Ritme Sikardianmu Terganggu? Seperti Ini Hubungannya dengan Saluran Cerna

Sumber gambar: freepik.com

Tahukah kamu apa itu ritme sirkadian? Ritme sirkadian adalah jam alami di dalam tubuh yang bekerja secara otomatis, berperan dalam mengatur proses penting sebagian besar fungsi sistem dan organ tubuh yang berbeda yang berlangsung pada siklus 24 jam atau siklus pagi – malam. Ritme sirkadian dapat memengaruhi siklus bangun – tidur, temperatur tubuh, denyut jantung, pelepasan hormon, kebiasaan makan, level gula dalam tubuh, sistem pencernaan, dan lainnya. Jam alami ini diatur dan dikoordinasikan oleh bagian otak yang disebut dengan Nukleus Suprakiasma pada Kelenjar Hipotalamus yang merespon cahaya dan sinyal gelap.

Adanya gangguan pada ritme sirkadian dapat memicu berbagai gangguan kondisi kesehatan seperti gangguan tidur, gangguan pada saluran pencernaan, obesitas, kencing manis, bahkan gangguan jiwa seperti depresi. Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi perubahan ritme sirkadian antara lain gaya hidup (kurang berolahraga, sering begadang), perubahan jam kerja (kerja shift), perubahan zona waktu atau biasa dikenal dengan jet lag, perubahan cahaya, perubahan musim, perubahan suhu, dan perubahan pola makan (diet tinggi lemak).

.

Hubungan ritme sirkadian dan saluran cerna

Ritme sirkadian memiliki hubungan yang erat dengan siklus bangun – tidur. Ritme sirkadian dan tidur memengaruhi fungsi hampir setiap sistem organ, termasuk saluran pencernaan. Ritme ini memiliki peran dalam mengatur kerja dan pertahanan saluran pencernaan. Berikut akan dibahas secara ringkas hubungan ritme sirkadian dengan saluran pencernaan.

Baca juga: Apakah Pola Tidur Memengaruhi Sistem Pencernaan atau Pola BAB Seseorang?

.

Mulut dan kerongkongan

Ritme sirkardian berpengaruh terhadap produksi air liur kita, dimana volume air liur yang dihasilkan lebih banyak pada siang hari dibandingkan pada malam hari. Gerakan mengunyah juga menurun selama kita sedang tidur. Tingkat menelan kita pun juga menurun dari sekitar 25 kali/jam saat kita terjaga menjadi sekitar 5 kali/jam selama tidur.

Gerakan menelan dapat menginisasi sebagian besar gerakan peristaltik kerongkongan atau gerakan mendorong makanan untuk masuk ke lambung. Ketika sedang tertidur gerakan mengunyah akan berkurang, sehingga akan menurunkan gerakan peristaltik kerongkongan dan menurunkan sfingter kerongkongan (klep yang mencegah naiknya isi lambung ke kerongkongan). Oleh karenanya, selama tidur kerongkongan kita akan lebih rentan terpapar oleh asam lambung dikarenakan menurunnya produksi air liur, menurunnya tingkat menelan, dan menurunnya gerakan peristaltik sehingga waktu kontak antara asam lambung dan lapisan kerongkongan lebih meningkat. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab seringnya penderita GERD atau refluks asam lambung mengeluhkan gejala panas pada dada terasa memberat saat malam dan dini hari.

.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*