Penulis: dr. Rabbinu Rangga Pribadi, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Di balik tubuh manusia yang tampak bersih dan terjaga higienitasnya, terdapat jutaan mikroba kecil yang hidup berdampingan dengan manusia setiap harinya. Kumpulan mikroba yang meliputi bakteri, virus, dan jamur, membentuk microbiome. Mikroba tersebut berada di berbagai tempat dalam tubuh seperti di saluran pencernaan, saluran pernafasan, kulit tubuh, sistem reproduksi, dan organ tubuh lainnya. Sekilas, terdengar sebagai sesuatu yang menakutkan namun ternyata sebagian besar dari mikroba ini sebenarnya memberikan manfaat besar bagi kesehatan manusia.
Microbiome mulai terbentuk sejak manusia lahir, bahkan bisa jadi sudah terbentuk saat masih dalam kandungan. cara kelahiran seseorang, baik secara normal maupun melalui operasi caesar, juga dapat memengaruhi komposisi awal mikroba dalam tubuh. Selain itu, pola makan, gaya hidup, kondisi lingkungan, dan penggunaan obat-obatan antibiotik, juga sangat memengaruhi perkembangan dan keragaman microbiome seorang individu. Semakin beragam microbiome yang dimiliki, semakin baik pula kemampuannya dalam menjaga imunitas dan kesehatan tubuh.
Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Usus yang Perlu Diperhatikan
Peran Microbiome
Microbiome berperan sangat penting dalam sistem pencernaan manusia. Adanya mikroba di usus membantu dalam mencerna zat makanan yang tidak bisa diurai oleh enzim pencernaan dan mengubahnya menjadi zat yang dapat diserap oleh tubuh. Contohnya seperti pembentukan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA), seperti asetat, propionat, dan butirat yang dapat membantu memperkuat dinding barrier mukosa usus, mengurangi peradangan, dan membantu metabolisme tubuh.
Selain pada sistem pencernaan, microbiome juga memainkan peran kunci dalam sistem kekebalan tubuh. Mikroba baik melatih sistem imun untuk membedakan antara mikroorganisme berbahaya dan tidak berbahaya, serta mencegah pertumbuhan mikroorganisme patogen yang berpotensi menimbulkan penyakit pada tubuh manusia. Mereka bersaing dengan mikroorganisme patogen tersebut untuk mendapatkan tempat hidup dan nutrisi, dan menciptakan sistem kekebalan tubuh alami yang menjaga tubuh tetap dalam kondisi sehat.
Keseimbangan microbiome juga berperan dalam terhadap kesehatan mental dan pikiran. Adanya hubungan antara mikroba usus dan otak, yang dikenal sebagai brain-gut axis, menjelaskan bagaimana kondisi sistem pencernaan yang baik akan membuat kinerja otak lebih baik juga. Mikroba usus dapat menghasilkan neurotransmiter seperti serotonin, yang memengaruhi suasana hati dan fungsi kognitif, yang membuat sesesorang berada dalam kondisi mental yang lebih optimal. Ketidakseimbangan microbiome bahkan dikaitkan dengan gangguan-gangguan yang tidak diinginkan seperti depresi, gangguan kecemasan, dan autisme.
Baca Juga: The Gut-Microbiota-Brain Axis: Hubungan Timbal Balik Otak dan Mikrobiota Usus
Hal yang Perlu Dilakukan dan Dihindari
Untuk menjaga kesehatan microbiome, penting untuk menjaga pola hidup sehat, menjaga pola makan, dan memperhatikan konsumsi makanan sehari-hari. Mengonsumsi makanan yang mendukung pertumbuhan mikroba baik, seperti makanan tinggi serat, prebiotik, dan probiotik terbukti dapat membantu menjaga keseimbangan microbiome dalam tubuh. Prebiotik adalah makanan bagi mikroba, biasanya berupa serat yang tidak dapat dicerna tubuh, seperti yang terdapat dalam pisang, bawang, dan asparagus. Sementara itu, probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bisa didapatkan dari makanan yang difermentasi seperti yogurt dan tempe.
Baca Juga: Apa Perbedaan dan Manfaat Probiotik, Prebiotik, dan Sinbiotik?
Namun keseimbangan microbiome juga mudah terganggu. Penggunaan antibiotik yang berlebihan, diet tinggi gula dan lemak, stres kronis, dan kurangnya waktu tidur dapat membuat jumlah mikroba baik dalam tubuh menurun dan memberi kesempatan bagi mikroba jahat untuk berkembang. Ketidakseimbangan yang disebut dysbiosis ini terkait dapat mengganggu fisiologis tubuh dan dapat memicu timbulnya berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit autoimun, dan kanker.
Selain menjaga asupan makanan, memastikan istirahat cukup dan menjaga pola hidup sehat juga penting dalam menjaga keseimbangan microbiome. Berolahraga secara teratur, tidur cukup, mengelola stres, dan menghindari penggunaan antibiotik tanpa indikasi medis juga perlu dilakukan. Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita bisa menjaga keseimbangan microbiome dalam tubuh.
Referensi:
- Manos J. The human microbiome in disease and pathology. APMIS. 2022 Dec;130(12):690-705. doi: 10.1111/apm.13225. Epub 2022 May 6. PMID: 35393656; PMCID: PMC9790345.
- Patangia DV, Anthony Ryan C, Dempsey E, Paul Ross R, Stanton C. Impact of antibiotics on the human microbiome and consequences for host health. Microbiologyopen. 2022 Feb;11(1):e1260. doi: 10.1002/mbo3.1260. PMID: 35212478; PMCID: PMC8756738.
- Mayer EA, Nance K, Chen S. The Gut-Brain Axis. Annu Rev Med. 2022 Jan 27;73:439-453. doi: 10.1146/annurev-med-042320-014032. Epub 2021 Oct 20. PMID: 34669431.

Leave a Reply