Penulis: dr. Rabbinu Rangga Pribadi, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Kanker kolorektal selama ini dikenal sebagai penyakit yang lebih sering menyerang kelompok usia lanjut, terutama kelompok individu yang berusia di atas 50 tahun. Namun, dalam dua dekade terakhir, berbagai penelitian menunjukkan peningkatan kejadian kanker kolorektal pada usia muda, khususnya pada individu berusia di bawah 50 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian besar pasien muda tidak memiliki faktor risiko klasik. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih rendah.
Beberapa faktor yang diyakini menjadi penyebab meningkatnya kanker kolorektal pada usia muda antara lain sebagai berikut:
Genetik
Peningkatan kasus kanker kolorektal usia muda atau early-onset colorectal cancer (EOCRC) diduga dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan perubahan gaya hidup di era modern saat ini. Meskipun sekitar 20–30% kasus memiliki hubungan dengan riwayat keluarga atau sindrom genetik seperti Lynch Syndrome dan Familial Adenomatous Polyposis (FAP), sebagian besar pasien tidak memiliki kelainan genetik yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan perubahan gaya hidup juga diduga memiliki kontribusi besar terhadap meningkatnya kejadian kanker kolorektal pada usia muda.
Pola Makan Tidak Sehat
Pola makan yang tidak sehat menjadi salah satu faktor yang paling banyak dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker kolorektal. Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, daging merah dan daging olahan, makanan cepat saji, serta rendah serat dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus dan meningkatkan proses peradangan kronis.
Ketidakseimbangan mikrobiota usus antara bakteri baik dan bakteri patogen, atau yang dikenal sebagai disbiosis, diduga berperan dalam memicu peradangan kronis serta menghasilkan senyawa yang bersifat karsinogenik. Beberapa jenis bakteri, seperti Fusobacterium nucleatum, ditemukan lebih banyak pada jaringan kanker kolorektal dan diduga berkontribusi terhadap perkembangan tumor melalui mekanisme inflamasi dan gangguan sistem imun lokal.
Maka dari itu, konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, dan makanan kaya antioksidan dapat menjadi perlindungan alami pada tubuh terhadap kerusakan sel yang dapat berkembang menjadi kanker.
Obesitas dan Kurangnya Aktivitas Fisik
Selain pola makan, obesitas pada usia muda juga menjadi salah satu faktor yang berperan penting dalam meningkatkan risiko kanker kolorektal. Jaringan lemak yang berlebihan menghasilkan berbagai zat proinflamasi yang dapat merangsang pertumbuhan sel abnormal. Obesitas juga berkaitan dengan resistensi insulin dan peningkatan kadar insulin-like growth factor (IGF-1), yang diketahui dapat mempercepat pertumbuhan sel kanker. Seiring meningkatnya prevalensi obesitas pada usia produktif, angka kejadian kanker kolorektal juga menunjukkan tren peningkatan.
Kurangnya aktivitas fisik turut memperbesar risiko terjadinya kanker kolorektal. Gaya hidup sedentary yang ditandai dengan duduk dalam waktu lama, minim aktivitas fisik, serta tingginya asupan kalori membuat metabolisme tubuh menjadi kurang optimal. Aktivitas fisik secara rutin diketahui membantu mempercepat pergerakan usus, mengurangi waktu kontak zat karsinogen dengan dinding usus besar, serta memperbaiki sistem kekebalan tubuh sehingga mampu mengurangi risiko pembentukan sel kanker.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Sayangnya, diagnosis kanker kolorektal pada usia muda sering kali terlambat. Banyak pasien maupun tenaga kesehatan menganggap gejala seperti perdarahan saat buang air besar (BAB), perubahan pola buang air besar, nyeri perut, penurunan berat badan, atau anemia sebagai gejala penyakit yang lebih ringan, misalnya wasir atau gangguan pencernaan biasa. Akibatnya, pemeriksaan lanjutan seperti kolonoskopi sering kali tertunda hingga penyakit berkembang ke stadium yang lebih lanjut sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih rendah.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami buang air besar (BAB) berdarah, perubahan pola BAB yang berlangsung lebih dari dua minggu, nyeri perut yang menetap, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau anemia. Meskipun keluhan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kanker kolorektal, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat. Pemeriksaan sejak dini dapat meningkatkan peluang ditemukannya penyakit pada tahap awal, sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih efektif.
Skrining Kanker Kolorektal
Saat ini, berbagai organisasi kesehatan internasional telah menyesuaikan rekomendasi skrining kanker kolorektal. Pada individu dengan risiko rata-rata, skrining kini dianjurkan dimulai sejak usia 45 tahun. Sementara itu, mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolorektal, penyakit radang usus kronis, atau sindrom genetik tertentu disarankan menjalani skrining lebih awal sesuai tingkat risikonya. Kolonoskopi tetap menjadi metode pemeriksaan terbaik karena selain mampu mendeteksi kanker pada tahap dini, prosedur ini juga memungkinkan pengangkatan polip sebelum berkembang menjadi kanker.
Pencegahan
Pencegahan kanker kolorektal tidak hanya bergantung pada skrining, tetapi juga perubahan gaya hidup sehat. Mengonsumsi makanan tinggi serat, memperbanyak buah dan sayuran, membatasi konsumsi daging olahan, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, menghindari rokok, serta membatasi konsumsi alkohol terbukti dapat menurunkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Dengan mengenali faktor risiko, memahami gejala, menerapkan gaya hidup sehat, dan melakukan pemeriksaan sejak dini, kanker kolorektal memiliki peluang lebih besar untuk dideteksi pada tahap awal sehingga penanganannya dapat dilakukan secara lebih optimal.
Referensi:
- Abedizadeh R, Majidi F, Khorasani HR, Abedi H, Sabour D. Colorectal cancer: a comprehensive review of carcinogenesis, diagnosis, and novel strategies for classified treatments. Cancer Metastasis Rev. 2024 Jun;43(2):729-753. doi: 10.1007/s10555-023-10158-3. Epub 2023 Dec 19. PMID: 38112903.
- Sninsky JA, Shore BM, Lupu GV, Crockett SD. Risk Factors for Colorectal Polyps and Cancer. Gastrointest Endosc Clin N Am. 2022 Apr;32(2):195-213. doi: 10.1016/j.giec.2021.12.008. Epub 2022 Feb 22. PMID: 35361331.
- Sninsky JA, Shore BM, Lupu GV, Crockett SD. Risk Factors for Colorectal Polyps and Cancer. Gastrointest Endosc Clin N Am. 2022 Apr;32(2):195-213. doi: 10.1016/j.giec.2021.12.008. Epub 2022 Feb 22. PMID: 35361331.

Leave a Reply