dalam jumlah yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD.
    Selain itu, kebiasaan makan dalam porsi besar dalam sekali waktu atau langsung berbaring setelah makan juga dapat menjadi salah satu faktor risiko penyebab terjadinya GERD.

  4. Penegakkan Diagnosis

    Diagnosis GERD umumnya dapat ditegakkan berdasarkan gejala yang diperoleh melalui anamesis, pemeriksaan fisik, serta respons terhadap pengobatan yang diberikan. Namun, pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan seperti endoskopi saluran cerna atas untuk melihat kondisi kerongkongan dan lambung secara langsung apabila diperlukan.
    Pemeriksaan ini terutama penting bila terdapat gejala berat dan mengganggu seperti sulit menelan, muntah darah, ataupun penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau anemia.

  5. Tata laksana atau Pengobatan

    Penanganan GERD tidak hanya bergantung pada obat-obatan. Perubahan gaya hidup juga memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan GERD. Menurunkan berat badan pada individu dengan berat badan berlebih, menghindari makanan atau minuman pemicu, makan dalam porsi lebih kecil tetapi lebih sering, serta tidak berbaring setidaknya 2–3 jam setelah makan dapat membantu mengurangi frekuensi refluks. Mengangkat posisi kepala saat tidur juga sering dianjurkan pada pasien dengan keluhan GERD yang memberat pada malam hari.

  1. Komplikasi

    Meskipun sering dianggap sebagai penyakit ringan, GERD yang berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Paparan asam secara terus-menerus dapat menimbulkan peradangan pada kerongkongan (esofagitis), luka atau tukak pada lambung, hingga penyempitan kerongkongan akibat jaringan parut. Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan menelan dan menurunkan kualitas hidup penderita.

Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah Barrett’s esophagus, yaitu perubahan sel-sel lapisan kerongkongan akibat paparan asam kronis. Meskipun tidak semua penderita GERD akan mengalami kondisi ini, Barrett’s esophagus diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker kerongkongan pada sebagian kasus. Oleh karena itu, gejala yang menetap tidak boleh diabaikan.

 

Kesimpulan

GERD merupakan penyakit yang lebih kompleks daripada sekadar asam lambung naik sesaat. Mengenali gejala sejak dini dan memahami faktor risiko yang ada dapat membantu mencegah komplikasi jangka panjang. Apabila keluhan sering kambuh, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai tanda bahaya tertentu, kondisi tersebut perlu segera dikonsultasikan dengan dokter agar mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.


Referensi:

  1. Fox M, Gyawali CP. Dietary factors involved in GERD management. Best Pract Res Clin Gastroenterol. 2023 Feb-Mar;62-63:101826. doi: 10.1016/j.bpg.2023.101826. Epub 2023 Feb 17. PMID: 37094911.
  2. Dunbar KB. Gastroesophageal Reflux Disease. Ann Intern Med. 2024 Aug;177(8):ITC113-ITC128. doi: 10.7326/AITC202408200. Epub 2024 Aug 13. PMID: 39133924.
  3. Bertin L, Savarino V, Marabotto E, Ghisa M, de Bortoli N, Savarino EV. Pathophysiology of Gastroesophageal Reflux Disease. Digestion. 2026;107(2):185-201. doi: 10.1159/000547023. Epub 2025 Jun 25. PMID: 40562014; PMCID: PMC12279320.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*