Waspada Diare dan Penyakit Lainnya yang Dapat Terjadi Setelah Banjir

Sumber gambar: pixabay.com

Penulis: Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, K-GEH, FACP, FACG
Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

.

Penyakit setelah banjir (pascabanjir) adalah berbagai penyakit yang jumlah kasusnya akan meningkat setelah banjir dan musim penghujan. Secara umum peningkatan kasus penyakit ini didasarkan pada penyebaran 3 kelompok penyakit, yaitu penyebaran melalui makanan dan minuman, penyebaran melalui nyamuk, dan penyebaran melalui tikus. Anak-anak merupakan kelompok rentan yang mudah terkena penyakit setelah banjir. Hal ini dapat dilihat di lingkungan kita, terutama anak-anak yang ada dalam anggota keluarga, sekiranya telah berapa kali mereka mengalami gangguan kesehatan selama musim hujan dan banjir saat ini.

.

Apa saja penyakit yang dapat terjadi setelah banjir?

Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh tiga kelompok penyakit, antara lain:

  1. Penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman atau penyebaran secara fecal oral. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan, yaitu infeksi kolera, disentri, rotavirus, serta demam tifoid. Pasien dengan infeksi usus bisa datang dengan diare, muntah berak, mulas saat BAB, dan BAB berdarah. Diare juga menjadi kejadian luar biasa (KLB) pada banjir Jakarta beberapa tahun yang lalu
  2. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yaitu penyakit yang dibawa oleh vektor penyakit, seperti Demam Berdarah (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) yang dibawa melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti
  3. Penyakit yang ditularkan melalui tikus. Penyakit yang ditularkan melalui hewan dari ordo Rodentia (rodent borne disease) yaitu tikus merupakan penyakit yang juga sering dialami setelah banjir. Salah satu penyakit yang dapat timbul setelah bencana banjir adalah  leptospirosis yang dibawa melalui kencing dan kotoran tikus dalam genangan banjir. Apabila kita mengalami luka terbuka pada tangan, kaki, atau mulut, maka air yang sudah tercemar dengan kotoran tikus yang mengandung leptospirosis akan menularkan kita. Pasien dengan leptospirosis datang dengan keluhan demam tinggi mendadak, sakit kepala, mual muntah, lemas, nyeri otot terutuma otot betis, mata merah, serta timbul kuning pada mata dan kulit. Selain itu, warna urin pada buang air kecil (BAK) berubah seperti air teh. Sekilas pasien ini seperti pasien dengan infeksi hepatitis virus. Penyakit leptospirosis sangat berbahaya jika penyakit berlanjut dengan berbagai komplikasi, antara lain terjadi kerusakan ginjal, peradangan pankreas, liver, paru, dan otak.

.

Faktor apakah saja yang memengaruhi penyakit setelah banjir?

Terganggunya kesehatan akibat banjir terjadi karena adanya gangguan pada tiga faktor penting penyakit, yaitu faktor host, lingkungan, dan agen.

  1. Faktor daya tahan tubuh. Ketika banjir, masyarakat yang terkena banjir akan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Kondisi kebersihan lingkungan serta makanan dan minuman yang tidak memadai akan berpengaruh pada daya tahan tubuh para pengungsi. Selain itu, para pengungsi pun tidur dengan alas yang tidak memadai. Kondisi ini meningkatkan kerentanan para pengungsi terhadap penyakit-penyakit setelah banjir. Cuaca yang tidak mendukung saat ini juga dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang yang tidak terkena dampak langsung banjir
  2. Faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang dapat memperburuk kondisi masyarakat adalah faktor cuaca, yaitu hujan dan angin kencang yang masih melanda DKI Jakarta. Dampak buruk ini terutama dialami oleh bayi, anak-anak, dan orang tua. Belum lagi lingkungan sekitar banjir yang kotor dengan sampah bertebaran dimana-mana. Genangan air akan mengundang lalat dan kecoa, yang berpotensi mencemari makanan dan minuman kita jika lalat dan kecoa tersebut hinggap di makanan ataupun air yang akan kita konsumsi.
  3. Faktor bakteri. Faktor agen pembawa penyakit yang banyak dijumpai akibat bencana banjir adalah lalat, tikus, bakteri, dan kotoran yang menyebabkan tercemarnya air bersih. Tikus merupakan agen pembawa penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui kotoran dan kencing tikus yang bercampur dengan genangan banjir.

.

Apakah penyakit setelah banjir dapat dicegah?

Beberapa hal yang harus diantisipasi untuk mengatasi penyakit setelah banjir ini, diantaranya:

  1. Memerhatikan makanan yang dikonsumsi. Selalu pastikan makanan dan minuman yang kita konsumsi higienis, perhatikan kedaluwarsa dari makanan yang dikonsumsi baik makanan jadi maupun makanan yang dibuat sendiri, dan usahakan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan segar (fresh)
  2. Cuci tangan menggunakan sabun atau hand antiseptic, untuk menghindari infeksi usus. Anak-anak harus diajari untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun, serta orang dewasa pun harus memberi contoh kapan dan bagaimana mencuci tangan dengan baik
  3. Menjaga kebersihan lingkungan. Setelah bajir, segera bersihkan lokasi banjir dengan menggunakan antiseptik dan tetap memperhatikan pelindung diri bagi orang yang bertugas membersihkan kotoran, khususnya lumpur. Pelindung diri meliputi masker, sarung tangan, dan memakai sepatu boot. Hindari luka yang dapat berpotensi masuknya kuman ke dalam tubuh
  4. Konsumsi suplemen vitamin. Untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua sebaiknya diberikan suplemen yang berisi multivitamin dan mineral apabila terjadi keterbatasan makanan dan minuman dengan zat gizi yang lengkap akibat rumah dan lingkungan yang terkena banjir
  5. Sedia obat. Perlu stok obat-obatan sederhana, seperti obat penurun panas, obat anti diare, obat sakit kepala, dan oralit
  6. Anak-anak harus dicegah untuk tidak bermain-main di air banjir. Hal ini karena berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan maupun risiko terbawa arus atau tenggelam pada air banjir.

Tujuan dari tindakan-tindakan ini tentunya untuk mencegah agar kita semua terhindar dari penyakit setelah banjir yang sewaktu-waktu bisa mengenai siapa saja terutama anak-anak kita.

.

Salam sehat,
Ari Fahrial Syam
Akademisi dan Praktisi Klinis

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*