Bagaimana Diet yang Tepat pada Penyakit Hati Kronik? (Bagian 2)

Sumber gambar: vogliadisalute.it

Penulis: dr. Syifa Mustika, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterohepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang – RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

   

Setelah di artikel sebelumnya (baca: Bagaimana Diet yang Tepat pada Penyakit Hati Kronik? (Bagian 1)) membahas fungsi liver dan tatalaksana diet pada penyakit hepatitis dan perlemakan hati, kini kita akan membahas mengenai tatalaksana diet pada penyakit sirosis hati.

Sirosis Hati

Sirosis merupakan kerusakan tahap akhir dari liver. Sirosis didefinisikan sebagai kerusakan secara lanjut yang tidak bisa diperbaiki dari sel liver yang aktif, yang merubah struktur pembuluh darah dan meningkatkan jaringan ikat. Perubahan ini menurunkan fungsi liver dan menyebabkan jaringan liver menjadi keras dan mengecil. Mengecilnya ukuran liver memengaruhi pembuluh darah yaitu menghalangi aliran darah dari usus melalui vena portal (hipertensi porta). Hal ini akan menyebabkan pelebarah pembuluh darah di esofagus (varises esofagus), penumpukan cairan di perut (asites), dan gangguan fungsi pencernaan. Komplikasi lain dari sirosis adalah malnutrisi, infeksi bakteri, hingga koma dan keganasan pada liver.

Penyebab paling sering dari sirosis adalah penggunaan alkohol yang berlebihan, infeksi virus (hepatitis), inflamasi kronis saluran empedu (cholangitis), dan Non-Alcoholic Steatohepatitis (NASH). Terdapat dua derajat keparahan sirosis, yaitu bentuk kompensasi dan tidak terkompensasi. Bentuk kompensasi yaitu fungsi liver yang masih baik sehingga tidak didapatkan asites dan gangguan pada otak (hepatic enchepalopathy). Biasanya penderita tidak mengalami keluhan tertentu. Sedangkan bentuk tidak terkompensasi yaitu akibat berkurangnya fungsi liver dan hipertensi portal, sehingga didapatkan tanda dan gejala seperti kekuningan pada kulit dan mata (icterus), asites, penumpukan cairan pada tangan dan kaki (edema), hilangnya massa otot, dan muntah darah karena pecahnya varises esofagus.

   

Diet pada Sirosis Hati

Pemberian diet pada pasien sirosis hati tergantung pada derajat keparahannya. Pada sirosis yang terkompensasi dan fungsi liver masih normal, tidak perlu diberikan diet yang berbeda. Pasien diberikan diet sehat dan sebaiknya dibagi menjadi enam porsi selama sehari serta menghindari konsumsi alkohol. Protein yang diberikan kurang lebih 1,2 g/kgBB. Pada sirosis yang tidak terkompensasi, penting untuk pasien mendapatkan nutrisi yang cukup. Diet yang tidak adekuat disebabkan oleh gejala sirosis sendiri seperti tidak nafsu makan, lemas dan mual. Pengurangan protein pada diet harus diperhatikan meskipun pada kondisi sirosis tidak terkompensasi.

  

Prinsip Diet Normal

Diet ini disebut juga diet yang menjaga organ. Diet ini ditujukan hanya untuk menghindari gejala seperti sensasi perut yang penuh, mual, kembung, dan diare yang dapat muncul setelah makan. Diet dapat disesuaikan dengan kondisi tiap individu. Tiap individu mungkin memiliki intoleransi terhadap makanan yang berbeda, sehingga hal pertama yang dapat dilakukan adalah menghindari makanan tersebut.

     

Indikasi Tatalaksana Diet

Tatalaksana dapat dimulai jika terdapat tanda malnutrisi seperti hilangnya massa otot, jaringan adiposa kulit, dan edema. Berat badan dan indeks massa tubuh tidak dapat dijadikan tolak ukur, karena hilangnya massa otot dan jaringan adiposa akan tertutupi oleh adanya edema.

