Penulis: Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.PD, K-GEH, FACG, FASGE
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Polip usus merupakan pertumbuhan jaringan abnormal yang muncul pada permukaan bagian dalam usus besar atau rektum. Sebagian besar polip ini bersifat jinak dan tidak berarti bahwa seseorang mengalami kanker. Namun, pada beberapa kasus tertentu kondisi ini perlu mendapat perhatian karena beberapa jenis polip, terutama adenoma dan beberapa lesi serrated tertentu, dapat berkembang menjadi kanker kolorektal melalui proses yang berlangsung kronis selama bertahun-tahun. Karena itu, mengenali polip usus menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mencegah kanker kolorektal.
Polip usus umumnya tidak menimbulkan gejala, terutama ketika ukurannya masih kecil. Banyak orang baru mengetahui keberadaannya ketika menjalani pemeriksaan kolonoskopi untuk skrining atau karena alasan medis lainnya. Pada sebagian kasus, polip dapat menyebabkan perdarahan dari anus yang terlihat sebagai darah pada tinja, perubahan pola buang air besar, atau anemia akibat perdarahan yang berlangsung perlahan dalam waktu lama. Meskipun gejala tersebut tidak selalu menunjukkan kanker, keluhan yang menetap tetap perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya.
Tidak semua polip memiliki risiko keganasan yang sama. Secara umum, polip dapat dibedakan berdasarkan karakteristik jaringan dan bentuknya, termasuk polip hiperplastik, adenoma tubular, tubulovillous, villous, serta lesi serrated. Risiko berkembang menjadi kanker dipengaruhi oleh jenis polip, ukuran, jumlah, serta adanya perubahan sel yang disebut displasia. Polip berukuran lebih besar, memiliki komponen villous, atau menunjukkan displasia tingkat tinggi umumnya memiliki risiko lebih besar sehingga membutuhkan pemantauan yang lebih ketat.
Mekanisme patologis
Proses perubahan polip menjadi kanker biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada jalur adenoma-karsinoma, perubahan genetik dan molekuler dapat menyebabkan sel mukosa usus tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali. Seiring waktu, sebagian polip dapat mengalami perubahan lebih lanjut hingga menjadi kanker invasif. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa tahun, sehingga memberikan peluang penting untuk melakukan deteksi dan pengangkatan lesi sebelum berkembang menjadi keganasan.
Pemeriksaan diagnostik
Kolonoskopi merupakan salah satu pemeriksaan utama untuk mendeteksi polip usus. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat melihat seluruh bagian kolon dan rektum sekaligus mengambil atau mengangkat polip yang ditemukan. Jaringan yang diangkat kemudian diperiksa secara histopatologi untuk menentukan jenis polip dan karakteristiknya. Kemampuan kolonoskopi untuk mendeteksi sekaligus mengangkat lesi membuat prosedur ini memiliki peran penting dalam pencegahan kanker kolorektal.
Selain kolonoskopi, terdapat metode skrining lain seperti pemeriksaan darah samar pada tinja dan pemeriksaan tinja berbasis imunokimia. Pemeriksaan tersebut dapat membantu menemukan tanda perdarahan yang tidak terlihat secara kasatmata. Jika hasil skrining menunjukkan kelainan, pemeriksaan lanjutan dengan kolonoskopi biasanya diperlukan. Pemilihan metode skrining dapat disesuaikan dengan usia, risiko individu, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, serta ketersediaan fasilitas kesehatan.
Faktor risiko
Risiko munculnya polip dan kanker kolorektal dapat meningkat seiring bertambahnya usia. Faktor lain yang perlu diperhatikan antara lain riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau polip berisiko tinggi, penyakit radang usus tertentu, pola makan rendah serat dan tinggi daging olahan, kurang aktivitas fisik, obesitas, merokok, serta konsumsi alkohol. Tidak semua faktor risiko dapat dihindari, tetapi sebagian dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup dan pemeriksaan kesehatan secara teratur.
Pencegahan dan tata laksana
Pencegahan tidak hanya dilakukan dengan skrining, tetapi juga melalui pola hidup sehat. Konsumsi makanan kaya serat dari sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan usus. Aktivitas fisik secara rutin, menjaga berat badan tetap sehat, tidak merokok, serta membatasi konsumsi alkohol juga penting. Meskipun gaya hidup sehat tidak dapat menghilangkan seluruh risiko kanker kolorektal, langkah tersebut dapat membantu menurunkan risiko dan mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Setelah polip ditemukan dan diangkat, bukan berarti pemeriksaan selanjutnya tidak lagi diperlukan. Beberapa orang memiliki risiko mengalami polip kembali sehingga membutuhkan kolonoskopi pengawasan. Interval pemeriksaan berikutnya ditentukan berdasarkan jumlah, ukuran, jenis histologi, dan karakteristik polip yang ditemukan pada pemeriksaan sebelumnya. Oleh karena itu, hasil kolonoskopi dan pemeriksaan patologi perlu disimpan dan dikonsultasikan kembali kepada dokter untuk menentukan jadwal pemantauan yang sesuai.
Polip usus dapat dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan pencegahan sebelum kanker berkembang. Karena sebagian besar polip tidak menimbulkan gejala, menunggu munculnya keluhan bukanlah strategi terbaik bagi individu yang sudah memasuki usia atau kelompok risiko untuk skrining. Deteksi dini melalui pemeriksaan yang tepat, pengangkatan polip, pemeriksaan histopatologi, serta pemantauan sesuai risiko merupakan rangkaian penting dalam menekan kejadian kanker kolorektal. Dengan mengenali polip sejak dini, langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi perubahan sel berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Referensi:
- Sullivan BA, Noujaim M, Roper J. Cause. Epidemiology, and Histology of Polyps and Pathways to Colorectal Cancer. Gastrointest Endosc Clin N Am. 2022 Apr;32(2):177-194. doi: 10.1016/j.giec.2021.12.001. Epub 2022 Feb 22. PMID: 35361330; PMCID: PMC9924026.
- Robert ME. The malignant colon polyp: diagnosis and therapeutic recommendations. Clin Gastroenterol Hepatol. 2007 Jun;5(6):662-7. doi: 10.1016/j.cgh.2007.04.001. PMID: 17544991.
- Hassan C, Bisschops R, Sharma P, Mori Y. Colon Cancer Screening, Surveillance, and Treatment: Novel Artificial Intelligence Driving Strategies in the Management of Colon Lesions. Gastroenterology. 2025 Aug;169(3):444-455. doi: 10.1053/j.gastro.2025.02.021. Epub 2025 Mar 5. PMID: 40054749.

Leave a Reply