ERCP Solusi Batu Empedu Tanpa Operasi

http://frona.metrotvnews.com
http://frona.metrotvnews.com

Penulis : Yockie Dheafithraza, Apt.

Batu empedu merupakan partikel keras yang berkembang di dalam kantung empedu ataupun saluran empedu. Di Amerika, batu empedu diderita oleh 10 – 15% orang dewasa atau sekitar 20 – 25 juta warganya. Di asia sendiri kasus batu empedu berkisar antara 4.35% – 10.7%. Sedangkan di Indonesia sendiri datanya belum tersedia.

                Di Indonesia batu empedu lebih banyak disebabkan karena batu kolestrol yang penyebabnya merupakan lemak. Pola makan yang tinggi lemak dan gaya hidup mempengaruhi hal tersebut. Bayangkan saja di Indonesia makanan yang enak merupakan yang berlemak, benar tidak? Meskipun demikian, factor risiko dari batu empedu tidak hanya lemak saja. Factor risiko dari batu empedu biasanya di singkat menjadi 4F, yaitu Fat (lemak), Forty (Umur), Female (Wanita), dan Family (Genetik).

                Terjadinya Batu empedu yang terbentuk dari lemak karena ketidak seimbangan antara Garam empedu yang berfungsi untuk mencerna lemak dan kolesterol, dimana kolesterol lebih tinggi daripada garam empedu yang akhirnya menyebabkan kandung empedu jenuh. Kejenuhan batu empedu ini didukung dengan adanya protein musin yang memekatkan garam empedu tersebut menjadi massa yang lebih keras yang disebut batu kolesterol. Normalnya batu koleterol tersebut masih bisa dibuang ke usus 12 jari, namun karena sudah bertumpuk dan terakmulasi sehingga menyebabkan penyumbatan, hal itulah yang dinamakan batu empedu.

                Terapi batu empedu dibagi menjadi 2 macam, ada yang melalui obat-obatan dan/atau operasi. Terapi menggunakan obat-obatan dengan Asam Urso (UDCA) biasanya membutuhkan waktu selama 4-6 bulan dan itu hanya bisa untuk 4 batu dengan kuran masing-masing 20 mm. hal tersebut sangat mmbebankan kepada pasien dan tidak nyaman. Sedangkan operasi, meninggalkan bekas luka dan tidak semua orang berani dengan adanya operasi. Maka dari itu, diperlukan solusi untuk menangani batu empedu secara cepat dengan sedikit invasifitasnya terhadap pasien. Maka dari itu, muncullah metode yang cukup baru bernama ERCP (Endoscopy Retrograde Cholangiopancreatography).

                ERCP merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk organ kandung empedu dan pancreas. ERCP ditemukan pada tahun 1973 yang dahulu bernama Endoscopic Sphincterotomy (ES) dengan tujuan penggunaannya memang pada kandung empedu. Sekarang, sudah lebih 150.000 ERCP yang digunakan di Amerika. Untuk di Indonesia sendiri metode ini masih cenderung baru dan jarang digunakan, hanya beberapa rumah sakit besar di kota-kota besar yang menggunakannya. Selain karena investasi alat yang cukup besar, tenaga teknisnya pun masih jarang.

Jika dilihat dari sisi keberhasilan, ERCP memiliki keberhasilan 98% dalam menangani batu empedu. Hal ini menjadi secercah harapan dalam penanganan batu empedu. Prosedur ERCP sebarnya simple, dokter akan memasukan endoskopi (selang berkamera) melalui mulut menuju esophagus menuju lambung ke usus halus dan berbuara di kandung empedu. Setelah itu, dokter akan menginjeksikan cairan kontras ke dalam pancreas atau  kandung empedunya untuk dilihat di X ray. Penggunaan ERCP tidak lepas dari adanya komplikasi seperti Pankreatitis (inflamasi pada pancreas). Namun, hal tersebut dapat dihindari dengan pasien diminta berpuasa 6 jam sebelum ERCP. Bisa juga digunakan Somatostatin yang digunakan 30 menit sebelum ERCP untuk menonaktifkan hormone di pancreas sehingga tidak terjadi pankreatitis akut.

                Secara keseluruhan ERCP merupakan metode yang baik sebagai penanganan batu empedu, tidak memerlukan waktu yang lama dan sedikit invasive terhadap pasien, sehingga bisa dijadikan salah satu pilihan dalam penanganan batu empedu.

Sumber :

  1. 2018. Understanding ERCP. Avaiable online at https://www.asge.org/home/for-patients/patient-information/understanding-ercp (diakses pada 27 Agustus 2018)
  2. Carr-Locke, David. 2002. Therapeutic role of ERCP in the management of Suspected Common Bile Duct Stones. Gastrointestinal Endoscopy:Volume 56 NO 6.
  3. Ashton, Charles et al. 1998. Endoscopic retrograde cholangiopancreatography in elderly patients. British Geriatrics Society: 27: 683-688.
  4. Stinton LM, Shaffer EA. 2012. Epidemiology of Gallbaldder Diseases: Cholelithiasis and Cancer. Gut Liver.2012;6(2):172-87
  5. Berghofer A, et al. 2008. Obesity prevalence from a Europe perspective: a systematic review. BMC Public Health 2008; 8:200.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*