Tabel Tatalaksana Diet pada Sirosis Hepatis

Tolak Ukur pada Tatalaksana DietSasaran Tatalaksana Diet
Memastikan asupan protein yang adekuatMencegah malnutrisi
Memastikan asupan energi yang adekuatMeningkatkan fungsi liver
Meningkatkan asupan seratMenghindari pemecahan protein tubuh sendiri
Mengurangi asupan sodiumMeningkatkan metabolisme protein dengan pemberian asam amino bercabang
Meningkatkan asupan potassiumTatalaksana asites dan edema dengan mengurangi sodium, pembatasan (restriksi) cairan dan pemberian potassium
Restriksi cairan

   

Kebutuhan Energi
Keadaan malnutrisi akan melemahkan sistem imun. Malnutrisi dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara meningkatnya kebutuhan energi dan asupan energi yang tidak adekuat. Untuk menghitung kebutuhan energi dapat menggunakan rumus berikut:

Berat normal (tinggi dalam cm – 100) X 35 = kebutuhan energi dalam kalori per hari

Contoh : Jika terdapat pasien dengan tinggi 174 cm, berapa kebutuhan energi dalam kalorinya per hari?
(174 – 100) x 35 = 2590 kcal/hari
Sehingga, pasien dengan tinggi 174 cm memerlukan sebanyak 2590 kcal/hari. Jumlah energi ini mencegah pemecahan substansi tubuh seperti otot untuk digunakan sebagai sumber energi protein. Pemecahan substansi tubuh akan meningkatkan konsentrasi amonia yang dapat menyebabkan hepatic enchepalopathy.

    

Protein
Asupan protein yang dibutuhkan bergantung pada derajat keparahan sirosis hati:

1,2 g/KgBB/hari pada sirosis terkompensasi
1,5 g/KgBB/hari pada sirosis tidak terkompensasi

Pemberian protein pada pasien sirosis masih sering menjadi perdebatan karena beberapa pengalaman dalam pemberian protein yang adekuat menyebabkan hepatic enchepalopathy. Kejadian ini terjadi pada sebagian kecil kasus.

Selain jumlah, kualitas protein juga penting. Terdapat dua jenis protein yaitu well-tolerated dan poor-tolerated. Protein ini memiliki struktur kimia dan efek yang berbeda pada otak. Contohnya, 1 gr protein darah lebih bisa mencetuskan hepatic enchepalopathy dibanding 1 gr protein dari sayuran. Contoh protein darah adalah jika varises esofagus pecah, darah akan tercerna dengan makanan dan terserap di usus. Hal ini akan berakibat pada pemecahan amonia dan ketidakseimbangan elektrolit.

Pasien sirosis kekurangan branched-chain amino acids (BCAA) dan kelebihan aromatic amino acids (AAA). Apakah itu BCAA dan AAA?

Tabel Perbedaan BCAA dan AAA

BCAAAAA
Metabolisme• Tidak tergantung fungsi liver
• Berguna untuk detoksifikasi
• Predominan pada otot
• Bergantung dengan fungsi liver
• Predominan pada liver
Konsentrasi di darah pada pasien sirosisMenurunMeningkat
Pada EnchepalopathyBergunaTidak baik
ContohSusu, olahan susu, sayuranIkan, daging, telur, darah
Kebutuhan BCAA: 0,2 g/Kgbb/hari
Atau
Kebutuhan BCAA: Kebutuhan protein total – tolerated protein (0,8xBB*)
*BB = berat badan
Sumber gambar: HCV-trials.com

Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama dari energi tubuh. Satu gram karbohidrat = 4 kkal. Makanan yang merupakan sumber karbohidrat adalah gula, makanan manis, buah, roti, makanan yang dibuat dari tepung, kentang, susu, sayuran.

Serat
Serat membantu pencernaan, memperlambat kenaikan gula darah dan menurunkan level kolesterol. Pada pasien sirosis, serat mengikat toksin pada usus dan menurunkan jumlah toksin yang dibuat sehingga bahaya hepatic enchelopathy menurun. Konsumsi serat yang tinggi harus disertai konsumsi cairan yang tinggi juga karena serat perlu menyerap air. Contoh makanan yang mengandung tinggi serat, yaitu buah, sayur, kentang, dan nasi merah.

