Bisakah Infeksi Tuberculosis Menyerang Saluran Cerna?

Bagaimana cara mendiagnosisnya?

Diagnosis TB saluran cerna termasuk cukup sulit dikarenakan gejala dan tanda klinis serupa dengan penyakit saluran cerna lainnya terutama IBD. Padahal sangat penting untuk kita membedakan keduanya, karena terapi IBD menggunakan obat-obat yang menekan sistem kekebalan tubuh dapat menyebabkan penyebaran TB lebih lanjut.

Pemeriksa dapat menduga adanya TB paru dari wawancara dan keterangan riwayat kesehatan pasien, lingkungan pasien, tanda dan gejala yang timbul. Namun, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti laboratorium darah, radiologis, endoskopi (teropong saluran cerna), biopsi, histologi (jaringan), dan mikrobiologi (bakteri) untuk mendukung diagnostik TB saluran cerna. Diagnosis pasti TB saluran cerna adalah apabila pada biopsi jaringan saluran cerna ditemukan granuloma dan/atau bakteri tahan asam. Beberapa literatur mengatakan bahwa pemeriksaan diagnostik yang direkomendasikan adalah endoskopi dan biopsi. Pasien dengan dugaan TB saluran cerna apabila berespon baik dengan terapi obat anti tuberkulosis (OAT) juga dapat menjadi metode penegakkan diagnosis TB saluran cerna.

Beberapa tahun terakhir, metode diagnostik baru seperti PCR Mycobacterium  tuberculosis dan interferon gamma release assay (IGRA) juga digunakan untuk mendiagnosis TB saluran cerna dan membedakan TB usus dengan IBD.

.

Baca juga: Sekilas mengenai Endoskopi Saluran Cerna: Apa itu Endoskopi, Risiko dan Persiapan Tindakan (1)

.

Bagaimana pengobatan TB saluran cerna?

Terapi untuk TB saluran cerna meliputi terapi OAT dan bedah. Tantangan dalam menegakkan diagnosis TB saluran cerna mengharuskan dokter untuk mempertimbangkan lebih cermat kapan terapi OAT dimulai. TB saluran cerna dapat disembuhkan dengan pemberiat OAT minimal 6 bulan hingga 9 bulan. Pasien TB harus meminum OAT sesuai jangka waktu anjuran dokter. Apabila pasien yang mendapat OAT menghentikan obat terlalu cepat, tidak rutin, atau tidak sesuai anjuran dokter, maka bakteri penyebab TB dapat aktif kembali dan menjadi resisten terhadap obat. Bakteri yang telah resisten akan membutuhkan pengobatan khusus dan lebih rumit. Oleh sebab itu, penyakit TB saluran cerna harus ditangani secara tepat dan disiplin. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resistensi obat, mencegah komplikasi, dan risiko yang mengancam jiwa.

Tindakan bedah dapat menjadi alternatif pilihan apabila terdapat komplikasi TB saluran cerna pada pasien, yaitu:

  • Muntah darah atau buang air besar berdarah berulang
  • Penyempitan atau striktur pada saluran cerna
  • Penyumbatan atau obstruksi saluran cerna
  • Kebocoran atau perforasi saluran cerna
  • Adanya saluran baru yang tidak normal di antara dua rongga tubuh yang semestinya terpisah atau fistula

.

Terdapat tantangan dalam mendiagnosis TB saluran cerna karena gambaran klinisnya yang tidak spesifik. Dibutuhkan kombinasi penilaian klinis, pemeriksaan fisik, dan penunjang untuk mengetahui adanya TB saluran cerna agar tatalaksana yang sesuai dapat segera diberikan. Pasien yang telah didiagnosis TB saluran cerna diberikan terapi OAT dan harus dikonsumsi dalam jangka waktu sesuai anjuran dokter agar pengobatan tuntas, pasien benar-benar sembuh, dan mencegah resistensi obat. Tindakan bedah dapat dipertimbangkan jika pasien mengalami komplikasi. Selain obat-obatan, pasien TB perlu menjalani gaya hidup sehat, makan-makanan bergizi, rutin berolahraga, dan mengelola stress untuk mendukung perawatannya.


Referensi
Chakinala RC, Khatri AM. 2022. Gastrointestinal Tuberculosis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing.

Debi U, Ravisankar V, Prasad KK, Sinha SK, Sharma AK. 2014. Abdominal tuberculosis of the gastrointestinal tract: revisited. World J Gastroenterol, 20(40):14831-40.

Murwaningrum A, Abdullah M, Makmun D. 2016. Diagnostic Approach and Treatment of Instestinal Tuberculosis. Jurnal penyakit dalam, 3(2): 165-173.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*