Bagaimana Pengaruh Konsumsi Makanan Pedas terhadap Kesehatan dan Penyakit Saluran Cerna?

Makanan pedas dan keluhan pada saluran cerna

Makanan pedas memiliki reseptor nyeri pada dinding saluran cerna. Reseptor ini dapat ditemukan baik pada saluran cerna yang normal maupun yang tidak. Jika seseorang memiliki jumlah reseptor yang lebih banyak, maka orang tersebut juga akan lebih sensitif terhadap timbulnya rasa nyeri panas terbakar ketika mengonsumsi makanan pedas. Namun, penelitian menunjukkan konsumsi makanan pedas yang terus-menerus dan jangka panjang dapat mengurangi sensitivitas reseptor nyeri pada saluran cerna terhadap makanan pedas sehingga keluhan nyeri panas terbakar terasa berkurang.

Pada seseorang yang sedang mengalami sakit maag/ dispepsia, atau memiliki riwayat penyakit pada saluran cerna seperti refluks asam lambung (GERD) dan sindroma iritasi usus besar (IBS), mengonsumsi makanan pedas malah akan memperburuk keluhan nyeri perut yang dirasakan. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan pedas sebaiknya dihindari bagi orang yang memiliki penyakit tersebut.

.

Baca juga:Bubuk Cabai: Ketahui Berbagai Dampak dan Manfaatnya bagi Saluran Cerna

.

Makanan pedas dengan fisura ani

Fisura ani adalah luka atau robekan pada anus yang dapat disebabkan karena cedera akibat buang air besar (BAB) keras atau diare. Studi menunjukkan bahwa konsumsi cabai merah dapat meningkatkan gejala fisura ani dengan peningkatan rasa nyeri, panas terbakar pada anus dan timbul rasa semakin tidak nyaman saat BAB.

.

Makanan pedas dan pergerakan usus

Capsaicin yang terkandung dalam makanan pedas dapat menyebabkan peningkatan dari penumpukkan gas/ cairan di usus bagian atas dan meningkatkan dorongan serta kontrasi dari saluran cerna bagian bawah yang akhirnya menyebabkan rangsangan ingin BAB. Sehingga pada orang yang sedang mengalami diare dan iritasi usus besar, makanan pedas sebaiknya dihindari.

.

Dari artikel ini, dapat kita simpulkan bahwa makanan pedas tidak selalu berbahaya bagi tubuh kita, tergantung dari jumlah dan seberapa lama paparannya terhadap saluran cerna. Namun perlu diingat, jika Anda sedang mengalami dispepsia, diare, memiliki riwayat refluks asam lambung, sindroma iritasi usus besar, dan terlalu sensitif terhadap makanan pedas tentu menjadi pertimbangan Anda untuk menghindari konsumsi makanan yang pedas. Bijaklah dalam mengonsumsi cabai.

.


Referensi
Anand, P., & Bley, K. (2011). Topical capsaicin for pain management: therapeutic potential and mechanisms of action of the new high-concentration capsaicin 8% patch. British journal of anaesthesia, 107(4), 490–502.

Gonlachanvit S. (2010). Are rice and spicy diet good for functional gastrointestinal disorders?. Journal of neurogastroenterology and motility, 16(2), 131–138.

Gupta, P. J. (2008). Consumption of red-hot chili pepper increases symptoms in patients with acute anal fissures.A prospective, randomized, placebo-controlled, double blind, crossover trial. Arquivos de Gastroenterologia, 45(2), 124–127. 

Kang C, Zhang Y, Zhu X, Liu K, Wang X, Chen M, Wang J, Chen H, Hui S, Huang L, Zhang Q, Zhu J, Wang B, Mi M. (2016). Healthy Subjects Differentially Respond to Dietary Capsaicin Correlating with Specific Gut Enterotypes. J Clin Endocrinol Metab, 101(12):4681-4689.

Lee, I. O., Lee, K. H., Pyo, J. H., Kim, J. H., Choi, Y. J., & Lee, Y. C. (2007). Anti-inflammatory Effect of Capsaicin in Helicobacter pylori-Infected Gastric Epithelial Cells. Helicobacter, 12(5), 510–517. 

Luo L, Yan J, Wang X, Sun Z. (2021). The correlation between chili pepper consumption and gastric cancer risk: A meta-analysis. Asia Pac J Clin Nutr, 30(1):130-139.

Pabalan, N., Jarjanazi, H., & Ozcelik, H. (2014). The Impact of Capsaicin Intake on Risk of Developing Gastric Cancers: A Meta-Analysis. Journal of Gastrointestinal Cancer, 45(3), 334–341. doi:10.1007/s12029-014-9610-2 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*