Microbiome dan Microbiota, Serupa Tapi Tak Sama!

Sumber gambar: freepik.com

Penulis: dr. Saskia Aziza Nursyirwan, SpPD, K-GEH
Divisi Gastroenterologi, Pankreatobilier dan Endoskopi Saluran Cerna, KSM/ Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Istilah microbiome dan microbiota sering terdengar dalam dunia medis dan kesehatan pencernaan, terutama karena mulai banyaknya penelitian-penelitian yang mempublikasikan peran besar dan penting mikroorganisme terhadap kesehatan manusia secara umum. Meski terdengar mirip dan kerap digunakan secara bergantian, microbiome dan microbiota memiliki makna yang berbeda secara ilmiah.

Microbiota merupakan komunitas mikroorganisme hidup yang mendiami suatu lingkungan tertentu dalam tubuh, seperti di usus, kulit, mulut, atau saluran pernapasan. Mikroorganisme hidup ini mencakup bakteri, virus, jamur, archaea, dan bahkan protozoa. Setiap bagian tubuh manusia memiliki komunitas microbiota yang khas, dan variasinya bisa sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, diet, gaya hidup, dan lingkungan.

Sedangkan, microbiome lebih luas cakupannya karena meliputi tidak hanya pada mikroorganismenya, melainkan juga pada keseluruhan materi genetik yang mereka miliki serta interaksinya dengan lingkungan dan inangnya, yaitu manusia. Jadi, jika diberikan analogi bahwa microbiota adalah makhluk hidupnya, maka dalam hal ini microbiome adalah ekosistemnya, termasuk semua gen, metabolit, dan interaksi kompleks yang terjadi di dalamnya.

Contoh microbiome pada tubuh manusia yang paling kompleks serta berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia adalah pada usus manusia. Di dalamnya terdapat triliunan microbiota, dan semua materi genetik yang dibawa mikroorganisme tersebut serta produk metaboliknya dan dampaknya terhadap tubuh manusia membentuk microbiome yang sangat beragam dan memberikan dampak signifikan pada tubuh manusia. Dengan kata lain, microbiome memberikan gambaran secara keseluruhan mengenai kesehatan tubuh, bukan sekadar identitas microbiota pada tubuh.

Pemahaman ini menjadi penting karena microbiome berkaitan erat dengan kondisi fisiologis maupun patologis. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketidakseimbangan dalam microbiome di saluran pencernaan dapat berkontribusi pada berbagai penyakit metabolik seperti diabetes, obesitas, sindrom iritasi usus (IBS), hingga gangguan neurologis seperti Alzheimer. Oleh karena itu, fokus saat ini bergeser tidak hanya mengidentifikasi microbiota yang ada, tetapi juga memahami bagaimana fungsi genetik mereka memengaruhi kesehatan manusia.

Ketika berbicara tentang pengobatan berbasis microbiota, seperti probiotik atau transplantasi mikrobiota feses (fecal microbiota transplantation), penting untuk mempertimbangkan baik komposisi microbiota maupun keseimbangan fungsi microbiome. Tujuannya adalah tidak hanya mengembalikan jumlah microbiota baik, tetapi juga mengembalikan fungsi fisiologis pencernaan tubuh manusia ke keadaan yang normal melalui keseimbangan microbiome. Dalam konteks global, proyek seperti Human Microbiome Project (HMP) telah mendorong pemahaman baru tentang simbiosis antara manusia dan mikroorganisme. Kita kini tahu bahwa manusia bukanlah makhluk yang hidup sendiri, namun terdapat ekosistem dalam tubuh manusia yang berjalan bergantung pada miliaran microbiota yang tinggal bersamanya. Perubahan paradigma ini mengubah pendekatan medis dari yang sebelumnya berprinsip eradikasi mikroorganisme patogen, menjadi pemulihan ekosistem mikroba (microbiome) yang sehat.

Terakhir, menyamakan microbiome dan microbiota tidak sepenuhnya salah dalam penggunaan sehari-hari, tetapi dalam hal ilmiah dan penerapan ilmu klinis, pemisahan makna ini sangat penting. Pemahaman yang akurat akan membantu dalam komunikasi penelitian, diagnosis, dan terapi berbasis mikroba di masa depan.

Dengan demikian, walaupun microbiome dan microbiota seringkali dianggap sebagai hal yang sama dan terkait erat, namun secara definisi dan konsep, keduanya adalah hal yang berbeda. Memahami keduanya secara komprehensif akan menjadi dasar penting dalam era kedokteran yang semakin personal dan presisi, di mana mikroorganisme bukan lagi musuh utama, melainkan mitra sejati dalam menjaga kesehatan manusia.


Referensi:

  1. Manos J. The human microbiome in disease and pathology. APMIS. 2022 Dec;130(12):690 705. doi: 10.1111/apm.13225. Epub 2022 May 6. PMID: 35393656; PMCID: PMC9790345.
  2. El-Sayed A, Aleya L, Kamel M. Microbiota’s role in health and diseases. Environ Sci Pollut Res Int. 2021 Jul;28(28):36967-36983. doi: 10.1007/s11356-021-14593-z. Epub 2021 May 27. PMID: 34043164; PMCID: PMC8155182.
  3. Wilde J, Slack E, Foster KR. Host control of the microbiome: Mechanisms, evolution, and disease. Science.2024 Jul 19;385(6706):eadi3338. doi: 10.1126/science.adi3338. Epub 2024 Jul 19. PMID: 39024451.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*