Laktulosa
Laktulosa merupakan disakarida buatan yang terbuat dari fruktosa dan galaktosa. Laktulosa bekerja di usus besar, yang akan dipecah menjadi asam asetat dan asam laktat oleh bakteri. Hal ini akan menurunkan pencernaan bakteri oleh protein sehingga produksi dan penyerapan amonia dan toksin lain akan turun, sehingga menurunkan risiko hepatic enchepalopathy dan infeksi. Dosis pemberian laktulosa biasanya 15 – 50 ml 3x sehari.

Lemak
Lemak merupakan sumber energi tertinggi dengan 1 gr lemak = 9 kcal. Lemak tidak meningkatkan tingkat toksin amonia pada hepatic enchepalopathy. Rendahnya lemak akan berpengaruh pada metabolsime vitamin A, D, E, dan K. Pada kasus steatorrhea (kelebihan lemak pada feses), digunakan lemak khusus yaitu MCT (Medium Chain Tryglicerides). MCT dapat dicerna tanpa adanya asam empedu. MCT merupakan lemak yang tidak bisa didapatkan dari dalam tubuh sehingga butuh asupan dari luar.

Mineral, Vitamin, Air
Diet mineral terdiri dari sodium dan potassium.

Sodium
Pada edema dan asites, restriksi sodium menjadi dasar tatalaksana. Pada diet rendah sodium dibagi menjadi 3 kelas:
• Strict low sodium diet (1 g garam meja per hari)
   Digunakan pada periode yang pendek dan bisa mengurangi sampai
   dengan 500ml cairan edema per hari.
• Low sodium diet (3 g garam meja per hari)
   Diet ini dapat digunakan di rumah pada jangka waktu yang panjang.
   Digunakan juga untuk pasien dengan edema.
• Sodium-reduced diet (6 g garam meja per hari)

Potassium
Penggunaan diet potassium digunakan untuk pasien yang menggunakan obat diuretik untuk mengurangi kelebihan cairan, karena defisiensi potassium dapat muncul. Contoh makanan tinggi potassium yaitu sayuran (kentang, tomat, bayam, rempah, jamur) dan buah (alpukat, apricot, pisang, jus buah dan buah yang dikeringkan)

Vitamin
Pasien sirosis sering mengalami defisiensi mineral (zinc, besi, kalsium, potassium) dan vitamin (A, D, E, K, asam folat, B1, B2, B6, B12) sehingga harus diberikan suplemen tambahan.

Air
Restriksi air minum hanya dibutuhkan jika kadar sodium di darah terlalu rendah karena asites ataupun edema. Jumlah yang dikonsumsi harus dikurangi hingga 500-1000 cc/hari.

Diet halus
Diet halus diberikan untuk mencegah pecahnya varises esophagus. Selain konsistensi, temperatur dan agresivitas (tingkat keasaman atau pedas) harus juga diperhatikan. Diet yang diberikan biasanya dalam bentuk kecil, mudah dikunyah dan halus.

   

Tidak ada pembatasan yang pasti dalam diet untuk pasien dengan penyakit liver. Diet yang dilakukan pada dasarnya adalah diet sehat dan seimbang, serta hal yang harus dihindari pada seluruh pasien dengan kelainan liver adalah konsumsi alkohol. Pasien dengan gangguan liver tahap akhir cenderung progresif dengan adanya malnutrisi yang bisa diperbaiki dengan tolak ukur berikut:

• Asupan kalori yang adekuat (35kkal/ kgBB/ hari)
• Asupan protein yang adekuat (1.2 – 1.5 g/kgBB/hari)
• Asupan serat yang cukup
• Olahraga secara rutin untuk menjaga massa otot
• Penambahan suplemen
• Penambahan branched-chain amino acids

Selain itu, perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat juga penting dan membutuhkan motivasi serta kerjasama yang baik antara pasien, lingkungan, dan tenaga kesehatan.

   

Sumber:
European Association for the Study of the Liver. 2018. EASL Clinical Practice Guidelines on Nutrition in Chronic Liver Disease. Journal of Hepatology 2018 Aug 22. pii: S0168-8278(18)32177-9. doi: 10.1016/j.jhep.2018.06.024

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*